Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Banjir’ Category

Riwayat Banjir Jakarta

alwi.gifJakarta kini kembali dilanda banjir. Padahal curah hujan belum mencapai puncaknya. Baru sekitar Januari atau Februari mendatang. Di kedua bulan itulah biasanya curah hujan sangat tinggi. Apalagi bertepatan dengan tahun baru Cina alias Imlek. Bagi masyarakat Cina hujan di saat-saat Imlek diyakini akan membawa hokki  alias rezeki. Laksana air yang ngocor dari langit, begitu sebagian pendapat mereka. Tapi tentu saja mereka tidak mengharapkan banjir saat Imlek yang juga tidak pernah luput menimpa kawasan China Town. Sayangnya banjir tahun ini diperkirakan bakalan lebih luas karena daya serap air tanah semakin rendah dan penyempitan sungai semakin parah. Di samping pemanasan global.

Tidak hanya itu, para pengembang juga dituding sebagai salah satu penyebab. Bila diingat 80 persen daratan Jakarta sudah dipadati bangunan. Padahal dalam Rencana Induk Jakarta 1965 – 1985 ruang terbuka hijau sebagai taman kota seharusnya 60 persen. Dulu, daerah Kebayoran Baru dan Menteng semasa gubernur Ali Sadikin hanya diperuntukkan bagi perumahan. Dari kedua kawasan di Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat, para pemukimnya pergi bekerja keluar. Kini kedua daerah itu berdiri perkantoran dan berbagai pusat bisnisyang membludak. Dulu kawasan Kuningan, Setiabudi dan Kemang merupakan pusat bisnis susu. Ratusan warga Betawi dengan mengayuh sepeda pagi dan sore mengantarkan susu yang dikemas dalam botol ke pelanggan-anggannya di Menteng, Cikini dan Kebon Sirih. Sementara warga Betawi berduit memelihara puluhan sapi untuk diperah susunya.

Jakarta yang terletak di dataran rendah, sejak zaman Kerajaan Taruma Negara sering dilanda banjir. Peristiwa yang terjadi 15 abad lalu itu sempat terekam dalam Prasasti Tugu, di Jakarta Utara yang kini disimpan di Museum Sejarah Jakarta. Raja Purnawarman yang memimpin kerajaan ini, pernah menggali Kali Chandrabagha (Bekasi) dan Kali Gomati (Kali Mati di Tangerang) sepanjang 12 km untuk mengatasi banjir. Untuk menyukseskan proyek tersebut sang raja memotong seribu ekor sapi. Para sejarawan kemudian membuat perkiraan, bila satu ekor sapi dimakan 100 orang, maka penduduk yang ada di sekitar kawasan ini 15 abad lalu sudah ratusan ribu jiwa. Ketika melakukan penggalian tersebut, kebijakan permukiman disusun berdasarkan prinsip keseimbangan ekologi. Karena itu rawa-rawa di pedalaman boleh diuruk untuk permukiman. Tapi Sang Raja melarang rakyatnya untuk menguruk rawa-rawa di pantai, karena merupakan kawasan resepan air.

Sayangnya, ratusan hektar kawasan hutan lindung dan resepan air di Kapuk Muara dan Pantai Indah Kapuk, yang dulu dilindungi kini disulap jadi hutan beton. Ekologi Jakarta juga semakin rusak sejak dibukanya Pluit dan Muara Karang menjadi wilayah permukiman. Padahal, semula kedua daerah itu merupakan daerah resepan air. Tidak heran, kalau dalam banjir 2002 lalu jalan tol Cengkareng menjadi lumpuh karena banjir. Anehnya, para konglomerat yang tidak betah melihat lahan konservasi itu terpelihara, tidak merasa bersalah atas kecerobahan ini. Padahal, perumahan-perumahan mewah yang mereka bangun juga diterjang banjir. Kalau sekarang 80 persen daratan Jakarta sudah dipadati bangunan, jangan heran kalau jumlahnya akan terus bertambah jika masalah lingkungan dan penghijauan tidak diperhatikan.

Ketika terjadi banjir besar bulan Februari 2007, sejumlah warga yang berdiam di bantaran sungai menolak ketika mereka hendak dipindahkan ke rumah susun yang akan dibangun Pemda DKI. Mereka menganggap banjir yang sudah menjadi langganan hampir tiap tahun akhir menjadi hal biasa. Mungkin situasinya agak berbeda, ketika Bang Ali di masa lalu melakukan penertiban terhadap penduduk bantaran sungai di Banjir Kanal. Dia telah memindahkan sekitar tiga ribu rumah pada daerah sepanjang 2,4 km di kedua sisi kanal.

Di zaman Belanda, bukan tidak pernah terjadi banjir. Banjir paling besar terjadi di Batavia tahun 1872, yang menyebabkan sluisbrug (pintu air) di depan Istiqlal sekarang, jebol. Akibatnya Harmoni, Rijswijk (Jl Veteran) dan Noordwijk (Jl Juanda) tidak dapat dilalui kendaraan. Demikian juga Jl Hayam Wuruk dan Gajah Mada.

Banjir besar juga pernah terjadi di Jakarta pada 1932. Banjir yang terjadi pada 9 dan 10 Januari 1932 disebabkan oleh hujan yang turun selama dua hari dua malam dengan curah mencapai 150 mm. Akibat banjir ini mereka yang tinggal di Jl Sabang dan sekitarnya tidak bisa keluar rumah yang tergenang air. Banyak penduduk tinggal di atap-atap rumah menunggu air surut.

Dalam menangani banjir, pemerintah kolonial Belanda jauh lebih baik dari kita sekarang ini. Para lurah yang ketika itu disebut wijkmeester  atau bek menurut dialek Betawi ditugaskan agar betul-betul mengawasi kebersihan. Mereka yang kepergok membuang sampah di sungai akan langsung dihukum. Pemerintah Hindia Belanda juga mengeluarkan perintah agar semua kali buatan dan kanal di dalam kota Batavia dibersihkan dari penduduk yang tinggal di bantarannya.

Beberapa waktu kemudian pembersihan kali dan penggalian kanal makin diperluas hingga ke luar kota (ke arah selatan). Kontrak pelaksanaan kerja pembersihan bantaran kali dan penggalian kanal-kanal biasanya dikaitkan dengan pembuangan sampah.

Orang Belanda sangat gemar menggali kanal-kanal. Selain untuk mengingatkan mereka ke negara asalnya, kali-kali buatan ini juga dibangun karena pertimbangan ekonomis-komersial. Kali-kali itu kemudian dijadikan sarana utama bagi angkutan dagangan untuk memasok barang ke Batavia dari arah selatan. Seperti lalu lintas di daratan, sampan dan perahu yang melewatinya harus berhati-hati agar tidak menabrak orang-orang yang tengah mandi, mencuci, dan buang air besar. Waktu itu ada kali-kali buatan yang jadikan seperti jalan tol. Mereka yang melewati harus membayar ongkos.

Kalau Belanda bertindak tegas terhadap mereka yang tinggal di bantaran sungai, dan menghukum mereka yang membuang sampah di sungai, kenapa tindakan semacam ini tidak dilakukan. Kalau kita mau meredakan banjir, baik banjir kiriman maupun banjir setempat, upaya pemeliharaan sungai sangat diperlukan.

Read Full Post »

Sekarang mari kita susuri daerah selatan. Pada 1648 seorang kapten Cina, Tio Bing Ham, mendapatkan izin menggali kanal di selatan kota mulai dari gerbang baru (Nieuwpoort), Jakarta Kota, lurus ke selatan sampai Kali Krukut (Tanah Abang). Setelah diambil alih pada 1661, kanal ini diberi nama Molenvliet (di tengah-tengah Jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk).

Molenvliet berarti selokan molen (kincir). Selain untuk lalu lintas perahu dan menghanyutkan kayu dari hutan-hutan sekitarnya, kanal ini dipakai mengalirkan air yang menggerakkan molen-molen yang dibangun di sekitar kanal.

Untuk keperluan tersebut di sebelah selatan Noordwijk (kini Jl Juanda), Ciliwung dibendung dan airnya dialirkan ke dalam kanal yang digali pada 1654, lalu disalurkan ke Molenvliet. Agar air Ciliwung tetap mengalir, dibangun pula sebuah pintu air di ujung utara Molenvliet (Jl Gajah Mada-Hayam Wuruk), sehingga kincir penggergajian kayu, kincir pembuatan mesiu, penggilingan gandum, dan kincir lainnya dapat terus bergerak.

Penggalian kanal-kanal di luar kota (sebutan kala itu untuk kawasan Harmoni dan Molenvliet), penting artinya bagi perkembangan Batavia (Jakarta) pada periode-periode selanjutnya. Kecuali keadaan di dalam benteng, kebutuhan akan ruang-ruang yang lebih luas dan udara yang lebih segar mulai dirasakan penduduk kota. Sejak pertengahan abad ke-17 lingkungan di sekitar kota sudah lebih aman, baik dari ancaman binatang buas maupun gangguan dari perusuh yang biasa berkeliaran di sekitar kota. Di kanan kiri kanal-kanal yang digali itu muncul kebun-kebun dengan gubuk-gubuk kecil yang lama kelamaan berkembang menjadi tempat permukiman penduduk. Banyak juga jembatan yang dibangun di atas kanal-kanal yang beberapa di antaranya masih berdiri sampai sekarang ini.

Pada 1735 Julius Vinck membangun Pasar Tanah Abang dan Pasar Senen. Untuk memudahkan arus jual beli ia membuka jalan dan membangun jembatan yang menghubungkan kedua pasar itu melewati Kampung Lima (kini Jl Sabang), Simpang Senen sampai Kramat. Ketika Jacob Mossel menjadi gubernur jenderal (1751-1761), dia menggali terusan (kanal) mulai dari Ciliwung menuju terusan sepanjang Gunung Sahari, sehingga jalan masuk ke pasar menjadi lebih mudah. Demikian pula untuk menghubungkan vila mewahnya yang dibangun di tepi tikungan Ciliwung (kini RSPAD Gatot Subroto-Senen). Sedangkan terusan atau parit yang digali Gubernur Jenderal Mossel, sekarang bernama Kali Lio bersebelahan dengan Atrium Senen yang dibangun 1980-an. Kali Lio, yang dulu dilalui perahu-perahu pedagang, kini menjadi got besar.

Sebuah garis pertahanan yang dikenal dengan Defensie lijn Van den Bosch, yang dulunya merupakan parit (kanal) bertanggul rendah, menjulur dari titik di mana sekarang terdapat Stasiun Senen. Dari situ menuju Bungur Besar, kemudian membelok ke barat melalui Krekot-Sawah Besar-Gang Ketapang (Hasyim Asy’ari). Lalu parit ini menuju selatan melalui Petojo sampai sebelah barat Medan Merdeka. Kemudian ke Tanah Abang melalui Kebon Sirih-Jembatan Prapatan terus ke Jembatan Kramat (Kramat Bundar sekarang). Garis pertahanan van den Bosch kini menjadi jalan biasa seperti juga sejumlah kanal di Jakarta.

Kita kembali lagi ke kanal-kanal di kawasan Jakarta Kota. Masyarakat sekarang hanya mengetahui Pancoran di Glodok hanyalah pusat perdagangan dan perniagaan bergengsi di Jakarta. Pancoran dulunya merupakan kanal. Demikian pula kawasan perdagangan lain, yakni Pinangsia. Pemda DKI Jakarta beberapa waktu lalu melakukan penertiban para pedagang kaki lima di Pancoran, yang ternyata berjualan di area kanal. Sekarang, kanal ini coba difungsikan kembali.

Kalau kita menuju Jakarta Kota naik kereta api, di depan Stasiun Beos ada sebuah tempat bernama Jembatan Batu. Di batas tembok benteng Batavia ini, dulunya juga merupakan kanal. Masuk sedikit ke arah Jakarta Kota, kita akan mendapati kawasan Petak Baru dan Tongkangan yang kini merupakan jalan tol ke Bandara Cengkareng. Dulunya, kawasan ini juga kanal. Masih banyak lagi kanal yang dulu merupakan jalur sungai di kawasan kota. Belanda juga melakukan penyodetan terhadap kanal Molenvliet. Di sebelah barat menjadi kanal Pancoran dan di sebelah timur Pinangsia.

Tentu timbul pertanyaan, mengapa puluhan kanal ini sirna begitu saja di Jakarta? Gubernur Jenderal Herman Daendels (1809-1811) ketika itu telah mendapat perintah memindahkan pusat kota dari Pasar Ikan dan Kota ke Weltevreden (Monas, Lapangan Banteng, dan Gunung Sahari). Dengan alasan Batavia Lama sudah sangat tidak sehat hingga dapat julukan ‘kuburan orang Belanda’. Ketika memindahkan kota ke arah selatan ini, Daendels menghancurkan kastil dan hampir seluruh bangunan di Batavia Lama, hingga kanal-kanal menjadi rusak, berlumpur, dan air tergenang.

Pada 1920-an, Belanda ketika membangun kawasan Menteng mulai melakukan upaya-upaya untuk mengendalikan banjir –yang ada sejak zaman Tarumanegara (abad ke-6 M). Maka, mulailah dikerjakan saluran banjir yang kini lebih dikenal dengan istilah banjir kanal. Dengan demikian, Ciliwung dan Sungai Krukut dapat dikendalikan. Pengendalian banjir itu direncanakan Prof Ir van Breen.
 

Read Full Post »

Selain kerusakan lingkungan di kawasan Puncak, banjir di Jakarta juga banyak disebabkan oleh rusaknya kanal-kanal air di dalam kota. Kanal-kanal yang berubah fungsi membuat banjir sulit diatasi. Berikut adalah bagian pertama dari dua tulisan wartawan senior Republika, , yang mengenal betul sejarah kanal-kanal di Jakarta.

Pemerintah bertekad agar banjir seganas 2002 dan 2007 tidak akan terjadi lagi di masa-masa mendatang. Tiga provinsi yang paling berat terkena dampak banjir 2007, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten, sepakat membangun parit-parit dan bendungan resapan air. Sementara para pengembang diwajibkan membangun ruang terbuka hijau sebagai tempat resapan air. Yang melalaikan kewajiban ini akan dikenai sanksi.

Pembangunan parit atau kanal dengan menyodet Sungai Ciliwung dan 12 sungai lainnya yang mengalir di Jakarta sebenarnya telah dilakukan VOC. Seperti dalam peta 1622, hanya tiga tahun setelah Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen membangun Batavia, dia menggali tiga kanal tegak lurus di atas Sungai Ciliwung. Pendiri Kota Batavia ini menyadari kota yang dibangunnya di atas reruntuhan Kerajaan Jayakarta itu berada di rawa-rawa.

Penggalian kanal atau parit dimaksudkan untuk membantu pengeringan lahan, terutama pada musim penghujan dan meninggikan permukaan tanah, di mana kota akan dibangun. Rencana kota disesuaikan dengan posisi lahan. Kanal-kanal digali arah timur-barat sejajar satu sama lain dan bermuara di Ciliwung.

Karena Belanda ingin membangun kota seperti di negerinya, terutama Kota Amsterdam, kanal-kanal dinamakan dengan nama Belanda. Ketiga kanal yang dibangun sejak awal kekuasaan Belanda yang kini terletak antara Jakarta Kota-Pasar Ikan, diberi nama Tijgersgrach (Kanal Macan), Amsterdamgracht (Parit Amsterdam), dan Oude Kerkgrach (Kanal Gereja Lama). Tiga tahun kemudian, persisnya pada 1622, di selatan kastil yang kini daerahnya berada di sekitar Gedung Museum Bahari, Jakut, sudah ada kanal melintang selain tiga kanal tersebut. Parit atau kanal ini dihubungkan dengan parit Singa Betina oleh sebuah parit yang membujur arah utara-selatan, yaitu parit Harimau (kini merupakan Jl Raya Pos Kota di depan Museum Fatahillah), Jakbar.

Sebuah peta tahun tersebut memperlihatkan pada setiap kanal sudah ada jembatan, demikian pula dengan bangunan perumahan lainnya seperti dekat belokan Ciliwung. Di atas Ciliwung juga sudah ada jembatan yang menghubungkan kota bagian timur (Kalibesar Timur) dengan bagian barat (Kalibesar Barat).

Di samping terus mengembangkan kota ke arah selatan –sekarang di sekitar Jl Pangeran Jayakarta– penggalian-penggalian kanal terus dilakukan dalam jumlah besar dan lebih lebar. Menurut peta 1628 sampai 1632, selain untuk menangkal banjir, penggalian kanal dilakukan untuk mengamankan kastil yang kala itu menghadapi serangan-serangan para pejuang Islam dari Kerajaan Mataram, Banten, dan pengikut-pengikut Pangeran Jayakarta. Untuk itu, kompeni telah mencoba mengamankan kastil dengan barisan tiang-tiang atau pagar yang amat rapat.

Warga Cina yang kala itu mulai banyak berdatangan ke Batavia, terutama sebagai pedagang dan buruh perkebunan, diperintahkan bermukim di sebelah barat Ciliwung, sekitar Kalibesar Barat. Permukiman mereka dipagari dengan kayu setinggi 2,5 meter. Pada tahun 1634 Gubernur Jenderal Hendrik Brouwer membangun gerbang Rotterdam (Rotterdampoort) dan tembok laut pemecah gelombang di muara Ciliwung (Pasar Ikan-Teluk Jakarta) untuk mencegah terjadinya pengendapan yang sekaligus berfungsi sebagai dermaga.

Menurut sejarawan Belanda, de Haan, pembangunan dermaga yang panjangnya 810 meter ada kaitannya dengan pelurusan sungai yang dilakukan sebelumnya. Dengan adanya dermaga seperti itu diharapan gerakan atau aliran sungai menjadi lebih deras yang lambat laun akan mengikis dan menghilangkan endapan lumpur di depan muara Ciliwung.

Ternyata harapan ini terbukti, endapan lumpur menjadi terdesak ke laut. Perubahan morfologi Kota Batavia (Jakarta) lebih disempurnakan lagi oleh Gubernur Jenderal Antonio van Diemen (1535-1645). Tembok keliling kota di tepi barat dibangun dan sejumlah kanal digali seperti Kanal Jonker dan Kanal Melayu. Bangunan-bangunan yang tadinya terbuat dari kayu atau bambu diganti dengan batu. Di tepi timur digali Parit Banda dan Parit Malabar, sedangkan di sebelah timur kastil digali kanal mulai dari Kalibesar (Ciliwung) sampai gerbang air (Waterpoort), karena melebarnya garis pantai oleh endapan lumpur sungai.

Dalam rangka mempercantik kota, Gubernur Jenderal van Diemen malarang penduduk membangun atau memperbaiki rumah-rumah bambu, terkecuali jika rumah tersebut berjarak 24 kaki dari rumah batu. Untuk mendorong supaya penduduk membangun rumah dari batu, kompeni memberikan pinjaman uang dengan imbalan bunga setengah real kepada mereka yang memiliki tanah dan tidak dibebani pajak. Real adalah mata uang ketika itu. Karena itu, di Jakarta ada istilah ‘Tanah Sereal’ (di Jakbar), yang berarti untuk melewati jalan tol (berupa kanal) harus membayar sereal. Jadi, 400 tahun sebelum dibangun jalan tol, terlebih dulu Jakarta memiliki tol-tol berupa kanal-kanal.

Pada pertengahan abad ke-17, kompeni juga merencanakan pembuatan jalan dan kanal di luar kota. Kanal-kanal itu umumnya digali oleh orang-orang partikelir sebagai sarana yang menghubungkan kota dengan daerah perkebunan tebu dan molen-molen penggilingan gula yang sengaja dibangun di tepi sungai atau kanal-kanal yang digali. Pada 1647 Direktur Jenderal Francisco Caron dan Fariek Silvenagel menggali kanal di sebelah timur kota yang kemudian disebut Kanal Ancol yang masih kita dapati saat ini. Di sebelah selatannya digali kanal lain yang disebut Kanal Sunter, sebutan yang masih berlaku hingga saat ini.

Kepada para penggali kanal (pihak partikelir), VOC memberikan hak memungut tol selama 20 tahun. Kemudian dibangun Kanal Angke, yang dihubungkan oleh sebuah saluran air di sebelah barat kota Batavia. Di sebelah selatan mulai dari Kali Cisadane –yang dalam banjir 2007 mengakibatkan Tangerang tergenang– sampai ke Benteng Angke digali sebuah kanal lain untuk keperluan lalu lintas perahu oleh Lansdrost Vincent van Mook. Kanal ini kemudian diberi nama kanal Mooxer (Mooxervaart).
 

Read Full Post »

Banjir ( Bagian I )

Banjir tak pernah jemu menggenangi Ibukota. Hujan selama tiga hari sejak Jumat (2/2) lalu menyebabkan 70 persen kota ini lumpuh. Ratusan ribu rakyat yang kediamannya kebanjiran mengungsi ke berbagai tempat penampungan, termasuk masjid dan sekolah. Tidur saling berdesakan dalam keadaan perut keroncongan, kedinginan dan terserang penyakit.

Kita patut mengacungkan jempol atas partisipasi masyarakat dalam membantu para korban banjir. Sementara, warga tajir yang tinggal di pemukiman-pemukiman mewah lebih memilih mengungsi ke hotel-hotel berbintang yang selama musibah banjir ini malah dipadati pengunjung.

Banjir di Ibukota sudah terjadi sejak lama, dan selalu memusingkan para walikota dan gubernur untuk mengendalikannya. Sejak walikota Suwiryo sampai Sudiro, gubernur Dr Sumarno sampai Sutiyoso. Para gubernur jenderal Belanda, sejak JP Coen sampai AWL Tjarda van Starkenborgh Stachoewer, juga gagal mengatasi banjir di Jakarta (dh Batavia).

Ada 66 gubernur jenderal Hindia Belanda yang berkuasa di Batavia. Tidak ada yang pernah merasa bersalah atas terjadinya banjir di kota ini. Bahkan Sutiyoso — ketika banyak pihak menyorotinya — menyatakan selama banjir dia siaga terus hampir selama 24 jam per hari dan baru bisa tidur pukul 03.00 pagi.

Tapi, seorang penulis Amerika Serikat yang selama beberapa tahun menjadi staf kantor penerangan AS (USIS) di Jakarta, ketika menulis tentang kota ini menyalahkan pendiri Batavia JP Coen karena mendirikan kota di atas rawa-rawa. Kalau saja Coen bijaksana dan memilih tempat yang lebih tinggi, setidaknya bencana banjir dapat dikurangi, dan tidak memusingkan para penggantinya.

Banjir paling besar di Jakarta terjadi pada tahun 1872, sehingga Sluisburg (Pintu Air) di depan Masjid Istiqlal sekarang ini jebol. Kita tidak tahu bagaimana banjir besar 135 tahun lalu itu dibandingkan dengan banjir sekarang. Yang pasti ketika itu Ciliwung meluap dan merendam pertokoan serta hotel di Jl Gajah Madah dan Hayam Wuruk.

Sejak banjir besar itu terjadi, pemerintah Belanda berusaha keras untuk membebaskan kota ini dari banjir dengan membuat Banjir Kanal Barat. Namun, saluran pembuangan banjir itu sekarang ini boleh dibilang sudah tidak berarti lagi bagi Jakarta. Sebab, ketika Banjir Kanal Barat didirikan, penduduk Batavia baru sekitar 600 ribu jiwa.

Sekarang, penduduk Jakarta sudah belasan juta jiwa. Dan, tanpa memperhitungkan bahaya banjir, banyak di antara mereka yang tinggal di bantaran-bantaran sungai. Mereka juga menjadi sungai sebagai tempat pembuangan sampah yang terlarang keras pada masa kolonial.

Pada tahun 1895 pemerintah Hindia Belanda pernah merancang grand design untuk menanggulangi banjir di Jakarta. Belanda sangat sadar bahwa Jakarta merupakan dataran rendah yang potensial terlanda bencana banjir, karena daerahnya memang berawa-rawa dan banyak terdapat situ (danau kecil).

Grand design itu mencakup pembangunan yang menyeluruh dari daerah hulu di kawasan Puncak hingga hilir di daerah estuaria di utara Jakarta. Kini kawasan Puncak sudah semrawut dan beralih fungsi, sebagian sudah kehilangan hutan, akibat pembangunan vila-vila yang menyalahi tata ruang. Tidak heran kalau hujan turun di kawasan ini Jakarta kebanjiran karena hilangnya daerah resapan air.

Pada belasan abad sebelumnya, yakni abad ke-7, Jakarta berada di bawah pemerintahan Kerajaan Tarumanegara yang beragama Hindu. Seperti yang tertera pada Prasasti Tugu (kini disimpan di Museum Sejarah DKI Jakarta), untuk meningkatkan kemakmuran rakyatnya, raja Purnawarman telah menggali Kali Chandrabagha (Bekasi) dan Kali Gomati (Kali Mati – Tangerang) sepanjang 12 km.

Untuk itu, sang raja telah menyembelih seribu ekor sapi. Para sejarawan memperkirakan, bila satu ekor sapi dagingnya dimakan untuk 100 orang, maka jumlah penduduk di sekitar kawasan itu pada 14 abad yang lalu sudah mencapai ratusan ribu jiwa.

Ketika melakukan penggalian tersebut, kebijakan pemukiman didasarkan pada prinsip keseimbangan ekologi. Karena itu, rawa-rawa di pedalaman oleh sang raja boleh diuruk untuk pemukiman. Maka muncullah nama-nama kampung seperti Rawa Bangke di Jatinegara dan Rawa Anjing di Banten. Tetapi, rawa-rawa di pantai oleh raja dilarang untuk diuruk karena merupakan kawasan resapan air.

Sayangnya, ratusan haktar kawasan hutan lindung dan resapan air di Kapuk Muara, yang pada masa Kerajaan Tarumanegara dilindungi, kini disulap menjadi hutan belantara beton, berupa real estate, mal, kondominium, dan sebangsanya. Akibatnya, ekologi Jakarta rusak dan makin parah sejak dibukanya Pluit dan Muara Karang menjadi pemukiman merah. Padahal, semula merupakan daerah resapan air.

Tidak heran kalau jalan tol Cengkareng kini langganan banjir. Terutama pada banjir lima tahun lalu (2002) yang keganasannya hampir sama dengan banjir sekarang ini. Parahnya lagi, beberapa kawasan resapan air di Jakarta Selatan kini juga berubah fungsi.

Moga-moga saja upaya gubernur Sutiyoso menjadikan 13 persen dari luas wilayah Ibukota sebagai ‘hutan kota’ dapat terealisir — kini baru terealisir sembilan persen.
 

Read Full Post »

Ciliwung Meluap di Harmoni

Banjir ternyata sudah ratusan tahun jadi langganan kota Jakarta. Seperti tampak dalam foto, hujan deras disusul meluapnya kali Ciliwung pada tahun 1872, mengakibatkan daerah Molenvliet (Harmoni), yang merupakan kawasan elite dan pertokoan di Batavia digenangi air. Terlihat bagaimana derasnya luapan air, hingga menurut laporan koran-koran setempat, sekalipun pintu air di Sluisburg (kini Jl Pintu Air depan Istiqlal), dibuka tapi tak dapat menampung air sungai Ciliwung. Sungai yang meluap ke daerah-daerah lebih rendah, bukan hanya melanda Harmoni (kini merupakan bagian dari gedung Sekretariat Negara), tapi juga kawasan Rijswijk (kini Jalan Veteran) tempat Istana Negara berada. Serta tetangganya yang dipisahkan oleh Ciliwung yakni kawasan Noordwijk (kini Jl Juanda).

banjirdiharmonibandar.jpgBegitu parahnya banjir 1872, sehingga air Ciliwung tanpa mengenal ampun mengalir di atas kebun-kebun di perumahan-perumahan penduduk yang berada di belakangnya. Malapetaka ini terjadi selama beberapa hari. Seperti terlihat dalam foto air mengalir deras ke Harmoni dari arah Jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk. Disebutkan bahwa meluapnya Ciliwung akibat curah hujan yang tinggi. Kampung Petojo yang berada di bagian belakang Molenvliet juga terendam. Di sebelah kanan foto terlihat tembok-tembok dari Marina Hotel (kini juga merupakan bagian gedung Sekretariat Negara), dan Oger Freres (pedagang berlian) dan Apotek Rathkamp (kini Kimia Farma).

Foto sebelah kanan terlihat gedung sosiatet Harmoni salah satu gedung termegah di Batavia pada abad ke-19. Akibat bnanjir, jalan-jalan di kawasan elite Batavia ini telah meninggalkan lumpur-lumpur tebal. Untuk itu, pihak gemeente (kotapraja Batavia) telah mengeluarkan pinjaman untuk mengatasi keadaan darurat ini.
 

Read Full Post »

Banjir di Medan Merdeka Barat 1932

 Banjir ternyata merupakan ancaman selama berabad-abad bagi kota Jakarta.Bukan hanya terjadi di masa gubernur Sutiyoso, tapi para gubernur sebelumnya. Bahkan sejak masih bernama Batavia, ke-13 sungai yang mengalir di Ibu Kota berpotensi mengakibatkan banjir. Di Jakarta pada tahun 1932 pernah terjadi banjir besar yang disebut banjir 25 tahunan.

Seperti yang terlihat dalam gambar, pada 9 dan 10 Januari 1932 Batavia selama dua hari dua malam turun hujan besar yang curahnya mencapai 150 mm. Tidak ampun lagi banjir menggenangi hampir seluruh tempat di Batavia. Seperti juga sekarang ini, ketika itu riol-riol tidak berfungsi dengan baik. Foto yang dimuat oleh sebuah suratkabar di Batavia memperlihatkan sudut Jl Medan Merdeka Barat dan Jalan Sabang, menjadi daerah nomor satu banjir paling parah di Jakarta.

Akibat banjir 74 tahun itu, keesokan harinya mereka yang tinggal di Jalan Sabang dan sekitarnya tidak bisa keluar rumah karena sebagian rumah mereka terendam air. Untuk menghindari banjir yang makin meninggi itu, banyak penduduk nongkrong mencari selamat di bubungan atap rumah. Bagi mereka yang memiliki perahu, hari itu mereka bisa berdayung ria di sekitar Jalan Sabang.

Jalan Sabang yang kini merupakan salah satu pusat perbelanjaan bergengsi si Jakarta, sampai 1980’an selalu dilanda banjir bila terjadi hujan besar. Demikian pula di Jalan Thamrin, jalan raya utama yang letaknya bersebelahan dengan Jl Sabang, yang pada masa Belanda bernama Laan Holle. Tidak heran kalau rumah dan toko-toko di Jl Sabang pintu masuk ditinggikan untuk menahan banjir.

Kini, Jalan Sabang dan juga Jl Thamrin sudah bebas dari banjir. Untuk menyelamatkan Istana dari kebanjiran, sekalipun untuk itu ada daerah yang dikorbankan. Seperti juga sekarang, dalam foto terlihat sejumlah mobil tahun 1920’an dan 1930’an terendam air. Sementara sejumlah warga menawarkan jasa baiknya untuk ramai-ramai mendorong mobil yang terjebak di air. Tentu saja dengan mendapatkan imbalan.

Karena memiliki banyak sungai dan kanal-kanal, Batavia pada masa Belanda pernah mendapat julukan Venesia dari Timur. Venesia adalah kota di Italia yang didirikan di tengah-tengah rawa sehingga jalan-jalannya adalah kanal atau terusan. Kini Venesia merupakan salah satu tempat yang banyak dikunjungi wisatawan asing.
 

Read Full Post »

Sungai Ciliwung tidak selamanya menimbulkan penderitaan bagi penduduk Jakarta. Seperti terjadi saat-saat ini ketika air sungai ini banjir. Bahkan, Ciliwung dimasa-masa lalu memberikan banyak berkah bagi penduduk. Sungai ini — yang kini dijuluki got besar — sampai tahun 1960-an menjadi tempat ribuan penduduk untuk mandi, mencuci, mengambil wudu dan berbagai hajat keperluan lainnya. Ribuan penduduk Jakarta ketika sungai ini masih jernih dan lebar menggantungkan kehidupannya dari Ciliwung. Ada yang menjadi tukang perahu, pekerja eretan, dan tidak kurang banyaknya yang menjadi tukang binatu.

Seperti terlihat dalam gambar, puluhan tukang binatu tengah mencuci pakaian dan celana di sungai Ciliwung. Lokasinya di Pasar Baru (Jalan Antara) seperti tampak beberapa pertokoan. Foto yang diabadikan tahun 1920 ini, Ciliwung jauh berbeda di tempat yang sama sekarang ini. Untuk keperluan mencuci ini, pemerintah kolonial Belanda membangun tangga dari tembok, guna memudahkan warga bila ingin mandi ke sungai itu. Sementara di kedua tepi sungai dibangun bandaran untuk meletakkan pakaian.

Sampai akhir tahun 1950-an, masih banyak orang Betawi yang berprofesi sebagai tukang penatu. Dari Jatinegara sampai ke daerah Jakarta Kota. Hingga ada nama jalan di Jakarta bernama Jl Petojo Binatu, Jakarta Pusat. Saking banyaknya orang yang berprofesi sebagai tukang binatu.

Maklum ketika itu rakyat umumnya belum mampu memelihara pembantu, kecuali orang-orang kaya di rumah-rumah gedung dan warga Belanda.

Di Kwitang, Jakarta Pusat, sampai awal 1960’an juga terdapat beberapa tukang binatu. Yang terkenal adalah Pak Acing, yang kala itu usianya sekitar 50-an tahun dan bertubuh kekar. Sehabis shalat shubuh Pak Ating sudah berendam di Ciliwung yang berdekatan dengan kediamannya. Tanpa merasa kedinginan, dia mencuci ratusan pakaian hingga pukul 09.00 pagi.

Saat mencuci agar pakaian bersih ia menggunakan bllauy pembersih bewarna biru yang kini sudah tidak ada lagi. Kala itu belum ada deterjen seperti sekarang. Ia mencuci pakaian dengan sabun ‘Tjap Tangan’ sabun paling terkenal ketika itu.

Setelah berendam dan membanting tenaga selama tiga atau empat jam di Ciliwung, Pak Acing dengan dibantu putranya menjemur pakaian-pakaian yang telah dicucinya. Kala itu di Jakarta banyak terdapat lapangan hingga tidak ada masalah untuk menjemur pakaian dalam jumlah besar.

Setelah beristirahat dan shalat dzohor tibalah untuk pekerjaan yang lebih berat lagi. Dia mulai menyerika pakaian-pakaian yang telah kering itu. Bukan menggunakan setrika listrik seperti sekarang. Tapi alat menyeterika ketika itu untuk memanaskannya masih menggunakan arang. Sambil memercikkan air di pakaian, supaya licin baju yang akan disetrika diberi tajin. Supaya bersih –baju diklentang– dengan buah mengkudu. Yang menarik untuk membuka dan menutup strika yang harus dipanaskan lebih dulu dibagian atasnya — sebagai pembuka dan penutup — ada lambang ayam jago. Yang sekarang ini mungkin sudah menjadi barang museum. Bahkan artis Krisna Mukti menjadikannya sebagai koleksinya.

Kembali pada Pak Acing, dia baru dapat menyelesaikan pekerjaannya menjelang magrib. Dan keesokan harinya rutinitas semacam ini terus dilakukan, tanpa mengenal hari libur.
 

Read Full Post »

Older Posts »