Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Bung Karno’ Category

Ganyang (mengganyang), menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti memakan mentah-mentah, memakan begitu saja, menghancurkan, mengikis habis dan mengalahkan lawan (dalam pertandingan).

Pada masa pemerintahan Presiden Sukarno kata tersebut banyak dipakai. Ketika konfrontasi dengan Malaysia misalnya, tidak terhitung banyaknya demo meneriakkan ‘ganyang Malaysia’. Demikian juga saat-saat meruncingnya hubungan Indonesia dengan negara-negara Barat, muncul ‘Ganyang nekolim’ (neo-kolonialisme, kolonialisme dan imperialisme).

Dalam pidato kenegaraan 17 Agustus 1964, Bung Karno memberikan judul pidatonya Tahun Vivere Pericoloso (Tavip). Ia menginstruksikan seluruh rakyat untuk melaksanakan Tri Sakti Tavip. Yakni, berdaulat dalam bidang politik, berdikari dalam bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam bidang kebudayaan. Dalam masalah yang terakhir ini, Bung Karno menentang keras apa yang disebutnya ‘musik ngak ngik ngok’, literatur picisan, dan dansa-dansi gila-gilaan. Menurut Bung Karno kaum imperialis ingin merusak moral bangsa Indonesia melalui penetrasi kebudayaan.

Dalam soal kepribadian, Bung Karno juga menginginkan agar dalam berpakaian pun mencerminkan kepribadian Indonesia. Tidak heran kalau pakaian you can see, yang memperlihatkan ketiak, juga menjadi sasaran tembak. ”Ganyang you can see,” teriakan yang sering terdengar bila melihat orang berpakaian demikian.

‘Pengganyangan’ itu tidak hanya terjadi di Jakarta. Saya pernah mengikuti Menteri Negara Oei Tjoe Tat, pada pertengahan 1960-an, ke Kalimantan Barat. Dari sebuah losmen, sejumlah anak muda meneriakkan ”ganyang you can see” kepada seorang wanita yang berpakaian demikian. Terlihat bagaimana merah padamnya muka wanita tersebut menahan malu. Ia cepat-cepat menghindar dari kerumunan massa yang berteriak-teriak itu.

Dalam kaitan dengan you can see itu, perusahaan kosmetik Rexona punya iklan yang disebut Ketty Dance, yakni tarian sejumlah perempuan dengan memperlihatkan ketiaknya. Bukan rahasia lagi, para pembawa acara di televisi bukan hanya berwajah cantik, tapi kebanyakan juga mesti berpenampilan berani. Demikian pula para penari latar dan penyanyi, merasa kurang afdhol kalau tidak menggoyang-goyangkan pinggulnya.

Menurut Munif Bahasuan (71 tahun), yang lebih 50 tahun berkecimpung di dunia dangdut, ketika dangdut masih bernama Orkes Melayu mereka tampil sangat sopan. Penyanyi wanitanya berpakaian kebaya, sedangkan prianya memakai teluk belanga. Ada foto yang sering disiarkan ketika Bung Karno bertari lenso dengan putrinya, Megawati Sukarnoputri. Megawati menggunakan baju kebaya dan kain batik, busana wanita yang dominan saat itu.

Masih menurut Munif, dahulu yang disebut goyang pinggul tidak ada. Kalau sekarang tidak terhitung banyak jenisnya. Ada goyang ngebor, goyang ngecor, goyang patah-patah, goyang kayang dan entah apa lagi namanya. Tidak heran kalau RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) disahkan mereka tidak setuju. Bagi televisi pertunjukan semacam itu bukan saja dimaksudkan untuk mengejar rating, tidak peduli dengan mengeksplorasi sensualitas. Padahal ketika Bung Karno melarang you can see tidak ada masalah di masyarakat.

Dalam kaitan dengan RUU APP, saya ingin sedikit mengutip pengamatan Moammar Emka, penulis buku Jakarta Undercover dan pemerhati kehidupan malam, ketika beberapa waktu bersama saya jadi pembicara dalam ‘Program Persiapan Calon Pemimpin DPW PKS DKI Jakarta.

Jakarta sebagai kota metropolitan (dan kota-kota besar lainnya), tak lepas dari kehidupan malamnya. Ratusan tempat hiburan malam berlomba-lomba membuka pintu lebar-lelbar dengan aneka menu spesial menggoda, dari kafe, bar, pub, diskotek, karaoke sampai klub. Nafas kehidupan malam itu, pada akhirnya juga menghembuskan bau lain yang tak sedap karena dalam prakteknya tak semua tempat hiburan beroperasi sebagaimana mestinya.

Diskotek kini tak hanya sebagai ajang berdisko semata, tapi juga sebagai ajang untuk meneguk kenikmatan ‘surga ekstasi dan seks’. Karaoke tak lagi sebagai tempat rileksasi ditemani ladies-escort, tapi juga sebagai prive room untuk mendapat layanan spesial dari penari striptis, seks shashimi sampai kencam one short time.

Kalau dilihat dari kaca mata industri, kata Moammar Emka, Jakarta tak ubahnya seperti sebuah medan yang tiap hari, bahkan tiap jam, selalu berdenyut oleh banyaknya transaksi seksual. Saking banyaknya industri seks yang ada di Jakarta, saya sampai berani membuat satu kesimpulan bahwa Jakarta sudah menjadi medan sex show supermarket. Bagaimana tidak? Jumlah tempat pijat, sauna, karaoke dan hotel yang menyediakan pelayanan sensual, jumlahnya tak kalah banyak dengan supermarket.

Kita tidak ingin dekadensi moral yang sudah merusak kepribadian bangsa terus meningkat tanpa kendali. Karena itu, memang diperlukan perangkat UU yang mengatur pornografi dan pornoaksi.
 

Iklan

Read Full Post »

Hubungan RI – Malaysia memanas sejak negara jiran ini mengklaim blok Ambalat — wilayah kedaulatan Indonesia — sebagai wilayahnya. Mendapat angin setelah di Mahkamah Internasional memenangkan klaim atas pulau Sipadan dan Ligitan, kini Malaysia melancarkan trick baru, mengklain pulau yang terletak di timur laut Kalimantan Timur sebagai wilayahnya.

Sebelumnya, hubungan kedua negara sedikit agak terganggu akibat persoalan tenaga kerja Indonesia. Banyak tenaga kerja kita di Malaysia yang diperlakukan tidak manusiawi: disiksa dan tidak sedikit yang tidak dibayar gajinya. Mereka yang mengalami nasib demikian diperlakukan seperti budak belian.

Untuk menyelesaikan masalah Ambalat, Presiden SBY disertai Pangab dan ketiga Kepala Staf Angkatan, selama dua hari berkunjung ke Pulau Sebatik untuk meninjau kesiapan pasukan-pasukan di daerah perbatasan. Di samping untuk meninjau situasi lapangan. Untuk itu, Presiden dan rombongan naik kapal perang RI (KRI) KS Tubun yang tengah sandar di Tarakan.

Sementara di Jakarta dan berbagai kota lainnya, demo anti Malaysia terus berlangsung. Termasuk enam anggota DPR ikut demo bersama puluhan pelajar dan mahasiswa di Kedubes Malaysia di Kuningan, Jakarta Pusat. Bendera Malaysia dibakar. Seorang anggota DPR, Permadi SH, dari PDIP menuduh Malaysia sebagai ‘neo kolonialisme’, lontaran yang sering dikemukakan Bung Karno saat konfrontasi dengan Malaysia (1963-1965).

Di Surabaya dan di tempat lain ada teriakan-teriakan ”Ganyang Malaysia’, juga ungkapan kemarahan rakyat pada saat konfrontasi 42 tahun lalu. Bahkan ada spanduk berbunyi: KOGAM – Komando Ganyang Malaysia -. Bung Karno dalam upaya memperhebat konfrontasi telah membentuk ‘Komando Ganyang Malaysia’.

Demo-demo anti Malaysia di seluruh tanah air terjadi, ketika Bung Karno pada tanggal 3 Mei 1964 di Jakarta dihadapan apel sukarelawan yang dihadiri ratusan ribu rakyat mencanangkan Dwikora (Dwi Komando Rakyat). (1). Perhebat ketahanan revolusi Indonesia, dan (2) bantu perjuangan revolusioner rakyat Malaya, Singapura, Sabah, Serawak, dan Brunei.

Bung Karno memang dikenal sebagai orang yang dapat menggelorakan semangat rakyat. Dalam waktu singkat terhimpun jutaan sukarelawan dan sukarelawati. Setelah diseleksi, mereka di kirim ke daerah-daerah perbatasan. Seperti Riau, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat. Di antara sukarelawan ini terdapat dokter, mahasiswa, pemuda, dan wartawan. Sementara satuan-satuan ABRI yang juga mengklaim diri sebagai sebagai sukarelawan mulai merembes masuk ke wilayah Singapura dan Kalimantan Utara. Di sana mereka melancarkan operasi militer terhadap pasukan Inggris dengan satuan Gurkha-nya dari Tibet.

Karena itu, tidak heran kalau Kedubes Inggris di Jakarta juga menjadi sasaran demo. Pada 18 September 1963, hanya dua hari setelah Federasi Malaysia resmi berdiri, Kedubes Inggris dibakar dan lambang negara itu dicopot para demonstran. Pembalasan akibat pembakaran ini terjadi di Kuala Lumpur. Para diplomat Indonesia ditangkapi dan kedubes RI diserang. Pada Agustus 1964, 16 prajurit Indonesia ditangkap di Johor dan keesokan harinya 17 prajurit RI mendarat di selatan Johor.

Konfrontasi RI – Malaysia yang dibantu negara-negara Barat, sudah diambang perang terbuka. Armada ke-7 AS sudah memasuki perairan di Selat Lombok. KSAD Jenderal A Yani mengeluarkan ultimatun agar armada ke-7 segera meninggalkan perairan Indonesia. Hubungan dengan AS semakin tegang ketika Presiden AS Jhonson dan PM Malaysia Tengku Abdurahman Putra menandatangi pernyataan bersama.

Bung Karno yang marah besar memperingatkan AS bahwa hubungannya dengan Indonesia akan tambah runyam, dan bila terjadi apa-apa jangan salahkan Indonesia. Sementara demo-demo anti AS meluas diberbagai daerah. ”Go home Yankee”, di antara spanduk yang mereka bawa. Sementara kelompok kiri memanfaatkan situasi ini untuk keuntungan mereka. Ketika itu terjadi dua blok : AS dan Uni Soviet. Kedua kekuatan ini saling bersaing agar negara-negara lain memihak kepada salah satu blok. Dalam konfrontasi dengan Malaysia, US berpihak pada RI.Waktu itu persenjataan kita banyak dari Uni Soviet.

Sementara Bung Karno dalam upaya melawan kekuatan Barat berhasil membentuk front internasional yang luas anti Malaysia. Meskipun banyak yang meragukan kredibilitas para peserta yang hadir. Dalam pidatonya Bung Karno kerap menyerang PM Malaysia Tengku Abdurahman. ”Tengku Abdurahman adalah tulen antek imperialis AS.” Bung Karno menyebutnya angkuh ketika Tengku mengatakan : ”Malaysia sudah ada, orang senang atau tidak senang. Kalau senang terimalah. Kalau tidak senang biarkanlah’.

Dalam pernyataannya yang ditujukan kepada AS, Bung Karno menyatakan bahwa sebetulnya ia melakukan hal itu diluar kemauannya. Seandainya tidak ada Komunike Bersama Johnson-Tengku, maka kata-kata saya ini takkan pernah diucapkan. Hasrat bersahabat dari pihak Indonesia terhadap AS sudah jelas sekali. Bahkan sesudah percobaan pendaratan Armada ke-VII ke Pekanbaru, bahkan sesudah pemboman-pemboman oleh Alan Pope. ”Dengan perasaan berat saya katakan bahwa komunike bersama Johnson-Tengku benar-benar keterlaluan. Benar-benar di luar batas,” kata Bung Karno.

Ketika artikel ini ditulis, Menlu Malaysia, Sayed Hamid Albar, dan Menlu Hasan Wirayudha tengah berupaya untuk menyelesaikan masalah kedua negara. Banyak pihak berharap agar sengketa dapat diselesaikan secara damai, tidak melalui jalur perang seperti masa konfrontasi.
 

Read Full Post »

Jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat, pada masa Belanda bernama Nassau Boulevard. Sedang pada masa pendudukan Jepang (1942-1945) bernama Myokodoori. Jepang, saat berkuasa di Indonesia, memang mengganti nama jalan, gedung dan taman yang berbau Belanda dengan bahasa Jepang.

Di Jalan Imam Bonjol No 1 terdapat Museum Naskah Proklamasi Kemerdekaan. Memasuki bagian belakang gedung ini, di atas sebuah meja kecil terletak sebuah mesin tik yang sudah sangat tua. Mesin tik inilah yang digunakan Sayuti Melik, untuk mengetik naskah proklamasi kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945 dini hari. Naskah proklamasi kemerdekaan ini kemudian dikumandangkan Bung Karno pada pukul 10.00 WIB pagi hari itu juga.

Sayuti Melik, pengetik naskah proklamasi dan suami pejuang wanita SK Trimurti, memiliki nama asli Mohammad Ibnu Sayuti. Melik adalah nama samaran sewaktu ia memegang rubrik pojok di Koran Pesat, Semarang. Sayuti Melik, yang hidup di kalangan santri, menjadi terkenal ketika dia menulis Belajar Memahami Sukarnoisme, yang selama berbulan-bulan tiap hari dimuat di 21 suratkabar.

Isi tulisan itu kentara sekali menelanjangi praktek-praktek busuk kaum komunis. Oleh Presiden Sukarno ia kemudian dipanggil dan dimintai keterangan apa maksudnya dengan artikel itu. Setelah mendapat penjelasan, Bung Karno berkata, ”Benar kowe Ti, teruskan.”

Syahdan, serial itu segera dihantam Nyoto, ahli ideologi PKI. Tokoh muda PKI ini, melalui serangkaian tajuk rencana di koran PKI, Harian Rakyat, menyerang keras tulisan-tulisan Sayuti Melik yang dimuat koran-koran di berbagai daerah yang anti PKI. Bagi Nyoto, dan surat-surat pro komunis, apa yang ditulis Sayuti Melik justru merupakan penghianatan terhadap ajaran-ajaran Bung Karno.

Lalu, bagaimana Bung Karno sendiri? Saat polemik di pers dan masyarakat menghangat, ternyata tafsir Sayuti Melik yang dianggap salah. Tafsir Nyoto itulah yang dianggap benar. Dan, hantaman bertubi-tubi terhadap BPS (Badan Pendukung Sukarnoisme) yang diprakarsai Adam Malik, BM Diah dan Sumantoro, dikumandangkan tiap hari di koran-koran kiri. Tokoh PKI Ir Anwar Sanusi, misalnya, mengatakan, ”Setelah DI/TII gagal, kaum reaksioner di dalam negeri memakai nama Sukarnoisme untuk menentang arus sejarah dan gerakan revolusioner rakyat Indonesia.”

Setelah berhari-hari terjadi demo-demo di tanah air minta BPS dibubarkan. Puncaknya, pada 24 Pebruari 1995, Presiden Sukarno selaku Pangti ABRI dan Pemimpin Besar Revolusi (PBR) di hadapan massa yang memenuhi Istora Senayan memerintahkan, ”Bubarkan Semua Koran, Organiswasi dan alat-alat antek BPS.”

Bung Karno menuduh BPS agen CIA (badan intelijen AS) — yang menggunakan ”Soekarnoisme” guna membunuh Sukarnoisme dan membunuh Sukarno. Pembubaran BPS itu dicanangkan dalam acara HUT PWI Pusat. Bung Karno juga menuduh BPS mendapat dana jutaan dolar AS dari CIA. Beberapa kawan saya yang korannya dituduh terlibat BPS dengan menyindir berkata, ”Kalau begitu gua kaya raya dong”.
Sementara, Nyoto berkomentar, ”Tindakan Presiden memerintahkan membubarkan sdurat-surat kabar BPS sesuai dengan tuntutan revolusi.”

Hanya sehari setelah perintah Bung Karno, Departemen Penerangan melarang terbit 21 surat kabar yang memuat tulisan Sayuti Melik. Di antara koran-koran yang dibreidel adalah Berita Indonesia, Merdeka, Warta Berita, Indonesian Observer dan Suluh Massa.

Sebelumnya, Bung Karno membubarkan Manikebu (Manifesto Kebudayaan) yang dicetuskan oleh HB Yassin dan Wiratmo Sukito untuk mengimbangi LEKRA-nya PKI. Manikebu difatwakan menjadi barang haram karena ”melemahkan revolusi”. Kemudian disusul dengan pembubaran Partai Murba, partai yang menjadi musuh utama PKI, setelah Masyumi dan PSI dibubarkan.

Setelah Manikebu, BPS dan Partai Murba dibubarkan, demo-demo massa kiri semakin meluas. Mereka meminta agar diadakan retoling di semua instansi dengan menyingkirkan mereka yang terlibat Manikebu, BPS, Partai Murba, serta kekuatan kanan yang disebut antek-antek DI/TII. Sementara, SBPA (Serikat Buruh Pekabaran Antara) yang pro komunis, mengadakan demo dengan memohon kepada Presiden sebagai pemimpin tertinggi Antara agar memecat pemimpin umumnya, Pandu Kartawiguna, Zein Effendi SH dan beberapa pimpinan Antara. Pandu Kartawiguna, seorang pejuang Angkatan 45, salah seorang pendiri Antara, ketika dipecat hanya mendapat sepotong nota dari Subandrio.

Kala itu, di kantor berita Antara sejak lama terjadi pertentangan antara kubu Djawoto dan Adam Malik. Djawoto, yang kemudian menjadi dubes di Beijing dan meninggal di negeri Belanda, sudah sejak lama berhaluan komunis dan waktu pemberontakan PKI di Madiun (1948) ia sudah menjadi anggota aktif Partai Sosialisnya Amir Syarifuddin.

Bagaimana hebatnya pertentangan ideologi kala itu juga terjadi di tubuh PNI. Ketika terjadi polemik soal Marhaenisme, yang dimenangkan kelompok Ali-Surahman, bahwa ‘Marhaenisme adalah Marxisme yang diterapkan di Indonesia’. Dan tersingkirlah Hardi SH dan Mohammad Isnaeni, dua tokoh PNI yang berseteru dengan Ali-Surahman. Hardi pernah menceritakan kepada saya, bahwa sebelum Bung Karno meninggal dunia, dia menemuinya. Bung Karno menyatakan kepadanya dia menyesal turut menyingkirkan Hardi cs, yang setelah Bung Karno jatuh tetap setia kepadanya.
 

Read Full Post »

Bung Karno dan Wartawan

Di sebelah kiri Departemen Luar Negeri (Deplu) terdapat sebuah gedung yang masih tampak antik dan anggun sekalipun usianya lebih dari satu abad. Gedung yang terletak di jalan Pejambon, Jakarta Pusat, ini pada masa kolonial Belanda bernama Hertogweg (jalan Hertog).

Dulu di jalan ini terdapat sebuah taman indah bernama Hertog Park yang diambil dari nama penghuni gedung tersebut, Hertog Bernhard (1792-1862), panglima tentara Hindia Belanda. Banyak peristiwa bersejarah berlangsung di gedung ini. Antara lain, pada 1 Juni 1945, Bung Karno pernah berpidato selama satu jam di depan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Pidato ini kemudian dijadikan sebagai falsafah negara: Pancasila. Karenanya gedung yang pernah menjadi markas departemen kehakiman dan BP7 ini kini bernama Gedung Pancasila. Jauh sebelumnya, gedung bercat putih ini pernah menjadi tempat Volkraad, semacam parlemen bikinan kolonial Belanda, bersidang. Di gedung ini pulalah pada 18 Agustus 1945, sehari setelah proklamasi kemerdekaan, PPKI dalam sidangnya memilih Bung Karno sebagai presiden, dan Bung Hatta sebagai wakil presiden. Sidang juga mengesahkan UUD RI yang kita kenal dengan UUD 1945.

”Dalam pertemuan inilah mereka memilihku dengan suara bulat sebagai presiden,” ujar Bung Karno dalam biografinya seperti ditulis Cindy Adams. ”Tak kuingat kejadian itu sampai soal-soal kecil seperti misalnya, siapa sebenarnya yang mengusulkanku. Aku hanya ingat seseorang mengeluarkan ucapan yang digetari oleh kata-kata berilham seperti, nah, kita sudah bernegara dan memerlukan seorang presiden.

Bagaimana kalau kita memilih Soekarno.” Setelah dipilih sebagai presiden, Soekarno pulang ke kediamannya di jalan Pegangsaan Timur (kini jalan Proklamasi) 56, Jakarta Pusat. Saat perjalanan pulang Bung Karno bertemu seorang tukang sate. ”Aku lalu memanggil penjaja yang berkaki ayam dan tidak berbaju itu, dan mengeluarkan perintah pertama: sate ayam 50 tusuk.”

Bung Karno menceritakan, ia makan sate sambil jongkok dekat selokan dan kotoran. ”Kumakan sateku dengan lahap dan inilah seluruh pesta atas pengangkatanku sebagai kepala negara.” Sampai di kediamannya Bung Karno memberitakan kepada Ibu Fatmawati atas terpilihnya dirinya sebagai presiden. Tapi, istrinya itu, seperti diungkapkan Bung Karno, tidak meloncat-loncat kegirangan. Yang jadi masalah kemudian adalah presiden perlu punya kendaraan yang layak.

Maka beraksilah Sudiro dari Barisan Pelopor segera menyerobot kendaraan milik Kepala Jawatan Kereta Api Bangsa Jepang untuk menjadi kendaraan Bung Karno. Mobil Buick tersebut merupakan kendaraan paling bagus di Jakarta kala itu.

Bagi wartawan yang pernah bertugas di istana semasa pemerintahan Presiden Soekarno pasti banyak memiliki pengalaman menarik mengenai sosok proklamator ini. Bung Karno dikenal sangat akrab dengan wartawan. ”Bapak sering ngobrol dengan para wartawan, baik diteras depan maupun teras belakang Istana Merdeka,” tutur Ita Syamsuddin, wartawan ANTARA yang bertugas di istana sejak 1960 sampai berakhirnya kekuasaan Bung Karno.

Pada saat-saat bersantai dengan wartawan tersebut Bung Karno sering menanyai kehidupan para wartawan satu persatu. Seperti, apakah sudah punya pacar. Atau menanyakan tentang kehidupan keluarga bagi yang sudah beristri atau bersuami. Bung Karno juga sering mengajak para wartawan untuk makan bersama. Terutama bila ada acara di Istana Bogor, saat makan siang atau sore malam, Bung Karno seringkali bergabung dengan para wartawan.

Para wartawan sendiri tidak merasa minder sedikit pun saat ngobrol dengan Bung Karno karena keterbukaannya itu. Bung Karno juga sangat memperhatikan penampilan wartawan. Dia sering mendandani dasi para wartawan yang bertugas di Istana. Bahkan tidak jarang menghadiahkan dasi pada wartawan. ”Wartawan harus gagah, dan berpakaian rapi, jangan jelek,” kata Bung Karno seperti dituturkan Ita. Ketika Bung Karno mengucapkan demikian, kebetulan ada Menteri Perdagangan Ahmad Yusuf yang kemudian membagikan setelan jas pada wartawan. ”Saya sendiri dapat baju kebaya dan kain batik yang halus,” tutur Ita.

Begitu akrabnya Bung Karno dengan wartawan, hingga ia sering mengajak wartawan berkeliling kota dengan minibus cakrabirawa (pasukan pengawal kepresidenan). Di kendaraan, para wartawan bebas memilih tempat duduk dan sewaktu-waktu dapat mendekat kepadanya.

Suatu ketika ditengah jalan Bung Karno melihat tukang rambutan, ia lalu membeli sepuluh ikat sesuai jumlah rombongan di mini bus. Tapi, ketika hendak membayar dan merogoh kantong celananya ternyata Bung Karno tidak membawa uang. Ia pun memanggil seorang pengawal yang berada dalam jeep, tapi seorang wartawan segera membayarnya. Bung Karno melarangnya, tapi penjual rambutan sudah menerima uang tersebut, dan langsung ngeloyor. ”Nanti Bapak ganti. Bapak kan ingin mentraktir para wartawan,” ujarnya.

Bung Karno juga selalu membaca hasil liputan wartawan. Karena perhatiannya terhadap berita-berita, maka tiap pukul 04.00 pagi seorang kurir dari istana datang ke bagian percetakan Antara untuk mengambil buletin berita. Ita menuturkan, Bung Karno pernah sangat marah ketika melihat foto yang disiarkan Antara di koran-koran dengan rata-rata judul: rakyat tengah berebutan memungut beras yang tercecer di Tanjung Priok.

Menurut Bung Karno, foto tersebut merupakan propaganda dari pihak yang tidak senang kepada Indonesia. ”Seolah-olah rakyat Indonesia kelaparan,” ujar Bung Karno. Menurut Bung Karno, rakyat Indonesia tidak mungkin mengalami kelaparan karena makanan pokoknya tidak hanya beras, tapi juga sagu, jagung, dan ubi-ubian.

Pada masa itu, Bung Karno yang juga memelopori diversifikasi pangan sering mengundang para diplomat sarapan di istana sambil menikmati jagung rebus. Karenanya, dalam pidato 17 Agustus 1965, Presiden Soekarno mendeklarasikan bahwa Indonesia tidak akan mengimpor beras lagi.
 

Read Full Post »

Setelah lebih dua dasawarsa hubungan Indonesia dan Rusia mendingin, kini ditingkatkan kembali melalui kerja sama militer. Di Moskow, Presiden Megawati Soekarnoputri dan Presiden Vladimir Putin menandatangani kontrak pembelian dua buah pesawat jet tempur Sukhoi dan dua unit helikopter MI-35. Ada yang menilai kunjungan Megawati ke Moskow cukup berani mengingat hubungan Moskow dan Washington kini tengah memburuk akibat perang Irak. Megawati yang menyadari hal ini menegaskan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif.

Hubungan Indonesia dan Rusia (dulu Uni Soviet) sangat akrab pada pertengahan 1950-an dan 1960-an. Boleh dibilang, hampir seluruh persenjataan tempur Indonesia saat itu, terutama saat Trikora (Tri Komando Rakyat untuk pembebasan Irian Barat) dan Dwikora (konfrontasi dengan Malaysia) berasal dari Rusia. Hingga Bung Karno menyatakan, kekuatan militer Indonesia terbesar dan terkuat di Asia Tenggara.

Mesranya hubungan RI-Soviet waktu itu tidak dapat dipisahkan dari persahabatan akrab antara Soekarno dan Perdana Menteri Nikita Kruschev. Kruschev berbadan gemuk dan pendek. Kepalanya botak dan hanya sedikit ditumbuhi rambut yang sudah memutih.

Ada persamaan antara keduanya. Setidak-tidaknya ketidaksenangan mereka terhadap Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Bung Karno pernah mengecam PBB sebagai alat imperlias dan kolonial, dan kemudian Indonesia keluar dari organisasi dunia ini. Sedangkan Kruschev pernah membuat heboh ketika berpidato di Sidang Umum PBB. Sambil berteriak mengecam AS, ia kemudian melepaskan sepatunya. Lalu berulang-ulang diketokkan ke meja tempat berpidato.

PM Kruschev dan Presiden Voroshilov pernah berkunjung ke Indonesia, seperti juga berbagai delegasi Uni Soviet lainnya. Termasuk tim sepak bola, kesenian, kebudayaan, dan film yang berkali-kali berkunjung ke sini. Bahkan Yuri Gagarin, kosmonot pertama ke ruang angkasa, juga berkunjung kemari. Ketika Kruschev tiba di Indonesia, dari Bandara Kemayoran hingga Istana Merdeka yang jaraknya hampir 10 km, lautan manusia mengelukannya di kiri kanan jalan.

Karuan saja hubungan mesra RI-Uni Soviet (US) membuat gerah AS. Kedua adidaya ini tengah bersaing untuk mempengaruhi dunia. Cindy Adams dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat memuat penuturan Bung Karno tentang memburuknya hubungan RI-AS. ”Kepergiannya ke Paking (Beijing) dan Moskow pada 1957, oleh AS dinilai sebagai langkah salah,” tutur Bung Karno. ”Itulah asalnya mereka mulai mencap seorang maha pencipta Tuhan sebagai seorang komunis yang pekat,” tambahnya.

Kala itu, Menlu AS John Foster Dulles dengan angkuh mengatakan pada Bung Karno, ”Politik AS bersifat global. Aliran netral adalah tidak bermoral.” Yang oleh Bung Karno dijawab, ”Sebagai sahabat yang bijaksana dan lebih tua, Amerika memberikan kami nasihat itu bisa. Akan tetapi janngan mencampuri persoalan kami.” AS kala itu juga mencap komunis terhadap tiap gerakan kemerdekaan dunia ketiga. Karena politik AS itulah, setidak-tidaknya turut membesarkan kekuatan Partai Komunis Indonesia di sini.

Lalu Bung Karno menuturkan bagaimana di US dia disambut besar-besaran. ”Di Moskow 150 orang barisan musik menyanyikan lagu ”Indonesia Raya” sebagai penyambutanku di lapangan terbang, sungguh pun aku datang dengan pesawat Pan Am (milik perusahaan AS). Pemandangan ini membuat mataku berlinang karena bangga. Bangga karena negeri kami mendapat penghargaan demikian.”

Jenderal AH Nasution selaku menko hankam/pangab yang terlebih dulu berada di Moskow sebelum Bung Karno tiba dalam buku ”Memenuhi Panggilan Tugas,” jilid 6 menulis, ”Bung Karno mendarat dengan pesawat Pan Am. Kemudian para pramugari Amerika yang cantik-cantik berseragam biru itu membuat jajaran di tangga pesawat.” Maka PM Kruschev menggoda saya, ”Jenderal alangkah manisnya gadis-gadis Indonesia.” Terhadap kritik halus ini Pak Nas menyahut, ”Ah PM telah pernah berkunjung ke Indonesia. Di sana tidak ada rambut-rambut yang pirang demikian.”
Setelah kunjungan ke Moskow ini, berbagai gosip diembuskan oleh Barat terhadap pribadi Bung Karno. Termasuk majalah terkemuka Time,Newsweek, dan Life.

”Barat selalu menuduhku terlalu memperlihatkan muka manis kepada negara-negara sosialis. Oohh, kata mereka lihatlah Soekarno lagi-lagi bermain mata dengan Blok Timur, ” kata Bung Karno. Oleh Bung Karno dijawab, negara sosialis tidak pernah mempermalukannya, seperti dilakukan Barat. ”Kruschev mengirimkan jam dan puding dua minggu sekali, dan memetikkan apel, gandum, dan hasil tanaman lainnya dari panen yang terbaik.”

Konon, Bung Karno juga pernah menerima hadiah sebuah pesawat Ilyusin dari US yang kemudian diberi nama Dolok Martimbang. ”Jadi, apakah salahnya bila aku berterima kasih kepadanya. Siapakah yang tidak akan bersikap ramah, terhadap seseorang yang bersiakap ramah kepadanya? Apa yang aku ucapkan itu adalah tanda terima kasih, bukan komunisme. Pandirlah aku bila aku membuang muka, bilamana ia diberi begitu banyak,” kilah Bung Karno.

Di antara bantuan US yang hingga kini berdiri dengan megah adalah Stadion Utama Bung Karno beserta kompleks Istora Senayan. Stadion ini pernah menjadi tempat pesta Asian Games IV dan Ganefo (Games of the New Emerging Forces) I. Ganefo diselenggarakan untuk mematahkan dominasi IOC (Komite Olimpiade Internasional) yang telah menskorsing Indonesia karena menolak kehadiran Israel pada AG ke-IV. Di stadion ini Bung Karno sering berpidato pada rapat-rapat raksasa yang dihadiri ratusan ribu massa.

Kala itu, kekuatan politik seperti Partai Nasional Indonesia, PKI, dan Nahdlatul Ulama saling bersaing dalam mengerahkan massa seperti yang terjadi pada hari ulang tahun PNI, PKI, dan NU. Bung Karno kurang berkenan bila –saat berpidato– stadion yang dapat menampung lebih 100 ribu massa itu tidak penuh.

Read Full Post »

Sukarno – Hatta

Hingga kini tetap marak perdebatan mengenai masa depan pemerintahan RI, antara sistem otonomi daerah dan sistem federasi, di tengah-tengah keemohan daerah-daerah terhadap sistem sentralisme selama ini.

Lepas dari maraknya beda pendapat mengenai sistem pemerintahan masa mendatang itu, rupanya beda pendapat ini pernah terjadi pada awal-awal pembentukan negara. Tidak tanggung-tanggung antara Bung Karno dan Bung Hatta, yang pada 17 Aguistus 1945 bersama-sama memproklamirkan kemerdekaan RI. Masalah perbedaan ini, dikemukakan sendiri oleh kedua tokoh nasional dan bapak bangsa itu.

”Saya pernah bertanya kepada Bung Karno, apa bedanya ia dengan Bung Hatta,” demikian Solichin Salam dalam bukunya Soekarno-Hatta yang diterbitkan Pusat Studi dan Penelitian Islam. ”Saya unitaris, Hatta federalis,” jawab Bung Karno singkat.

Setelah itu, Solichin mewawancarai Bung Hatta. ”Berbicara tentang bentuk negara Indonesia yang dicita-citakan sebelum Indonesia merdeka, saya tanyakan kepada Bung Hatta kenapa ia waktu itu cenderung pada bentuk negara federal dari negara kesatuan.”

Jawab Bung Hatta: ”Saya cenderung kepada bentuk Negara Federal karena melihat contoh negara-negara besar waktu itu, seperti Amerika Serikat atau Uni Soviet yang semuanya berbentuk federal.” Tetapi sekalipun beda pendapat, sebagai seorang demokrat Bung Hatta tetap tunduk dan patuh kepada keputusan suara terbanyak, memilih Negara Kesatuan RI.

Bung Karno pada masa demokrasi terpimpin sering mengeritik hasil Konperensi Medja Bundar (KMB) di Den Haag di mana delegasi Indonesia dipimpin diwakili oleh Bung Hatta. Sebagai hasil KMB akhir Desember 1949, Indonesia dan Belanda menyetujui pembentukan negara Republik Indonesia Serikat (RIS), yang berbentuk negara federal. Menurut Bung Karno, akibat kompromi-kompromi mental inilah yang mengakibatkan memburuknya keadaan pada 1950-1962.

Kedua proklamirkan kemerdekaan ini bahkan mengakui beda pendapat dan pendirian terjadi sejak tahun 1930’an saat keduanya menggerakan perjuangan kemerdekaan. ”Hatta berlainan sekali denganku dalam sifat dan pembawaan,” kata Presiden Sukarno dalam bukunya Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat karangan Cindy Adams. Tapi, Bung Karno sendiri, termasuk pada masa jayanya PKI tetap memuji Bung Hatta selama perjuangannya itu.

Dalam perjuangan di masa itu, menurut Bung Karno, Hatta menekankan pada kader-kader, sedangkan ia lebih memilih mendatangi secara langsung rakyat jelata dan membakar hati mereka seperti yang selama ini dilakukannya. Menurut Bung Karno, cara yang dilakukan Hatta memerlukan waktu sangat lama dan ‘baru tercapai bila dunia kiamat’.

Tapi Hatta tetap pada pendirian melakukan perjuangan melalui pendidikan praktis kepada rakyat. Cara ini, menurutnya lebih baik dari atas dasar daya tarik pribadi seorang pemimpin seperti yang dilakukan Bung Karno. Hingga apabila pimpinan atasan tidak ada, praktis tetap berjalan dengan pimpinan bawahan. Karena selama ini, kata Hatta waktu itu, kalau Sukarno tidak ada, praktis partai tidak berjalan.

I Wangsa Widjaya, dalam buku Mengenang Bung Hatta, menulis, di balik perbedaan yang ada antara kedua tokoh nasional ini, ada sesuatu yang sangat unik. ”Antara Bung Karno dan Bung Hatta telah terjalan satu hubungan yang amat akrab sehingga orang menyebutnya dwitunggal.” Sikap erat kedua tokoh nasional Indonesia ini, sudah ditampakkan pada masa pendudukan Jepang. Bahkan, pada 17 Agustus 1945, saat Bung Karno didesak oleh para pemuda untuk memproklamirkan kemerdekaan, ia menolak sebelum Bung Hatta datang.

Memang kemudian dwitunggal itu tidak berfungsi lagi dengan pengunduran diri Bung Hatta sebagai wakil presiden pada 1 Desember 1956. Karena terjadi beberapa perbedaan prinsipil antara keduanya. Hatta tidak sependapat dengan Bung Karno bahwa revolusi belum selesai dan agak mengenyampingkan pembangunan. Ia berpendapat revolusi sudah selesai dengan tercapainya kermerdekaan.

Menurut Wangsawidjaya, yang waktu itu menjadi sekretaris pribadi Bung Hatta, orang nomor dua di Indonesia ini meletakkan jabatan bukan hanya dikarenakan Bung Karno yang tindakannya sering menyimpang. Terutama, karena keadaan pemerintahan dewasa itu (1950-1958). Saat parpol saling menyerang dan bertengkar secara tidak sehat, karena condong bersikap sebagai orang partai daripada negarawan. Sedang partai yang berkuasa lebih mementingkan politik dan aspirasi partainya katimbang kepentingan bangsa dan negara.

Sekalipun sudah tidak lagi sebagai wakil presiden, tapi perhatian Bung Hatta terhadap nusa dan bangsa tetap besar. Ketika pecah pemberontakan PRRI ia berupaya sekuat tenaga mengusahakan perdamaian antara pusat dan daerah. Indonesia, katanya, tidak boleh pecah, malah harus memperkuat persatuan.

”Empat kali saya berupaya menghalang-halangi (pemberontakan PRRI-pen.), tapi tidak berhasil. Saya tegaskan bahwa tindakan itu akan mencapai sebaliknya dari yang dimaksud, akan menghancurkan apa yang telah dibangun dengan usaha sendiri serta menjadikan Sumatera Barat sebagai padang dilajang gajah, dan last but not least memperkuat semangat diktatur di kalangan pemerintahan.” (Solichin Salam: Sukarno – Hatta).

Hatta sendiri, kepada Solichin menceritakan bagaimana akrabnya ia dan Bung Karno waktu itu. ”Hingga tiap surat yang akan ditandatanganinya ditolak sebelum ada paraf saya. Dan tiap keputusan yang saya ambil Bung Karno selalu menyetujuinya.”

Sedangkan Wangsa, yang menjadi sekretaris pribad Bung Hatta hingga tokoh ini meninggal dunia menyatakan, sekalipun sering terjadi beda pendapat tapi keduanya tidak pernah saling mendendam. Sebagai bukti Bung Hatta tidak dendam pada Bung Karno ialah peristiwa menjelang wafatnya presiden pertama RI ini.

Pada tanggal 19 Juni 1970, atau dua hari sebelum Bung Karno wafat, Bung Hatta dan Wangsawidjaja mengunjungi RSPAD Gatot Subroto untuk menjenguk Bung Karno. Setelah sebelumnya mereka dapat kabar dari Mas Agung (Dirut PT Gunung Agung), bahwa Bung Karno dalam keadaan gawat. Sakitnya Bung Karno ini memang sangat dirahasiakan pemerintah. Karena itulah, Hatta sebelum membesuknya harus minta izin terlebih dulu kepada Pak Harto melalui Sekmil Jenderal Tjokropranolo.

Sesampainya Bung Hatta dan sekretarisnya ke RSPAD mereka mendapatkan bahwa Bung Karno sudah tidak sadarkan diri. ”Saya melihat Bung Hatta begitu sedih melihat keadaan Bung Karno,” tulis Wangsawidjaja. Tapi untungnya tidak lama kemudian Bung Karno siuman.

”O o Hatta, kau ada di sini. Kau juga Wangsa,” ujar Bung Karno perlahan. ”Sebenarnya masih ada ucapan lisan yang dikatakan oleh Bung Karno kepada Bung Hatta. Tetapi, saya tidak tahu persis, karena ucapan Bung Karno terlalu pelan,” tutur Wangsa.

Dan itulah pertemuan terakhir dua bapak bangsa, yang selama puluhan tahun berjuang untuk mencapai kemerdekaan, tanpa peduli harus masuk dan keluar penjara dan diasingkan ke berbagai tempat. ”Suatu pertemuan yang amat mengharukan antara dua orang sahabat,” demikian tulis Wangsawijaya.

Beberapa hari sebelum Bung Karno meninggal dunia, berita sakitnya itu dilaporkan oleh Ali Moertopo, Aspri Presiden kepada Pak Harto di Bina Geraha. Rupanya, waktu itu Ali Moertopo masih menunjukkan ketidaksenangannya kepada Bung Karno. ”Kalau ia meninggal pun saya tidak regret,” katanya kepada pers.

Read Full Post »

Ada istilah Betawi: “Cepeng bau tai ayam.” Kiasan ini diucapkan seseorang untuk menyatakan bahwa dirinya lagi tidak berduit, alias tafran. Tidak punya fulus, kata orang Arab. Bokek, menurut istilah sekarang yang konon berasal dari bahasa Cina. Tapi, mungkin banyak yang tidak tahu apa itu cepeng. Cepeng berasal dari kata fen, satuan mata uang Cina terkecil yang pernah berlaku di Indonesia. Nilainya seperempat sen. Entah karena apa, oleh lidah Betawi disebut peng. Atau cepeng, yang berarti satu peng.

Di Bandar Sunda Kelapa, Pasar Ikan, jauh sebelum kedatangan VOC sudah berdatangan para pedagang Cina. Demikian pula pedagang Arab dan Portugis, hingga berlakunya juga mata uang cruzede (Portugis) dan real (Arab). Pada masa awal VOC, Belanda banyak menggunakan mata uang Cina. Terdiri dari uang logam yang ditengahnya berhuruf Cina, dan dibuat dari timah hitam. Kapiten Cina, Souw Beng Kong, pernah ditugaskan VOC untuk mendatangkan mata uang itu dari daratan Cina.

Kembali pada uang yang berlaku hingga akhir pemerintahan Belanda, ada mata uang yang bernilai setengah sen, dan disebut sepeser. Sepeser ketika itu bisa untuk membeli nasi uduk dan ketan urap. Kalau sekarang murid sekolah harus diberi bekal untuk jajan seribu rupiah, dulu cukup satu sen. Seperti diceritakan H Irwan Syafi’ie, (71 tahun), pengalamannya ketika kecil tinggal di Dukuh Atas, Setiabudi, Jakarta Selatan. “Waktu itu, punya uang sepeser (setengah sen) bisa beli dua potong tahu,” ujarnya.

Uang receh lainnya adalah sepincang atau satu setengah sen. Setelah itu segobang atau sebenggol (dua setengah sen). Uang segobang sampai 1940-an cukup bernilai, karena harga beras sekitar 2 sen hingga segobang per liter. Tapi, harga ini dirasakan sangat tinggi, karena sebelum krisis ekonomi atau yang disebut zaman malaise (1930 – 1934), harga beras satu sen per liter.

Tidak heran, menjelang jatuhnya Belanda ke tangan Jepang (1942), para ibu dan bapak berteriak-teriak minta agar pesawat-pesawat Jepang yang tengah demonstrasi di udara Nusantara segera turun. Dengan harapan, agar harga-harga barang, terutama beras bisa turun kembali menjadi satu sen per liter. Sayangnya, yang terjadi justru kebalikannya, karena selama tiga setengah tahun penjajahan Jepang, puluhan ribu rakyat mati kelaparan. Sementara, sandang hilang dari pasaran, sehingga banyak orang memakai kain dari karung goni.

Kembali ke masa malaise, yang oleh para pejuang dipelesetkan jadi ‘zaman meleset’, Bung Karno dalam harian ‘Fikiran Rakyat’ (1934), mengkritik pemerintah kolonial.Kritik itu dilontarkan karena menderitanya rakyat Indonesia akibat menurunnya pendapatan mereka. “Sebelum zaman meleset pendapatan orang Indonesia 8 sen sehari. Setelah zaman meleset 4 sen sehari. Kemudian merosot lagi menjadi sebenggol (segobang) sehari. Padahal, ransum di penjara yang begitu jelek 14 sen sehari.” Kemudian Bung Karno menceritakan pengalamannya selama di penjara Bancey, Bandung selama 15 bulan dan Sukamiskin di kota yang sama selama 9 bulan.

Harian ‘Sin Po’ (27-3-1933) menulis, “Malaise yang mengamuk di mana-mana telah bikin sengsara dan kelaparan penduduk desa Trogong, Kebayoran.” Trogong, nama desa di Kebayoran Lama kala itu.

Kita kembali kepada mata uang di masa kolonial Belanda. Pecahan di atas segobang adalah sekelip, yang bernilai lima sen. Kemudian sepicis atau 10 sen. Setelah itu 50 sen atau setengah perak. Kemudian berturut-turut satu rupiah, seringgit (dua setengah rupiah), lima rupiah dan sepuluh rupiah. Mendurut H Irwan Syafi’ie, waktu itu jarang orang di kampung melihat uang Rp 5 atau Rp 10 rupiah. Karena gaji satu minggu lima perak sudah sangat besar. Waktu itu, harga kain batik buatan Palmerah hanya sepicis.

Belanda waktu itu juga membuat uang emas dari koin, seperti talenan (25 sen), 50 sen, 1 gulden. Nilai uang emas satu gulden sama dengan 12,5 gulden. Bagi para ibu yang berduit, koin emas ini mereka jadikan kalung dan gelang.

Nilai uang gulden waktu itu memang sangat kuat. Satu dolar Singapura nilainya hanya 85 sen. Tidak heran, kalau harga sebuah rumah cukup besar di kawasan elite Menteng berharga 1.500 rupiah/gulden.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »