Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Doeloe’ Category

Amerika Serikat akan mengerahkan berbagai cara untuk menangkap ‘hidup atau mati’ Osama Bin Laden. Ia dituduh terlibat dalam serangan di gedung WTC dan Pentagon, 11 September lalu. Sejauh ini bukan hanya Osama yang dinyatakan sebagai musuh utama AS. Karena sebelumnya, negara adidaya ini pernah memburu Khadafi. Bahkan kemah pemimpin Libia ini pernah diserang pesawat AS. Presiden Irak, Saddam Husein juga pernah menerima ancaman yang sama. Berbagai cara diupayakan AS untuk menjatuhkan Saddam, termasuk tidak akan menghentikan embargo selama Saddam masih hidup. Tidak peduli puluhan ribu rakyat Irak harus menderita, termasuk balita karena kekurangan gizi dan bahan makanan.

Indonesia sendiri, pernah mengalami ‘perlakuan’ serupa. Presiden Sukarno kerap mendapat ancaman, kecaman, dan teror dari AS. Presiden Sukarno seperti yang dituturkan kepada pengarang AS Cindy Adams, bahwa ketidaksenangan AS terhadap Sukarno dan RI sudah muncul ketika kunjungan pertama Sukarno ke negara Uncle Sam, Mei 1956. Waktu itu, Bung Karno menjelaskan kepada Menlu John Fuster Dulles, dasar politik Indonesia. ”Kami tidak mempunyai hasrat untuk meniru Uni Soviet, juga tidak mau mengikuti dengan membabi-buta jalan yang direntangkan oleh Amerika untuk kami. Kami tidak akan menjadi satelit dari salah satu blok.”

Sayangnya, politik seperti ini disalahartikan oleh AS. Negara superpower ini hanya menyukai bila kita memilih pihak seperti yang dikehendakinya. Politik AS ketika itu demikian kakunya, sehingga negara yang tidak sependapat dengannya dianggap tergolong dalam blok Soviet.

Berkata Menlu AS itu. ”Politik AS bersifat global. Suatu negara harus memilih salah satu pihak. Aliran yang netral adalah immoral (tidak bermoral).”

Bung Karno menilai AS tidak memahami masalah Asia. Dalam salah satu dialognya dengan Presiden Eisenhower, Bung Karno menyatakan sebagai sahabat yang bijaksana dan lebih tua, Amerika bisa saja memberi nasihat kepada Indonesia. ”Memberi kami nasihat ‘bisa’. Akan tetapi mencampuri persoalan kami, jangan.”

Yang menjengkelkan AS, Bung Karno tanpa tedeng aling-aling menyerang agresi AS di Vietnam. Ia bahkan berkali-kali meminta AS agar segera mundur dari Vietnam. Sambil terus mengutuk bom-bom napalm dan persenjataan berat lainnya yang dialamatkan kepada rakyat Vietnam. ”Kalau agresi AS ini kita biarkan, dia akan merupakan bahaya besar bagi seluruh tata hidup internasional.” Jauh sebelum AS menderita kekalahan di Vietnam, Bung Karno memberikan nasihat agar AS segera menarik pasukan-pasukannya dari Vietnam dan seluruh Indocina. ”Jika mereka emoh menarik diri mereka bisa kehilangan segala-galanya.” Apa yang diramalkannya itu menjadi kenyataan. Ketika kemudian seluruh pasukan AS terpaksa harus meninggalkan Vietnam.

Bahkan, menjelang meletusnya G30S/PKI, Bung Karno sudah melakukan persiapan untuk menyelenggarakan Konferensi Internasional Anti-Pangkalan Asing (KIAPMA) di Jakarta. Hampir bersamaan akan diselenggarakan Conefo. Kedua konferensi internasional ini, tegas Bung Karno, untuk ‘meruntuhkan’ hegenomi Nekolim. ”Ini dadaku, mana dadamu.” kata Bung Karno lantang dalam berbagai pidato di banyak tempat.

Pertentangan antara RI-AS mencapai puncaknya ketika pecah pemberontakan PRRI/Permesta. Apalagi Amerika Serikat memberikan bantuan senjata untuk melawan Sukarno. Sementara sebuah pesawat pengebom AS (B-25) ditembak jatuh oleh TNI di Ambon. Pilotnya seorang penerbang Amerika, Allan Lawrence Pope, ditangkap. Usaha-usaha Central Intelegence Agency (CIA) atau Pusat Intelejen AS menjatuhkan pemerintahan Sukarno didukung oleh sebuah task force lepas pantai dari Armada VII AS. (Manai Sophian: Kehormatan Bagi yang Berhak.) Bung Karno juga sering mengatakan bahwa CIA berupaya untuk membunuhnya.

Dalam pidato di PBB berjudul ‘Membangun Dunia Kembali’, Bung Karno terang-terangan menuduh organisasi bangsa-bangsa ini sebagai sarang negara besar dan didominasi oleh kaum imperialis. ”Dengan menguntungkan Israel dan merugikan rakyat Arab, PBB harus diretul,” katanya. Dan, Indonesia pun kemudian keluar dari PBB.

REPUBLIKA – Minggu, 23 September 2001

Iklan

Read Full Post »

Baron van Imhoff

Di Jl Kalibesar Barat, Jakarta Kota, terdapat sebuah gedung besar yang hampir keseluruhan bangunannya didominasi warna merah. Warna yang menurut warga keturunan Tionghoa diyakini sebagai pembawa hokie alias keberuntungan, merupakan salah satu gedung peninggalan VOC yang masih tersisa. Karena mencoloknya warna merah, tidak heran kalau gedung ini dinamakan ‘Toko Merah’. Dibangun 1730 atau 269 tahun lalu, gedung yang kala itu terletak di pusat kota Batavia paling elite, pernah menjadi tempat tinggal gubernur jenderal Baron Gustav Wilhelm van Imhoff (1705-1750).

Bangunan yang terdiri dari dua gedung ini sempat beberapa kali ganti pemilik. Bangunan ini pernah dimiliki anak Gubernur Jenderal Mossel yang bernama Philippine Theodore Mossel. Selanjutnya didiami janda Gubernur Jenderal Renier de Klerk dan janda Gubernur Jenderal van der Parra. Pada 1743 – 1755 dijadikan Akademi Angkatan Laut, tempat VOC mendidik kader-kadernya dibidang pelayaran dan perkapalan.

Bangunan ini, dan sedikit bangunan yang masih tertinggal di sepanjang Kalibesar Barat dan Timur di tepi Ciliwung membentuk suatu lingkungan kesejahteraan yang mengingatkan lingkungan perkotaan Eropa masa lampau. Kini, Pemda DKI Jakarta melalui revitalitasi kota tua, ingin memancing para wisman (wisatawan asing) agar mendatanginya.

Baron van Imhoff, yang pernah mendiami ‘Toko Merah’ merupakan salah satu dari empat gubernur jenderal VOC yang pernah memerintah di Hindia Belanda berkebangsaan Jerman. Imhoff dan banyak imigran Jerman lainnya, sejak awal berdirinya VOC telah berdinas dalam kongsi dagang di Asia Timur itu. Pada 1790 – 1808, di Batavia, Semarang, dan Makasar terdapat tidak kurang dari 2.000 tentara bayaran Jerman yang didatangkan oleh VOC. Mereka dari resiman ‘Wurttemburg’. Entah karena apa, resimen ini dibubarkan oleh Gubernur Jenderal Daendels pada 1808. Akhirnya, Daendels sendiri tidak berhasil mempertahnkan Batavia ketika diserang Inggris pada 1811.

Imhoff, beserta tiga gubernur jenderal VOC yang berasal dari Jerman, beruntung telah menjadi orang nomor satu di Hindia Belanda. Dalam sejarah VOC di Batavia, Imhoff dikenal sebagai salah satu gubernur jenderal VOC yang berhasil. Sekalipun ia meniti karir di VOC berkat mertuanya mantan gubernur jenderal Hyusman van der Hille tapi sejak mudanya Imhoff menjadi perhatian berkat usul-usulnya yang radikal. Boleh dikata, ia-lah salah satu gubernur jenderal yang telah melakukan reformasi di tubuh VOC, memberantas KKN yang terjadi di tubuh para pejabat VOC, mulai dari tingkat paling rendah hingga paling tinggi.

Boleh dikata, anak keturunan Jerman ini menjadi gubernur jenderal berkat kesalahan fatal yang dilakukan oleh atasannya, Gubernur Jenderal Adrian Valckenier sebagai orang yang digambarkan tidak berniat menghapuskan KKN di tubuh VOC. Kesalahan fatal yang dilakukan Valckenier adalah: entah karena alasan apa ia mengeluarkan maklumat atau ‘dekrit’ pada 9 Oktober 1740. Merasa mendapat perlawanan dari keturunan Tionghoa di Batavia terhadap kebijakannya, ia naik pitam. Tidak tanggung-tanggung, isi dekrit yang dikeluarkan Valckenier memerintahkan seluruh prajurit VOC untuk membunuh dan menghabisi keturunan Cina beserta keluarganya.

George Bernhard Schwarz dari Jerman menceritakan dalam bukunya yang terbit 1751 berjudul : “Hal-hal yang luar biasa”. Ia menceritakan keterlibatannya dalam pembantaian dan amuk di luar perikemanusiaan itu. Schwarz menceritakan bagaimana ia membunuh tetangganya sekeluarga (Tionghoa), padahal sebelumnya ia tidak mempunyai masalah dengan mereka dan berhubungan dengan baik. Menurut buku tersebut, sekitar 24 ribu orang Cina laki-laki, wanita, anak-anak, orang tua, dan pasien rumah sakit dihabisi nyawanya. Keterangan jumlah korban menurut versi Jerman ini bertentangan dengan versi Belanda, yang menyebutkan korban sekitar 5.000 hingga 10 ribu jiwa.

Imhoff sendiri yang kala itu menjadi orang kedua atau wakil gubernur jenderal VOC menentang dikeluarkannya ‘dekrit’ oleh atasannya. Akibatnya, Volckenier memerintahkan tentara untuk menangkap Imhoff dengan alasan tidak patuh pada perintah atasan (desartir). Imhoff kemudian dikirim ke Belanda untuk menjalani hukuman. Tapi, ketika berita pembantaian luar biasa ini sampai di Negeri Belanda, justru sang gubernur jenderal yang dipersalahkan. Akhirnya, Valckenier dipenjara seumur hidup, dan Imhoff yang telah diangkat untuk menggantikannya ditunjuk untuk melaksanakan hukuman tersebut. Imhoff meninggal pada 1751 dalam usia 46 tahun dan dimakamkan di Gereja Belanda di dekat Stadhuis (kini Museum Sejarah DKI di Taman Fatahillah).

REPUBLIKA – Minggu, 19 Agustus 2001

Read Full Post »

Trem 545 Kuda

Rencana pembangunan angkutan massal di Jakarta, belum kunjung tuntas. Dulu, Jakarta pernah mempunyai angkutan massal: trem kuda. Ia menjadi angkutan umum yang paling digemari kala itu. Trem berupa kereta panjang yang dapat memuat 40 penumpang, berjalan di atas rel dan ditarik empat ekor kuda. Trem yang menggunakan tenaga binatang, sebelum adanya trem uap dan listrik, diresmikan 10 Agustus 1869. Trayek di mulai dari Amsterdam Poort (kini Kota Inten) – Binnen Nieuwpoort Straat (Jl Pintu Besar Utara), trem terus menyusuri Molenvliet (Jl Gajah Mada-Hayam Wuruk) dan berakhir di Harmonie.

Trem kuda yang disebut tramway waktu itu satu-satunya angkutan umum dalam kota yang dapat menampung banyak penumpang, seperti juga bus kota saat ini. Dua bulan kemudian (Juni 1869), trayeknya ditambah dari Harmoni ke Tanah Abang. Kemudian Harmoni – Rijswijk (Jl Veteran) – Kramat – dan berakhir di Meester Cornelis (Jatinegara).

Bila waktu itu kita mendengar suara terompet di tengah-tengah keramaian kota, harap maklum. Suara ini berasal dari kereta kuda. Karena kusir menggunakan terompet sebagai pengganti klakson. Ongkosnya juga tidak mahal. Tiap trayek hanya 10 sen agar dapat menjangkau masyarakat luas. Setiap kali ada penumpang yang akan turun, penjual karcis membunyikan lonceng. Mendengar bunyi lonceng, kusir akan memutar alat seperti kompas yang berfungsi sebagai rem.

Adanya kereta kuda ini, rupanya membuat banyak masalah waktu itu. Terutama dari segi kebersihan. Karena binatang ini ketika buang hajat tidak mengenal tempat. Demikian pula saat kencing. Sehingga jalan-jalan yang dilewati penuh kotoran dan air kencing kuda.
Yang paling menyedihkan adalah kuda-kuda sering kewalahan karena menarik penumpang demikian banyak. Harian Java Bode yang terbit di Batavia melaporkan, dalam 1872 saja sebanyak 545 kuda meninggal. Antara lain disebabkan kelelahan. Padahal ada ketentuan binatang ini hanya diperbolehkan menarik trem tidak lebih satu kali tiap trayek.

Sepanjang Binnen Nieuwpoort Street (Pintu Besar Utara) ke Molenvliet (Jl Hayam Wuruk-Gajah Mada), kereta melewati gedung-gedung megah yang mulai banyak dibangun kala itu. Seperti Nederlandsch Indische Escompto Maatchappij, dengan gedungnya yang megah dan kini bekas gedung Bank Dagang Negara (BDN). Escompto adalah bank kedua terbesar di Nusantara, setelah Java Bank.

Sampai sekarang, mereka yang berusia lanjut masih menyebutnya Eskomto. Letaknya dekat Musium Sejarah DKI. Bank ini didirikan 1857, bersamaan dengan dibangunnya gedung-gedung megah di kawasan Kota, oleh pengusaha-pengusaha Eropa dan Cina. Hanya Dasaad Musim Concern satu-satunya perusahaan pribumi yang mendirikan kantor di sini. Satu-satunya pula perusahaan milik keturunan Arab adalah NV Marba. Sekalipun waktu itu orang-orang Eropa umumnya sudah pindah ke selatan (Weltevreden), tapi pabrik dan kantor mereka tetap di Jakarta Kota atau Batavia Centrum.

Trem kuda dari Kota ke Harmoni menyusuri kawasan Glodok, yang sejak masa VOC merupakan pusat perdagangan paling bergengsi. Di pusat pertokoan Harco, Glodok, waktu itu masih ditempati kantor polisi, Seksi II. Di sini pada 1926 terjadi peristiwa yang menggemparkan kota Batavia. Ketika 200 orang yang tergabung dalam Komite Aksi Pemberontakan menyerbu penjara polisi seksi II ini. Penyerbuan dilakukan waktu bioskop ‘Orion’ yang bersebelahan bubar. Hingga massa yang memberontak menyatu dengan rakyat, guna menghindarkan kecurigaan polisi. Mereka yang ditangkap oleh pemerintah kolonial sebagian besar ke Boven Digul (Irian Jaya).

Belanda menuduh mereka digerakkan oleh PKI. Padahal, banyak di antaranya dari kelompok Islam dan nasionalis yang berjihad melawan penjajah.

Di depan gedung Museum Sejarah, dulunya merupakan kantor pos dan telegraf pertama di Batavia. Telegraf pertama Batavia – Buintenzorg (Bogor) dibuka 1871.

Di samping kanan museum sejarah, terdapat gedung Museum Wayang. Gedung ini merupakan gereja tertua di Jakarta, dibangun 1640. Untuk melayani kebutuhan beribadah penduduk sipil Eropa dan tentara Belanda yang tinggal di Batavia.

Di halaman bagian belakang (dekat sungai Ciliwung), dulunya tempat pemakaman Kristen. Pendiri kota Batavia, JP Coen dimakamkan ditempat ini.

Kita kembali ke trem kuda. Trem kuda tamat riwayatnya pada 1881 ketika digantikan oleh trem uap. Pada 1899 kendaraan umum di Batavia didominasi oleh trem listrik. Yang terakhir ini pun berakhir pada awal 1960-an.

REPUBLIKA – Minggu, 29 Juli 2001

Read Full Post »

Naik Joli ke Buitenzorg

Bogor atau Buitenzorg kini sudah menyatu dengan Jakarta. Angkutan umum Jakarta – Bogor tidak pernah henti selama 24 jam. Entah berapa puluh kali KRL pulang pergi mengangkut penumpang yang berjubelan tiap hari. Dahulu, sebelum dibuka jaringan kereta api (1873), mereka yang ingin pergi ke Bogor harus berpikir dua kali. Bahkan, sampai pertengahan 1950-an, hanya ada satu jalan ke Bogor melalui Cibinong. Angkutan didominasi oleh ‘oplet si Doel’, yang harus tersendat-sendat karena jalan rayanya hanya dua jalur. Jalan raya Ciputat – Parung – Bogor masih jalan tanah.

Jalan raya Jakarta – Bogor yang jaraknya 60 km dibangun pada masa gubernur jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811). Ia juga membangun Istana Buitenzorg alias ‘Sains Souci’ terletak disebuah perbatasan perkebunan kopi yang namanya sama. Dikabarkan, Daendels pergi ke Bogor dengan menaiki kereta yang ditarik 30 ekor kuda. Untuk tiap saat siap menghadapi lumpur di kota hujan ini.

Sedangkan masyarakat awam pergi ke Bogor menggunakan kahar –sejenis pedati yang ditarik dua ekor kuda. Kahar mampu mengangkut empat penumpang. Ongkos borongan ke Bogor 12,5 gulden. Ongkos ini cukup mahal bila diingat harga beras 3,5 sen per kg. Jadi, naik kahar borongan, nilainya lebih dari harga 300 kg beras. Untuk bisa mencapai Bogor, ada pula yang naik perahu.

Jika bepergian sendirian, bisa menyewa joli. Joli adalah tandu yang dipikul empat orang. Dua di depan, dua di belakang. Naik joli makan waktu lebih lama dari waktu tempuh naik kahar yang mencapai 8 – 10 jam. Apalagi jalan Jakarta – Bogor masih sunyi. Jarang ditemui warung atau rumah makan ditengah jalan. Hingga mereka yang bepergian harus menyediakan bekal makanan dan minuman cukup banyak.

Tidak jelas berapa ongkos angkut dengan joli. Tapi sejauh ini tidak ada laporan terjadi perampokan atau kejahatan ditengah perjalanan. Yang bikin susah para kulit angkut joli adalah bila sang penumpang ‘membuang gas’. Udeh cape-cape, baunya tidak ketolongan. Bepergian ke Bogor, baik melalui kahar atau joli waktu itu dari pusat kota Batavia. Yakni di Jl Pos atau Grote Postweg depan gedung Museum Sejarah DKI Jl Fatahila, dekat stasion KA Kota. Di tempat inilah para sais kahar dan kuli angkut ngetem menunggu penumpang.

Ketika trem listik mulai beroperasi, tempat ini dijadikan akhir pemberhentian untuk jurusan Meester Cornelis (Jatinegara) – Kota. Di dekatnya terdapat gedung Nederlandsche Handel Maatchappij (NHM) yang hingga kini masih tampak megah dan digunakan oleh Bank Eksim. Hingga 1970-an orang menyebutnya gedung Faktori dari kata Belanda de Factorij.

Keberadaan NHM perlu kita angkat, karena ia merupakan reinkarnasi dari VOC yang dibubarkan 1799. VOC bangkrut akibat korupsi yang tidak mengenal batas. Maklum yang namanya KKN dikenal sejak dulu. Keberadaan NHM tidak dapat dilepaskan dari ‘sistem tanam paksa’-nya gubernur jenderal Van den Bosch (1830-1833). NHM-lah, sebagai penyalur berbagai produk ekspor itu ke Eropa. Sistem tanam paksa ini telah menyengsarakan jutaan rakyat Indonesia, dan menyebabkan kematian ribuan orang. Sementara negeri Belanda mengeruk keuntungan berlimpah-limpah. Hampir 50 persen anggarannya waktu itu berasal dari sistem yang nyata-nyata melanggar HAM, mengeksploitasi manusia terhadap manusia dengan kejam.

Pada masa Inggris, Sir Thomas Stamford Raffles (1811 – 1815), sangat menyenangi kota hujan ini. Raffles berjasa dalam membangun Kebun Raya Bogor, bersebelahan dengan istana. Bahkan istri pertamanya, Olivia Miriamne, dimakamkan di Kebon Raya. Pendiri kota Singapura ini, boleh dikata selama empat tahun pemerintahan Inggris di Nusantara, jarang berada di Batavia. Sekalipun ia membeli dan membangun rumah mewah di Rijswijk yang kemudian menjadi Hotel der Nederlanden. Oleh Bung Karno kemudian dijadikan Markas Besar Cakrabirawa (pengawal khusus Presiden). Kemudian oleh Pak Harto dijadikan gedung Bina Graha.

Raffles lebih banyak berada di lingkungan Istana Bogor yang dibangun Daendels. Ia mengadakan perjalanan dari Batavia ke Buitenzorg dengan kereta kebesarannya, ditarik delapan ekor kuda. Ia juga sering tinggal di Istana Cipanas. Di kedua istana ini, Raffles sering berpesta-pora dengan jamuan mewah dan banjir sampanye. Sampai ada tamu-tamu yang pulang dengan ‘teler’.

Bung Karno sering berada di Istana Bogor. Termasuk mengadakan sidang kabinet dan mengambil berbagai keputusan penting. Surat Perintah 11 Maret 1966 yang terkenal, dikeluarkan di Istana Bogor. Dalam salah satu wasiatnya (24 Mei 1965), Bung Karno minta agar bila ia meninggal dunia dimakamkan di Kebun Raya Bogor dekat kolam pemandian yang membukit.

Presiden Wahid baru-baru ini juga ingin mengadakan pertemuan penting dengan para pimpinan parpol di Istana Bogor. Tapi, pertemuan ini gagal karena yang hadir hanya Matori Abdul Jalil. Maka Presiden entah untuk ke berapa kalinya kembali mengancam: memberlakukan keadaan bahaya, membubarkan DPR/MPR bila rekonsiliasi nasional tidak tercapai. Apa yang akan terjadi pada 20 Juli, batas ancaman itu ??

REPUBLIKA – Minggu, 15 Juli 2001

Read Full Post »

Angke atawa Kali Merah

Kali Angke yang melewati Jakarta Kota diberitakan mengalami polusi berat. Akibat segala macam sampah, limbah pabrik dan industri yang tumplek hingga membebani kali Angke. Kali ini merupakan satu saksi sejarah terhadap peristiwa paling menyedihkan dan mungkin paling menyeramkan di Jakarta.

Ketika itu, Oktober 1740, Belanda melakukan pembantaian terhadap 10 ribu orang Cina di Glodok. Konon, sungai yang kala itu masih jernih berubah menjadi merah karena darah. Banyak mayat yang digelimpangkan di sungai ini. Menurut bahasa Hokian, kata Ang berarti merah dan ke sungai atau kali. Jadi Angke adalah ‘Kali Merah’. Seperti kata angpau yang berarti amplop merah.

Dalam peristiwa kerusuhan ini, anak-anak, wanita dan para manula tanpa ampun telah ikut dibantai secara kejam, termasuk para pasien di rumah sakit. Seluruh milik orang Cina dibakar atau dijarah oleh VOC yang juga mengajak penduduk setempat. Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier (1695-1751), yang bertanggung jawab terhadap peristiwa ini, kemudian diadili di Belanda. Seperti juga pengadilan PBB terhadap mantan presiden Yugoslavia, Slobadan Milosevic di negeri yang sama. Milosevic, oleh pengadilan internasional dituduh sebagai jagal yang harus bertanggungjawab atas pembunuhan ribuan Muslim Bosnia dan Albania.

Di sepanjang kali Angke, terdapat beberapa jembatan. Ada jembatan kambing di Pekojan. Dinamakan demikian karena kambing-kambing yang akan dipotong melewatinya ketika menuju ke rumah pemotongan hewan (RPH). Maklum, penduduk Pekojan waktu itu didominasi keturunan dari Hadramaut. Rasanya kurang afdol bila makan tanpa daging kambing.

Berdekatan dengan Kali Angke, terdapat Jalan Bandengan Utara dan Jalan Bandengan Selatan. Ditengahnya terdapat Kali Bandengan. Dulunya merupakan kanal yang dalam Belanda disebut gracht. Waktu itu, kedua jalan ini bernama Amanusgracht Noord (Bandengan Utara) dan Amanusgracht Zuid (Bandengan Selatan). Tidak diketahui apakah nama ‘bandengan’ punya kaitan dengan ikan bandeng. Ikan paling mahal waktu itu.

Yang pasti, bagi etnis Cina tempo doeloe, apabila pada cap go meh (pesta malam ke-15 setelah tahun baru Imlek), calon menantu tidak datang mengantar bandeng, bisa runyam. Menantu macam begini tidak punya liangsim (malu) dan tidak menaruh hormat pada mertoku (mertua). Bisa-bisa asmaranya putus ditengah jalan.

Rupanya banyak pengaruh bahasa Belanda terhadap nama jalan maupun tempat di Jakarta. Seperti di dekat pusat perdagangan Glodok terdapat Jl Pinangsia. Konon, jalan yang selalu ramai ini berasal dari kata Financien. Yang dalam Belanda artinya keuangan. Ada yang mengatakan ditempat ini pernah terdapat department van financien atau departemen keuangan. Kata financien oleh lidah Betawi menjadi Pinangsia.

Kearah utara dari pertokoan Harco di Glodok, terdapat stasiun kereta api Jakarta Kota. Orang-orang tua hingga kini lebih mengenal sebagai stasion Beos. Beos kata singkatan dari Belanda, entah apa artinya. Stasiun ini dibangun 1928 dan usai 1929. Stasiun ini untuk jalur kereta api Batavia – Buitenzorg (Bogor), setelah beroperasinya kereta api pada 1873. Arsitek pembangunannya adalah Ir Johan Ghijsels (1882-1947), warga Belanda lahir di Tulungagung, Jatim. Ia juga mengarsiteki pembangunan gedung yang kini ditempati Bappenas di Jl Imam Bonjol, gedung KPM (kini Ditjen Perla di Merdeka Timur), RS KPM (kini RS Pelni) di Jatipetamburan.

Di depan stasiun KA Jakarta Kota, terdapat gedung Diklat Bank Indonesia. Dulunya gedung ‘De Javasche Bank’, yang sejak 1953 ganti nama jadi Bank Indonesia (BI). ‘De Javaasche Bank’ didirikan 1828. Tapi, ketika itu nasabahnya kebanyakan orang Belanda dan Cina. Mungkin takut dianggap riba, orang waktu itu lebih senang menyimpan uang ‘dibantal’. Apalagi hampir seluruh penduduk masih BH (butahuruf). Tapi, yang pasti, kurs gulden yang menjadi mata uang waktu itu nilainya sangat stabil. Tidak goncang-gancing seperti sekarang yang bikin BI pontang-panting untuk menstabilkan rupiah, yang tidak juga berhasil.

Gedung ‘De Javasche Bank’ sebelumnya merupakan rumah sakit militer. Sedangkan didekatnya terdapat sebuah rumah sakit yang dibangun orang Cina. Di rumah sakit inilah, para pasien ikut dibantai pada peristiwa Oktober 1740. Kemudian orang Cina mendirikan RS Jang Seng Ie di Manggabesar. Setelah kemerdekaan, ganti nama jadi RS Husada hingga kini.

REPUBLIKA – Minggu, 08 Juli 2001

Read Full Post »

Kini banyak peristiwa kejahatan menimpa kaum wanita. Lebih-lebih pada malam hari, kaum wanita, ketika naik taksi, sering jadi korban penodongan. Termasuk para ibu rumah tangga ketika kediamannya disatroni perampok.Karena itu, di masyarakat Betawi terdahulu tradisi ‘maen pukulan’ atau pencak silat sudah mendarah daging termasuk di kalangan kaum wanita. Mereka belajar ‘maen pukulan’ dari jurus dasar sampai jurus pamungkas.

Dalam cerita-cerita rakyat Betawi kerap kali muncul jago-jago dari kaum perempuan. Mereka dengan gagah membela rakyat tertindas, menentang pemimpin yang zalim, dan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Salah satu pendekar silat wanita yang cukup dikenal adalah Mirah, yang memperoleh gelar ‘singa betina dari Marunda’ berkat keberanian dan kelihaiannya main giksaw. Mirah, dalam terminologi gender, bukan seorang tokoh emansipasi namun seorang pejuang dalam arti sebenarnya.
    
Kampung Marunda, di tepi pantai yang pernah menjadi salah satu markas balatentara Islam Mataram ketika menyerang Batavia (1628-1629), sejak dulu memiliki banyak pejuang yang bergabung dengan Mataram melawan Kompeni. Bahkan, di sini terdapat Masjid Al-Alam, yang menurut cerita dibangun oleh pasukan Falatehan ketika mengusir Portugis dari Sunda Kalapa.

Ketika terjadi revolusi (perang kemerdekaan) melawan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) yang datang ke Indonesia setelah proklamasi 17 Agustus 1945 dengan mendompleng Sekutu (Inggris), rakyat Marunda banyak menjadi korban dalam mempertahankan kemerdekaan.

Mirah, serta kawan-kawan wanitanya, ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan. Karena keberaniannya inilah yang menyebabkan dia diberi gelar ‘singa betina dari Marunda’. Memang tidak banyak diketahui cerita tentang Mirah. Dalam buku Beksi Maen Pukulan Khas Betawi, dua seniman Yahya Andi Saputra dan H Irwan Syafi’ie sedikit mengangkat tokoh wanita ini, disamping sejumlah pemain silat lainnya.

Di samping Mirah, ada lagi pejuang perempuan Betawi yang juga ahli ‘maen pukulan’. Dia adalah Nyi Mas Melati dari Tangerang. Di kota sebelah barat Jakarta ini, juga pada revolusi fisik (1945), dia tidak gentar berada di garis depan melawan pasukan NICA. Seperti juga Mirah, pada saat revolusi sejumlah wanita aktif membantu para pejuang di garis depan sekalipun hanya sebagai pensuplai makanan dan obat-obatan.
    
Perkumpulan pencak silat tidak menutup diri pada masalah-masalah sosial. Sejumlah jawara atau jagoan Betawi ikut terlibat dalam berbagai pemberontakan para petani seperti di Condet, Jakarta Timur (1916), Slipi, Tanah Abang dan Cakung (1913), serta Tangerang 1924 dan Tambun (1869). Mereka berontak mencegah pasukan VOC dan tuan tanah jahat yang akan melakukan penyitaan terhadap kediaman para petani karena tidak sanggup membayar blasting(pajak) hasil bumi.

Ini membuat para pendekar silat di Betawi selalu dicurigai penjajah. Tidak seorangpun pendekar (baik jago maupun jagoan) dari generasi terdahulu yang bersedia menyebutkan siapa gurunya. Dahulu latihan ‘maen pukulan’ sifatnya tertutup. Bahkan, ada yang memulai latihan pada tengah malam dan berakhir menjelang siang.

Di tempat latihan ‘maen pukulan’ ini sifat kependekaran ditempa. Adat pendekar Betawi adalah menang buah menang papan. Artinya, berantem menang, perkara di pengadilan juga harus menang. Karena itu, kiat untuk memenangkan perkara di pengadilan juga dibahas  di tempat latihan ‘maen pukulan’.
    
Sejak 1950-an tempat latihan ‘maen pukulan’ yang tertutup berubah menjadi perguruan silat Betawi yang terbuka. Misalnya, Perguruan Silat Pusaka Sentra Kencana (berdiri 1952), Perguruan Silat Pendidikan Sinar Paseban,  Kampung Kramat Sawah III (juga berdiri 1952), dan Perguruan Silat Putera Utama, Kayu Manis (berdiri 1960).

Aliran silat Sabeni (namanya di abadikan menjadi nama jalan di Tanah Abang), yang terkenal dengan juruskelabang nyebrang  dan merak ngigel diasuh oleh keturunan Sabeni sendiri. Ia adalah jagoan dari generasi sebelum perang dunia II. Ia lahir (1865) di Tenabeng, yang kini menjadi nama jalan Sabeni.

Seorang jago, menurut H Irwan Syafi’ie,  adalah seorang yang bijak dan mau membantu orang yang sedang kesusahan, serta menolong orang yang lemah.  Seorang yang disebut jago akan segera bertindak untuk mendamaikan orang atau kelompok yang sedang ribut/berkelahi, sekaligus memberi nasihat yang baik. Dia pun tidak mau membuat kesalahan, seperti menyinggung perasaan orang lain, memaki, memukul, apalagi sampai melukai dan membunuh.

Seorang jago mempunyai falsafah, hidup dan mati seorang manusia tergantung bagaimana amal perbuatannya.Karena falsafah hidup yang Islami itulah, maka hubungan mualim (guru agama) dengan jagoan tidak konfrontatif bahkan ada hubungan fungsional antara keduanya. Jagoan membaca doa-doa tertentu untuk peningkatan ‘maen pukulan’-nya. Senjata-senjata jagoan seperti golok, atau pisau raut biasanya diberi wafak pada bilah logam tersebut. Yang mengajarkanwafak adalah mualim.

Karena itu, banyak jagoan Betawi yang melaksanakan rukun Islam kelima. Seperti H Entong Gendut (Condet), Haji Ung (Kemayoran-kakek dari almarhum Benyamin S), Haji Darip (Klender), Haji Asenie (Petamburan), Haji Madalih Pitung (Kreo, Ciledug) dan masih banyak lagi.

Bagi jago atau jagoan Betawi istilah lu jual, gua beli ternyata bukan hanya sekedar gertak sambel tapi sudah menjadi tekad menjaga ketenteraman dan ketertiban ibukota. Seperti saat para jagoan berada dalam organiasi COBRA pimpinan Kapten Imam Syafe’ie.

Read Full Post »

 

Kursus Bahasa Jepang/Arsip Nasional RI

Kursus Bahasa Jepang/Arsip Nasional RI

Foto ini mengabadikan peristiwa yang terjadi pada awal pendudukan Jepang (1942). Tampak para ibu tengah mengikuti kursus bahasa Jepang di sebuah kampung di Jakarta. Meskipun hanya berkuasa 3 1/2 tahun, tapi pemerintah balatentara Jepang dalam Perang Dunia ke-2 melawan Sekutu, mewajibkan rakyat Indonesia mempelajari bahasanya. Bukan hanya di sekolah dan universitas, juga di kampung-kampung diadakan kursus kilat. Untuk itu wanita Jepang didatangkan untuk memberikan pelajaran. Serperti tampak di foto seorang wanita Jepang sedang memberikan arahan pada seorang ibu.

 

Wanita Indonesia ketika itu belum mengenakan jilbab yang menjamur seperti sekarang ini. Yang juga menarik, busana wanita ketika itu berkebaya dan kain batik. Seragam ini yang merupakan khas wanita Indonesia kini hampir tidak kelihatan lagi. Rambut mereka di konde sedangkan para gadis dikepang, yang juga sudah banyak menghilang sekarang. Wanita kota sekarang berkonde dan mengepang rambutnya dianggap berabe. Berjilbab dianggap lebih praktis. Tidak heran kalau di pasar-pasar tradisional maupun mal dan pusat-pusat grosir busana Muslim selalu tersedia.

Mengenakan jilbab dan busana Muslim dewasa ini makin modis. Apalagi sejak disponsori oleh Ida Royani. Kemudian, diikuti oleh Inneke Kusherawati dan Ratih Sanggarwati. Kedua selebritis ini makin cantik dan anggun setelah memakai jilbab dam busana Muslimah. Apalagi busana ini disertai dengan berbagai aksesoris menarik.Kembali ke masa pendudukan Jepang (Maret 1942-Agustus 1945), merupakan masa paling susah bagi rakyat Indonesia. Banyak orang hidup melarat hingga tidak sedikit yang menderita busung lapar (hongeroedeen).Itu karena banyak hasil panen harus diserahkan pada tentara pendudukan Jepang untuk konsumsi tentaranya di medan perang.

Ratusan ribu orang harus jalani kerja paksa. Sebagai contoh dari 22 ribu romusha yang dikirim ke Pakanbaru untuk membangun jalan kereta api yang hidup sekitar lima ribu orang setelah perang berakhir. Seluruhnya 4,1 juta orang yang mengikuti romusha. Dari Jakarta saja delapan ribu orang. Korban selama pendudukan Jepang yang sangat memprihatinkan ialah budak seks atau istilah dalam bahasa Jepang jungun ianfu. Mereka adalah para wanita yang dipaksa harus melayani kebutuhan seks para prajurit Jepang yang bertugas di Indonesia.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »