Feeds:
Pos
Komentar

Kisah-kisah dari Condet

Belum lama berselang, Gubernur DKI Fauzi Bowo telah meresmikan pemancangan tiang pertama pembangunan jembatan Kali Ciliwung yang menghungkan Pasar Minggu dan Condet.

Sejak jembatan itu jebol karena dilanda banjir Pebruari lalu, warga Condet yang ingin ke Pasar Minggu mengalami kesulitan. Mereka harus melalui jembatan darurat dari kayu, yang tidak bisa lagi dilalui kendaraan bermotor. Akibatnya, ratusan tukang ojek yang mangkal di kedua kawasan di Jakarta Timur itu berkurang penghasilannya.

Condet, yang gagal menjadi cagar budaya Betawi, namanya berasal dari nama sebuah anak sungai Ci Liwung yaitu Ci Ondet. Ondet, atau ondeh, atau ondeh-ondeh, adalah nama pohon semacam buni, yang buahnya biasa dimakan.

Data tertulis pertama yang menyinggung Condet adalah catatan perjalanan Abraham van Riebeek, waktu masih menjadi direktur jenderal VOC (sebelum menjadi gubernur jenderal). Riebeek dan rombongannya, pada 24 September 1709, berjalan melalui anak sungai Ci Ondet. Kala itu pusat kegiatan VOC berada di Pasar Ikan, Jakarta. Dari sini sejauh kurang lebih 15 km ia dan rombongan menyusuri sungai.

Keterangan kedua terdapat dalam surat wasiat Pangeran Purbaya — salah seorang putra Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten. Sebelum dibuang oleh Belanda pada April 1716, pangeran menghibahkan beberapa rumah dan sejumlah kerbau di Condet kepada anak-anak dan istrinya yang ditinggalkan.

Keterangan ketiga, adalah resolusi pimpinan Kompeni di Batavia tertanggal 8 Juni 1753, yaitu keputusan tentang penjualan tanah di Condet seluas 816 morgen (52.530 ha), seharga 800 ringgit kepada Frederik Willem Freijer. Kemudian kawasan Condet menjadi bagian dari tanah partikulir Tandjoeng Oost (Tanjung Timur), atau Groeneveld.

Kawasan Condet yang gagal dijadikan cagar budaya Betawi — meliputi tiga kelurahan, yaitu Batuampar, Kampung Tengah (dulu disebut Kampung Gedung) dan Balekambang. Ada legenda yang melekat pada nama Batuampar, sebagaimana diceritakan para orang tua di Condet kepada Ran Ramelan, penulis buku kecil berjudul Condet.

Pada jaman dulu ada sepasang suami istri bernama Pangeran Geger dan Nyai Polong, yang memiliki beberapa orang anak. Salah seorang anak gadisnya diberi nama Siti Maemunah, yang kesohor ke seantero tempat karena kecantikannya. Suatu ketika Maemunah dilamar oleh Pangeran Tenggara asal Makasar yang tinggal di sebelah timur Condet, untuk putranya, Pangeran Astawana.

Lamaran itu diterima dengan syarat asal dibangunkan sebuah rumah dan sebuah tempat bersenang-senang di atas empang, dekat kali Ciliwung yang harus selesai dalam waktu semalam. Permintaan itu disanggupi, dan terbukti, menurut sahibulhikayat, esok harinya sudah tersedia rumah dan sebuah bale di sebuah empang pinggir Ciliwung, sekaligus dihubungkan dengan jalan yang diampari batu, mulai dari tempat kediaman keluarga Pangeran Tenggara.

Tempat jalan yang diampari batu itu selanjutnya disebut Batuampar. Sedangkan bale (balai) peristirahatan yang seolah-olah mengambang di atas air kolom itu diberi nama Balekambang.

Kelurahan Kampung Gedong (kini Kampung Tengah) dinamakan demikian karena di sana berdiri sebuah gedung peristirahatan (landhuis) tuan tanah, pemilik tanah partikulir Tandjoeng Oost (Tanjung Timur). Gedung yang terletak di depan Rindam Jaya (dahulu halamannya sangat luas) itu oleh pemiliknya diberi nama Groeneveld, yang berarti Lapangan Hijau. Dari gedung ini mulai dari Tanjung Priok (jalan menuju Depok) sampai ke perempatan Pasar Rebo, Jalan Raya Bogor, terbentang jalan yang dulu kanan kirinya ditanami pohon asam.

Tuan tanah pertama dari kawasan itu adalah Pieter van de Velde, asal Amersfoort (Belanda), yang pada pertengahan abad ke-18 berhasil memupuk kekayaan, berkat kedudukannya yang kini dikenal dengan istilah basah. Setelah peristiwa pemberontakan Cina (Oktober 1740), dia berhasil menguasai tanah-tanah kapiten Cina Ni Hu-kong, yang terletak di selatan Meester Cornelis (Jatinegara) sebelah timur kali Ciliwung.

Setelah ditambah tanah-tanah partikulir lainnya yang dibelinya sekitar tahun 1750, maka terbentuklah Tanah Partikelir Tandjong Oost. Tanjung Timur mengalami perkembangan pesat saat dikuasai Daniel Cornelius Helvetius, yang berusaha menggalakkan pertanian dan peternakan.

Villa Tanjung Timur kini sebagian dijadikan asrama Polri dan 1972 sebagian lagi terbakar merupakan tempat singgah para petinggi VOC ketika mereka melakukan perjalanan ke Buitenzorg (Bogor) dengan menggunakan kereta kuda.

Di villa itu pada 1749 berlangsung pertemuan akrab antara gubernur jenderal Baron von Imhoff dan Syarifah Fatimah, wali sultan Banten. Syarifah pada 1720 menjadi istri pangeran mahkota Banten dan berpengarah besar pada suaminya saat ia menjadi sultan (1733).

Menurut sejarawan Adolf Heyken, akibat ulah Syarifah para pangeran merasa tidak aman dan melarikan diri ke Batavia. Syarifah Fatimah digambarkan sebagai wanita, yang selain cantik, juga cerdas dan terdidik, hingga dapat mempengaruhi suaminya, Sultan Zainul Arifin.

Pertemuannya dengan von Imhoff di Tanjung Timur memancing kemarahan rakyat Banten hingga timbul pemberontakan yang dipimpin Kiai Tapa (1750) yang bermarkas di Gunung Munara, dekat Ciseeng, Parung, Bogor. Syarifah terpaksa menyingkir dari Banten sewaktu teman dekatnya, von Imhoff, meninggal (1750). Setahun kemudian (1751) Syarifah meninggal saat menjalani pembuangan di Pulau Edam (Kepulauan Seribu).

REPUBLIKA – Minggu, 04 Nopember 2007

Iklan

Inilah masjid yang paling monumental dan terbesar di Asia Tenggara. Istiqlal berarti ‘Merdeka’, melambangkan kemerdekaan dan kejayaan bangsa Indonesia setelah berhasil membebaskan diri dari belenggu penjajahan. Presiden Soekarno sengaja memilih membangun masjid ini di atas puing-puing bekas benteng Belanda yang luasnya 9,9 hektare.

Benteng Belanda atau Citadel terletak di Wilhelmina Park. Dahulu di tengah Istiqlal terdapat Monumen Michiels, untuk menghormati Mayor Jenderal Andreas Victor Michiels, komandan militer Belanda di Sumatra Barat. Dia meninggal karena menderita luka parah oleh para pejuang kemerdekaan saat memimpin ekspedisi menghadapi pemberontakan di Bali (23 1848). Lambang kolonial ini dihancurkan setelah kemerdekaan.

Sedangkan nama Wilhelmina Park diganti menjadi Taman Wijayakusuma, Jalan Pintu Air, Jakarta Pusat. Pembangunan masjid Istiqlal dicetuskan oleh Menteri Agama KH Wahid Hasyim (ayah Gus Dur) dan H Anwar Tjokroaminoto (putra HOS Tjokroaminoto) bersama tokoh Islam lainnya tahun 1950, hanya beberapa bulan setelah penyerahan kedaulatan. Begitu kokohnya benteng ini, saat diruntuhkan dengan dinamit oleh Korps Zeni AD perlu waktu satu setengah tahun.

Selama bulan Ramadhan, ribuan jamaah dapat menikmati buka puasa bersama di Istiqlal, yang pangannya merupakan sumbangan dari para dermawan. Setiap Jumat tidak kurang dari 25 ribu jamaah shalat di masjid megah ini. Sedangkan di Hari Raya Idul Fitri, diperkirakan jamaah membeludak mencapai lebih dari 200 ribu orang. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, para menteri, dan korps diplomatik akan shalat ID di masjid kebanggaan rakyat Indonesia.

Masjid Istiqlal terdiri atas beberapa bangunan. Seperti, gedung induk berukuran 100 X 100 m (satu ha), merupakan bangunan pokok dan di sekelilingnya terdapat lima lantai. Total luas bangunan induk 36.980 meter persegi atau hampir empat hektare. Di atas gedung induk dibuat kubah yang berbentuk kerangka polihedron, yang terbungkus konstruksi betuh bertulang. Di puncaknya, terdapat lambang ‘Bulan Bintang’ terbuat dari baja tahan karat.

Masjid dengan menara setinggi 6.666 cm atau hampir 70 meter merupakan landmark ibu kota RI. Ketika bandara di Kemayoran dan kemudian di Halim Perdanakusuma, saat pesawat hendak mendarat, para penumpang akan menikmati dua monumen raksasa: Monas dan Istiqlal.

Menara Istiqlal dibuat berlubang-lubang, terbuat dari baja tahan karat, dan di puncaknya terdapat menara setinggi 30 meter. Kegiatan ta’mir masjid Istiqlal meliputi bidang peribadatan, ibadah sosial, publikasi dan dakwah, pendidikan dan latihan, serta studi dan kemasyarakatan.

BEPUBLIKA – Sabtu, 19 September 2009

Dari Zaamdvoord ke Cibodas

Meski sebagian besar penduduk Jakarta pulang mudik, tapi sejak hari pertama Lebaran tempat-tempat hiburan tumpah ruah didatangi masyarakat. Tempat-tempat yang paling banyak didatangi warga untuk berekreasi adalah Taman Impiah Jaya Ancol, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), dan Kebon Binatang Ragunan. Sedangkan objek wisata di luar kota yang ramai didatangi warga adalah Kebon Raya Bogor dan peranginan di kawasan Puncak.

Sampai hari ke-empat lebaran (Selasa) Taman Impian Jaya Ancol (TIJA) telah didatangi lebih 500 ribu orang untuk berekreasi di tepi pantai Teluk Jakarta. Menurut Humasd TIJA, pihaknya yakin sampai akhir pekan Lebaran tempat rekreasi ini akan didatangi sekitar 1,5 juta pengunjung. Hari Sabtu dan Minggu merupakan puncak ledakan pengunjung. Untuk menyambut Lebaran tahun ini, TIJA mendatangkan Circus on Ice dari Moskow.

Dikabarkan ratusan ribu pengunjung juga telah mendatangi TMII salah satu tempat hiburan bergengsi si Jakarta. Kita boleh memuji Ibu Tien Soeharto karena idenyalah TMII dibangun tahun 1970-an. Padahal, ketika dia mengemukakan idenya untuk membangun TMII hampir tiap hari mahasiswa demo untuk menentangnya. Tapi istri Pak Harto ini tetap teguh untuk mewujudkan cita-citanya itu. TMII kini menjadi kebanggaan Indonesia dan banyak dikunjungi wisatawan asing.

Dalam ihwal rekreasi di hari-hari Lebaran, kita harus kudu tahu bahwa kebiasaan ini telah berlangsung sejak lama. Pada tahun 1940-an sampai 1960-an, yang paling banyak diserbu orang saat Lebaran adalah Kebon Binatang Cikini (KBC) kini menjadi Taman Ismail Marzuki (TIM) tempat kediaman pelukis terkenal, dan seorang penyayang binatang.

Karena terletak di pusat kota (Cikini), untuk pergi ke KBC dulu cukup naik becak atau trem listrik. Maklum, ketika itu mobil pribadi hanya milik oirang-orang kaya. Bahkan jumlah motor yang sekarang ini sudah memadati jalan-jalan di Jakarta dulu baru ratusan. Dulu kebanyakan motor-motor besar buatan Eropa seperti Harley Davidson, BSA, Norton, dan Java. Sedangkan mobil juga dari Eropa dan AS seperti Fiat (Italia) dan Opel (Jerman), Chevrolet (AS). Pada 1950-an kendaraan ini dijadikan angkutan penumpang dan dinamakan Opelet dari kata Opel.

Dulu banyak orang yang pergi rekreasi dengan naik sepeda, yang padamasa Belanda memiliki jalur khusus. Termasuk rekreasi ke pantai Zaandvoord (orang Betawi menyebutnya sampur), sekitar 3 km dari Ancol. Di pantai yang masih belum tercemar (kini tempat galangan kapal), dan tanpa membayar sepeserpun itu, para keluarga dapat menggelar tikar untuk makan lesehan setelah berenang sepuasnya.

Dari Stasion Tanjung Priok ke Zaandvoord bisa juga naik becak. Pada tahun 1950-an dan 1960-an becak juga ikut mendominir angkutan di Jakarta. Pada akhir 1950-an, saat penduduk Ibukota belum 3 juta jiwa, jumlah becak mencapai 30 ribu buah. Jumlah ini meningkat hampir dua kali pada tahun 1970-an, ketika becak mulai dibatasi dan kemudian dilarang. Para wartawan ketika itu melakukan tugas reportase dengan naik becak atau trem listrik yang tamat riwayatnya pada tahun 1960.

Seperti juga sekarang, tempat-tempat rekreasi menyediakan hiburan bagi para pengunjungnya. Kalau sekarang ini didominasi dangdut dan akhir-akhir ini lagu-lagu pop, dulu yang populer adalah grup lawak Bing Selamet, Eddy Sud, Ateng dan Iskak keempatnya sudah meninggal dunia yang sering tampil di Kebon Binatang Cikini (KBC). Kemudian, muncul lawak S Bagio, US-US, Oslan Husein dan Alwi.

Setelah awal 1970-an Kebon Binatang dipindahkan ke Ragunan, Jakarta Selatan, di bekas KBC sempat dibangun bioskop Garden Hall. Di depannya terdapat lapangan tenis tempat latihan petenis kenamaan ketika itu: Kece Sudarsono dan Tan Liep Tjiaw.

Ketika itu, bioskop juga merupakan tempat yang ramai dikunjungi saat Lebaran. Maklum, televisi belum muncul ketika itu. Sayangnya, banyak tukang catut dan preman di bioskop-bioskokp. Kalau filmnya bagus, harga tiket di tukang catut bisa dua kali lipat harga resmi.

Tempat rekreasi di luar kota yang banyak didatangi pengunjung adalah Kebon Raya Bogor. Untuk pergi ke Bogor ketika itu biasa naik oplet masih satu jalur Bogor-Jakarta dan Jakarta-Bogor. Membangun jalan tol belum menjadi impian pemerintah ketika itu. Jalan raya Ciputat-Parung-Bogor belum diaspal. Tapi, herannya tidak terjadi kemacetan seperti sekarang.

Pergi ke Puncak kala itu nikmatnya bukan main, meskipun harus naik kendaraan dan bus tanpa AC. Dari Bogor sampai Puncak di kiri kanan jalan belum banyak vila seperti sekarang. Udara masih bersih dan hawanya jauh lebih dingin dari sekarang ini. Tidak terjadi kemacetan seperti sekarang ini — yang membuat orang harus menghadapi stress saat pergi dan pulang dari Puncak.

Tempat rekreasi terkenal di Puncak ketika itu adalah taman raya Cibodas. Beberapa hari setelah Lebaran banyak yang mengadakan rekreasi ke Cibodas dengan menyewa truk. Bung Karno dulu sering membawa para tamu negara ke Cibodas, seperti Presiden Voroshilov dari Uni Soviet, yang sangat mengagumi taman rekreasi Cibodas. Dia bersama Bung Karno mau berlama-lama berada di daerah yang sejuk dan penuh taman itu.

REPUBLIKA – Minggu, 21 Oktober 2007

Inilah Pasar Senen, Jakarta Pusat, yang diabadikan pada 1900 atau 109 tahun lalu. Pasar Senen dibangun pada Agustus 1735 oleh Yustinus Vink, seorang petinggi VOC yang memiliki tanah bejibun di Batavia. Ketika mendatangi Pasar Senen pada saat ini, dipastikan apa yang diabadikan lebih satu abad lalu kini sudah tidak berbekas sama sekali. Toko-toko, jalan, dan lalu lintas yang didominasi sepeda kala itu sudah berubah. Pasar Senen seperti juga saudara kembarnya Pasar Tanah Abang kini sudah merupakan pasar modern yang buka selama 24 jam.

Menjelang Idul Fitri, kita yang mendatangi Pasar Senen harus mau bersusah payah. Setidaknya, bersabar menghadapi kemacetan lalu lintas dan harus siap berdesak-desakan. Melihat foto di bawah ini, betapa nikmatnya mendatangi Pasar Senen kala itu. Para pengendara sepeda dengan santai menggenjot kendaraannya. Sementara itu, pejalan kaki hilir mudik tanpa takut tabrakan.

Toko-toko di Pasar Senen memiliki ciri khas bangunan dari negeri leluhur masyarakat Cina. Karena, sejak terjadi pembantaian orang-orang Cina yang menelan korban ribuan orang pada 1740, mereka banyak yang hijrah ke Senen dan Jatinegara dari Kota. Kekunoan Pasar Senen masih terasa kental termasuk bangunan-bangunanya. Tapi, pada masa Ali Sadikin menjadi gubernur DKI, hampir seluruh bangunan ini dihancurkan dan dibangun Proyek Senen yang modern. Kemudian, oleh gubernur penggantinya, dibangun Atrium Senen. Seolah-olah bersaing dengan Tanah Abang yang dibangun saat bersamaan, Senen tengah bersiap sebagai pusat pertokoan modern di Asia.

Sayangnya, sudah tidak tersisa lagi bangunan-bangunan tempo doeloe sebagai cagar budaya sejarah. Jakarta yang menyandang kota megapolitan dengan penduduk belasan juta jiwa memang harus maju. Tapi, jangan semua dihancurkan dan dihabisi. Tinggalkan juga masa lalu Pasar Senen yang sudah berusia 250 tahun, mengingat pasar yang luasnya enam hektare ini akan menjadi pusat perdagangan modern terpadu yang juga dilengkapi apartemen 30 lantai yang memuat sekitar 2.500 unit kamar yang akan berdiri. Sekali lagi, sisakan juga Senen masa lalu sebagai bagian dari wisata sejarah yang kini justru dikembangkan di kota-kota modern dunia.

REPUBLIKA – Sabtu, 12 September 2009

Masjid-masjid Tua

Cornelis Matelief Jonge, pemimpin armada Belanda, ketika menjelajahi Teluk Jakarta (1607), membuat gambar kota Jayakarta yang berada di tepi pantai. Terlihat sebuah masjid, yang menurut sejarawan Adolf Heuken sebagai masjid pertama di Jakarta. Pada Mei 1619, masjid ini dibumi-hanguskan oleh JP Coen, ketika dia menaklukkan Jayakarta.

Menjadi pertaanyaan, apakah masjid yang dibangun dari kayu terletak beberapa puluh meter sebelah selatan Hotel Omni Batavia (kira-kira terminal angkutan darat Jakarta Kota) itu merupakan masjid pertama di Ibukota? Tanah bekas masjid itu kemudian digunakan untuk membangun sebuah perwakilan dagang Inggris.

Pada paruh abad ke-14 di Karawang, Jawa Barat, berdiri pesantren Kuro. Karawang, seperti juga Sunda Kalapa, ketika itu termasuk wilayah Kerajaan Pajajaran yang dipimpin prabu Siliwangi. Ketika sang prabu mengunjungi pesantren Kuro, ia jatuh hati pada seorang santri bernama Subang Larang. Mereka menikah dan dikarunia seorang putera, Kyan Santang, yang kemudian menyebarkan agama Islam.

Ketika itu, orang Betawi banyak menjadi pengikut Islam. Para pendeta di Pajajaran menilai Kyan Santang melakukan penyimpangan, atau langgara. Karena itu, tempat sembahyang pengikut Islam di sebut langgar. Warga Betawi masih banyak menyebut langgar untuk sebutan mushola. Sedang tempat shalat yang lebih besar mereka sebut masjid atau masigit. Jadi, menjelang abad ke-15 sudah berdiri masjid di Jakarta.

Karena Islam dianggap membahayakan, maka Pejajaran melakukan perjanjian dengan Portugis yang membuat Sultan Trenggano dari Demak menjadi amat gusar. Dia kemudian mengirimkan seorang mubaligh sekaligus panglima, Fatahilah, dengan balatentaranya untuk menyerbu Sunda Kalapa dan mengusir Portugis. Fatahillah mendirikan kadipaten di sebelah barat muara Ciliwung. Di sebelah timur didirikan aryan perumahan untuk pejabat kadipaten dan keluarganya yang didatangkan dari Banten.

Pada abad ke-17 orang dari berbagai bangsa di Nusantara bertemu di Jakarta. Adat kebiasaan masing-masing terpaksa ditinggalkan karena beraneka ragam. Karena itu, kampung-kampung di sekitar kota dan desa-desa pedalaman bersatu dalam hal agama, dan kemudian dalam hal bahasa Melayu Betawi.

Gereja reformasi, tulis Hayken, tak sampai mencoba penginjilan, karena dianggap mustahil mentobatkan orang Muslim atau Tionghoa. Kecuali kegiatan Katholik yang dilarang sampai 1806. Batavia dan daerah sekitarnya mengalami semacam ‘Melayunisasi’ cepat setelah tahun 1700. Letnan Gubernur Jenderal Raffles sampai menulis pujian terhadap perkembangan Islam yang pesat pada masanya.

Untuk menjajaki sejumlah masjid tua yang sampai kini masih berdiri, baiklah kita mendatangi Masjid Al-Alam di Marunda, Cilincing, Jakarta Utara. Masjid ini dibangun oleh Fatahilah dan pasukannya untuk menyerang Portugis (1527). Ada keyakinan masyarakat di sini, bahwa Fatahillah membangun Masjid Al-Alam hanya dalam sehari.

Hingga kini masjid yang terletak di tepi pantai itu tidak pernah sepi. Selalu diziarai, lebih-lelbih pada malam Jumat kliwon. Seratus tahun kemudian (1628-1629), ketika ribuan prajurit Mataram pimpinan Bahurekso menyerang markas VOC (kini gedung museum sejarah Jakarta) para prajurit Islam ini lebih dulu singgah di Marunda guna mengatur siasat perjuangan. Bahkan, ada yang mengatakan masjid ini dibangun oleh prajurit Sultan Agung.

Dalam bulan puasa ini, ada hal-hal istimewa yang akan kita dapati bila mengunjungi masjid-masjid tua di Jakarta. Di samping mendapatkan siraman rohani, kita akan mendapatkan pula kisah-kisah heroik perjuangan umat Islam di masa lalu. Mencontoh fungsi masjid di masa Rasulullah SAW, nasjid tua itu, melalui para jamaahnya, telah mengobarkan semangat perjuangan melawan penjajahan Belanda. Bahkan, pernah dijadikan sebagai markas perjuangan pada masa revolusi fisik (1945-1949) melawan NICA.

Ada Masjid As-Salafiah di Jatinegara Kaum, dekat Pulo Gadung, Jakarta Timur. Masjid ini didirikan oleh Pangeran Ahmed Jakerta, setelah ia hijrah dari Jayakarta pada tahun 1619 akibat gempuran VOC. Di tempat yang empat abad lalu masih terpencil dan berupa hutan belukar itu pangeran membangun masjid yang hingga kini masih diabadikan. Ini terlihat dari empat tiang utama yang terbuat dari kayu jati yang menjadi penyangganya. Sekalipun sudah delapan kali direnovasi dan diperluas, empat tiang penyanggah ini masih kita dapati.

Dari Masjid As-Salafiah inilah, pangeran Jayakarta dan pengikutnya mengobarkan semangat jihad untuk terus menerus mengusik Belanda. Menurut sejarah versi Belanda, sampai 1670 Batavia tidak pernah aman dari gangguan keamanan akibat aksi gerilya tersebut. Ketika Sultan Agung menyerang Batavia, Jatinegara Kaum kembali memegang sejarah penting. Di masjid ini kita masih mendapati makam Pangeran Ahmed Jakerta, para keluarga dan pengikutnya.

Glodok yang selalu hingar bingar apalagi saat puasa sekarang ini juga banyak memiliki masjid tua. Di Jl Pengukiran II, misalnya, terdapat masjid Al-Anshor yang didirikan oleh para pendatang dari Malabar (India) pada abad ke-17. Tepatnya pada 1648. Ada lagi Masjid Kampung Baru yang didirikan pada tahun 1748 yang kini hanya tersisa beberapa dari bangunan aslinya.

Tidak jauh dari tempat itu, di tepi kali Angke di Jl Pekojan, Jakarta Barat, terdapat sebuah surau yang disebut Langgar Tinggi. Disebut demikian karena langgar ini agak tinggi dan berlantai dua. Para Muslim India juga berperan dalam membangun langgar ini. Masih di kawasan Pekojan, terdapat masjid yang dibangun pada abad ke-18. Masjid an-Nawier (Cahaya) erat kaitannya dengan masjid kuno di Kraton Solo dan Banten. Ikut berperan dalam penyebaran Islam. Masih terdapat puluhan lagi masjid tua di Jakarta yang ikut berperan dalam penyebaran Islam dan memeprtahankan kemerdekaan.

REPUBLIKA – Minggu, 30 September 2007

Film Terang Boelan 1937

Foto koleksi Sinematek Indonesia memperlihatkan adegan Film Terang Boelan produksi 1937, yang dalam Belanda bernama Het Eilan der Droomen. Film ini disutradarai Albert Balink dan skenario Saeroen, wartawan 1930-an. Terang Boelan merupakan film Indonesia pertama meledak di pasaran, hingga dibeli perusahaan film RKO Singapura, dan dapat sambutan luas ketika diedarkan di Semenanjung Malaya. Film drama ini dibintangi oleh Roekiah (berada di tengah dalam foto), ketika sedang memancing bersama para artis pembantu.

Dalam film inilah Roekiah menyanyikan lagu Terang Bulan yang kini jadi lagu kebangsaan Malaysia Negaraku. Setelah mengklaim berbagai budaya Indonesia sebagai miliknya, muncul polemik asal muasal lagu kebangsaan negeri jiran itu. Mantan ketua Sinematek Indonesia, Misbach Yusa Biran, berpendapat lagu Terang Bulan adalah jenis musik stabul 2 (irama keroncong). Lagu ini berasal dari imigran keturunan Portugis yang tinggal di Tugu, Cilincing, Jakarta Utara.

Kemudian, berkembang melalui pertunjukan opera stambul tahun 1900 di Surabaya. Nama stambul dari kata Istambul di Turki kemudian berubah menjadi tonil. Pada masa Jepang karena tonil berasal dari Belanda diganti menjadi sandiwara.

Misbach membantah, klaim Malaysia terhadap lagu yang kini menjadi lagu kebangsaannya. Karena, di Malaysia tidak dikenal lagu irama keroncong, tapi Melayu. Keroncong hanya dikenal di Pulau Jawa. Meski demikian, lagu Terang Boelan kemudian sangat dikenal di Malaya (belum bernama Malaysia) karena filmnya diputar di Semenanjung Malaya. Lagu itu di Malaya kemudian menjadi lagu rakyat.

Ketika merdeka dari Inggris tahun 1957, lagu tersebut mereka jadikan lagu kebangsaan. Lagu ini menjadi sangat populer sejak dibawakan oleh orkes ‘Live of Java’ dan dinyanyikan oleh Ismail Marzuki. Sejak dijadikan lagu kebangsaan Malaya, lagu Terang Bulan terlarang dinyanyikan di Indonesia guna menghormati negara tetangga kita. Sampai-sampai film Terang Bulan produksi 1957 yang disutradarai Wim Umboh dilarang beredar.

Kenapa di era sebelum Perang Dunia II Terang Boelan dipilih sebagai judul film? Karena lagunya sangat digemari masyarakat menyebabkan mendapatkan sukses besar di pasaran. Di antara lirik lagu tersebut adalah:

Terang Bulan Terang Di kali
Buaya Nimbul Disangka Mati
Jangan Percaya Mulut Lelaki
Berani Sumpah Tapi Takut Mati

Roekiah, artis idola tahun 1930-an adalah ibu dari penyanyi Rachmat Kartolo, penyanyi dan pemain film tahun 1980-an. Roekiah yang kawin dengan aktor Kartolo, meninggal dunia tahun 1945 dalam usia 28 tahun. Kala itu, Rachmat Kartolo masih balita.

Bagi Misbach, tidak menjadi persoalan Terang Bulan dijadikan lagu kebangsaan Malaysia. Tapi, jangan mengklaim sebagai pemiliknya. Kita sendiri mengakui bahwa keroncong berasal dari Portugis dan dangdut dari India.

REPUBLIKA – Sabtu, 05 September 2009

Menelusuri China Town

Menjelang pertengahan Ramadhan, Glodok yang mendapat julukan China Town atawa Pecinan merupakan salah satu pusat perbelanjaan yang banyak didatangi pembeli. Glodok dalam sejarahnya merupakan salah satu pasar tertua di Jakarta, lebih tua dari Pasar Tanah Abang dan Senen yang dibangun pada abad ke-18.

Glodok berasal dari nama yang berbunyi grojok-grojok pada masa VOC merupakan kampung yang terletak di luar kota berbenteng. Jauh sebelum dibangunnya Batavia (Mei 1619), dan semenjak bernama Sunda Kalapa, orang Cina sudah banyak tinggal di tepi pantai tidak jauh dari bandar Sunda Kalapa. Tapi, ketika Olanda membangun loji di sini, mereka pun diusir. Baru setelah terjadinya pembantaian orang Tionghoa (November 1740) mereka ditempatkan di kawasan yang sekarang ini kita kenal dengan sebutan Glodok.

Mendatangi pusat-pusat pembelanjaan di Glodok saat puasa, kita harus ekstra kuat menahan haus. Berdampingan dengan Glodok terdapat pertokoan Pancoran yang dulunya merupakan pancuran tempat orang mengambil air minum dan mandi. Glodok memiliki pusat elektronik yang dikenal sebagai pertokoan Harco. Mungkin banyak yang tidak tahu bahwa yang membangunnya pada tahun 1970-an adalah seorang keturunan Arab bernama Abubakar Bahfen. Dia juga membangun pertokoan dengan nama yang sama di Pasar Baru.

Baik di Glodok maupun di Pasar Baru, sampai tahun 1960-an terdapat Markas Polisi Seksi II dan III — semacam Polsek sekarang ini. Di Harco kita dapat membeli berbagai produk elektronik dengan harga miring, dan kini didominasi oleh produk Cina. Konon, di sini juga terdapat barang-barang selundupan, yang begitu gampang lolos dan dijual bebas. Di sekitar Harco terdapat para pedagang VCD dan DVD, termasuk film-film porno. Entah sudah berapa puluh kali dilakukan razia, tapi tidak pernah berhasil menghalau para pedagamg VCD porno yang jumlahnya ratusan.

Menelusuri jalan-jalan di daerah ini, diperlukan banyak fantasi. Bukan saja untuk membayangkan tragedi 1740 yang menelan korban 10 ribu Tionghoa, tapi situasi tempat dan masyarakat ketika itu. Pria Cina ketika itu berlalu lalang dengan rambut dikepang panjang dan rambut bagian depan dicukur licin, sebagai tradisi ketika daratan Cina dijajah Manchu selama tiga ratus tahun. Pemerintah kolonial Belanda, disamping mengharuskan orang Cina tinggal di satu tempat, juga melarang mereka berpakaian seperti pribumi dan barat. Yang melanggar dikenai denda atau kurungan.

Hingga kini — sekalipun harus bersaing dengan pusat perdagangan lain yang menjamur di Jakarta — Glodok masih tetap merupakan tempat perbelanjaan paling bergengsi. Hampir semua tempat tinggal telah berubah fungsi menjadi tempat perdagangan. Penghuninya kini tinggal di perumahan-perumahan mewah, seperti Pluit, Ancol, Sunter dan Kawasan Indah Kapuk.

Pada masa Bung Karno dan awal pemerintahan Soeharto, konon sebagian besar uang yang beredar berada di Glodok. Sebelum dilarang di masa pemerintahan Soeharto, di Glodok dapat disaksikan berbagai atraksi kesenian Cina, yang juga diminati pribumi. Misalnya, pesta-pesta pada tahun baru Imlek yang meriah dan gemerlapan. Lalu, perayaan Cap Go Meh yang berlangsung setiap malam mulai dari Pecinan hingga Meester Cornelis (Jatinegara), dan diteruskan ke Buitenzorg (Bogor), Sukabumi dan Cianjur.

Ketika kita menelusuri jalan-jalan di Pecinan, serta puluhan jalan kecil di sekitarnya, aroma hio terasa menyengat dan merupakan tipikal kawasan ini. Tidak usah heran, hio bagi masyarakat setempat bukan saja dipasangkan di hio lau, tapi juga di pojok-pojok pintu rumah. Itu membuktikan adat istiadat leluhur masih mendapat tempat. Termasuk bagi generasi mudanya, yang kita dapati banyak mendatangi klenteng-klenteng untuk bersoja sebagai tanda bakti kepada leluhur. Dalam masyarakat Tionghoa, berbakti pada orang tua merupakan kemustian, agar tidak jadi orang doraka.

Di China Town kita akan mendapati belasan sinshe yang membuka praktek pengobatan sejak puluhan tahun lalu. Dulu, ketika dokter masih sedikit, sinshe paling banyak didatangi orang yang ingin berobat. Di samping sinshe, kita akan mendapati kios-kios pedagang obat-obatan Cina yang dijual secara bebas. Pengobatan Cina, yang dikenal sejak ribuan tahun lalu, kini makin diminati. Sayangnya, banyak obat-obat produk Cina yang palsu, seperti berulang kali disiarkan pers.

Berdekatan dengan Glodok terdapat Kali Besar yang oleh Belanda disebut Groote Kanaal. Dulu merupakan alur pelabuhan, di mana kapal-kapal kecil dapat masuk dan sandar untuk membongkar barang-barang, khususnya rempah-rempah. Sampai tahun 1950-an, banyak perusahaan besar berkantor di Kali Besar. Sebelum perusahaan Belanda dinasionalisasi, mereka berkantor di Kali Besar.

Banyak pegawai Belanda yang datang ke kantor dari Menteng dan Pasar Baru dengan naik trem listrik. Di Kali Besar muara Ciliwung pada saat Peh Cun hari keseratus tahun baru Imlek banyak masyarakat Cina melakukan lomba sampan. Ketika itu airnya masih jernih, sering digunakan untuk mandi oleh anak-anak dan mencuci pakaian oleh ibu-ibu.

REPUBLIKA – Minggu, 23 September 2007