Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘ciliwung’

Ngibing di Malam Cap Go Meh

Masyarakat Tionghoa memiliki hari raya cukup banyak. Setelah tahun baru Imlek dengan hidangan khas kue keranjang atawa kue cina, pada malam ke-15 ditutup dengan pesta Cap Go Meh.

Masih ada hari raya Cengbeng di mana orang-orang membersihkan makam orangtuanya sebagai tanda bakti pada leluhur. Kemudian disusul dengan Pehcun (hari keseratus setelah Imlek). Pada hari itu makanan khas adalah bahcang sekaligus disusul dengan pesta perahu (dragon boat) di kali Ciliwung dan kali Cisadane (Tangerang). Masih ada hari raya Tong Ciu dengan makanan khas kue bulan. Ditutup dengan hari raya Tang Ce yang jatuh pada bulan-bulan menjelang Imlek.

Yang paling meriah di tempo doeloe pesta Cap Go Meh penutup tahun baru Imlek. Sejak sore para siauce (gadis) berdandan semenor mungkin. Menanti sang pacar untuk datang sowan pada calon mertua sambilĀ  mempersembahkan sepasang ikan bandeng. Muka mertua akan cemberut seperti ‘dompet tanggung bulan’ bila calon mantu tidak membawa ikan bandeng. Menantu begini dianggap tidak punya hormat pada mertua.

Di malam Cap Go Meh semua orang Betawi keturunan Tionghoa berpakaian indah-indah. Lalu naik trem menuju Glodok dan Pancoran untuk menonton keramaian atau langsung terjun ngibing (kini berjoget) di jalan-jalan. Keramaian kala itu tidak kalah meriahnya dengan fiesta yang diadakan tiap tahun di Brasil.

Orang yang turut ngibing, biasanya memakai kostum ala bintang film Hollywood. Seperti Douglas Fairbank, bintang terkenal tahun 1930-an dan ’40-an dalam perannya sebagai Zorro dalam film Mark of Zorro.

Ada juga yang menyaru sebagai seorang wanita gembrot lengkap dengan konde sebesar mangkuk sayur, tulis Prof Dr James Dananjaja (75 tahun), dalam Folklor Tionghoa. Wajahnya dibedak tebal-tebal, pipinya diberi tahi lalat (tompel) sebesar uang sen Hindia Belanda. Mulutnya disumpel dengan tembakau sisik.

Kwee Tek Hoay dalam karangan berjudul Nonton Capgome yang diterbitkan 1930, menuturkan, Tidak ada pesta Capgome di Java yang melebihkan ramenya dari Batavia. Bukan saja sebab Batavia ada kota yang paling besar, keramaiannya tak ada bandingannya di lain-lain tempat di Buitenzorg (Bogor), Sukabumi, Cianjur, dan Bandung. Di sepanjang jalanan ada penuh dengan rumah makan yang buka sampai pagi pada malam Capgome.

Tempo doeloe, semua perayaan pada malam tanggal 15 menurut almanak Tionghoa, dipusatkan di Glodok-Pancoran. Sementara malam tanggal 16 dilanjutkan di Tanah Abang, Pal Merah, dan Meester Cornelis (Jatinegara).

Pada pesta rakyat ini, semua jenis pertunjukan rakyat Betawi ditampilkan. Seperti wayang cokek yang ditarikan empat wanita berbaju kurung aneka warna. Musik pengiringnya adalah gambang kromong. Komedi bangsawan, stambul, dan wayang simpe juga ikut memeriahkan. Selain cerita-cerita Tionghoa kuno, wayang ini juga mempertunjukkan kisah 1001 malam.

Para orangtua yang anak gadisnya menonton Cap Go Meh, memesan kepada mereka agar waspada terhadap tangan-tangan jahil berupa pemuda-pemuda iseng. Apalagi di antara mereka banyak yang teler karena menenggak minuman yang diharamkan. Pesta rakyat di jalanan berlangsung hingga dini hari. Karena begadang semalam suntuk, keesokan harinya banyak yang malas bekerja. Bahkan bagi orang yang yang gemar pesta, Cap Go Meh belum usai karena masih dilanjutkan lagi dengan pesta rakyat yang disebut Cap Lak Meh di daerah-daerah Tanah Abang, Pal Merah, Senen, dan Meester Cornelis pada malam keenam belas. Namun, tidak seramai di Glodok-Pancoran.

Seperti juga sekarang saat pesta dangdutan, malam Cap Go Meh juga kerap dinodai keributan. Terutama saat-saat keluarnya naga Tionghoa yang disebut liong-liong, barongsai, dan cungge. Para pemain barongsai adalah para anggota perkumpulan pencak silat (kuntau atau kungfu). Adakalanya bila rombongan dari perkumpulan yang bersaing bertemu, terjadilah perang tanding yang seru, hingga harus dipisahkan oleh polisi.

Menurut Prof James Dananjaja, cungge adalah semacam tandu-tandu berhias, berisikan anak-anak kecil yang mengenakan kostum tokoh-tokoh mitologi atau legendaris Tiongkok kuno, seperti Sie Jin Kui dan Koan Kong. Kala itu, barongsai selain berpawai di jalan raya, juga mengunjungi rumah-rumah orang kaya dan opsir Tionghoa untuk ngamen. Mereka memperoleh angpau cukup besar.

Cungge juga disponsori para hartawan. Ketika itu di depan toko-toko tertentu dipasang rencengan petasan besar-besar, digantungkan di atas tiang-tiang tinggi, yang pada ujungnya diikat angpau berisi uang berjumlah banyak. Hadiah ini khusus diperuntukkan bagi rombongan barongsai yang pandai berakrobat, hingga dapat memanjat tiang tinggi yang digantungi petasan yang terbakar.

Selain di kota, barongsai juga mendatangi perkampungan. Banyak keluarga berharap rumahnya didatangi binatang mitologi suci itu karena menurut keyakinan, rumah yang disinggahi barongsai dapat bersih dari pengaruh arwah roh jahat yang mendatangkan penyakit atau kesialan bagi penghuninya. Tidak heran pemilik rumah akan membuka pintu pekarangannya lebar-lebar menyambut sang barongsai.

Iklan

Read Full Post »

Foto yang diabadikan oleh Woodbrog & Page pada tahun 1870 memperlihatkan masa kejayaan Kali Besar yang terletak di muara Sungai Ciliwung, bandar Sunda Kalapa. Pemandangan ini diambil dari dekat muara Ciliwung, Kali Besar di mana terdapat Hotel Omni Batavia — hotel berbintang lima yang dibangun akhir 1980-an untuk menarik para wisatawan mancanegara.

Terlihat belasan kapal layar yang membongkar muat barang-barang baik dari mancanegara maupun dari daerah selatan pedalaman Batavia tanpa mengalami kesulitan mengarungi sungai yang masih jernih dan dalam.

Sekalipun pada akhir abad ke-19 bandar Sunda Kalapa telah dipindahkan ke Tanjung Priok, tapi kawasan Kali Besar, Jakarta Kota, masih menunjukkan pamornya. Bahkan pada awal abad ke-20, ketika kota Batavia makin berkembang, beberapa perkantoran seperti terlihat dalam foto telah diperbaharui dengan gaya modern, seperti yang dapat kita saksikan sisa-sisanya sekarang ini.

Kini, kawasan Kali Besar sepanjang 1,2 km dari bekas Gedung Arsip Nasional di Jalan Gajah Mada hanya kira-kira ratusan meter dari pusat bisnis Glodok, airnya kembali akan dijernihkan seperti awsal abad ke-17 dan abad 18. Air sungai dalam beberapa bulan mendatang akan mendapati kedalaman satu setengah meter, sementara dua buah bendungan akan dibangun untuk menghindari masuknya sampah. Air sungai yang telah dijernihkan

Sampai abad ke-20 di Kali Besar, baik Kali Besar Timur dan Kali Besar Barat berdiri sejumlah perusahaan besar yang bergerak di bidang ekspor impor, perkapalan, jasa dan asuransi. Dahulu di Kali Besar Barat dekat Jl Tiang Bendera terdapat perusahaan Maclaine Watson & Co yang telah berdiri sejak 1825 oleh seorang Inggris Gilleon Maclainbe yang mengadu untung ke Jawa tahun 1920 dalam usia 22 tahun. Perusahaan raksasa ini juga bergerak dalam ekspor impor, pelayaran dan memiliki sejumlah armada kapal sendiri. Termasuk ekspor gula yang kala itu merupakan ekspor komoditi utama dari Hindia Belanda.

Kali Besar abad ke-17 dan 18 juga merupakan pemukiman orang-orang Belanda yang terletak di dalam kota berbenteng. Ketika itu orang Cina masih dibolehkan tinggal di Kali Besar. Tapi sejak terjadi pemberontakan Cina tahun 1740 yang mengakibatkan 10 ribu warga Cina terbunuh, mereka dipindahkan ke Glodok sampai sekarang ini. Glodok kala itu terletak di luar kota bertembok. Kali Besar sudah bernama demikian jauh sebelum Kraton Jayakarta berdiri (1527) yang berlokasi di tepi barat Kali Besar. Batas selatannya adalah rawa-rawa yang disebut Roa Malaka, batas timurnya Jl Pakin sekarang dan batas baratnya Jl Pejagalan.

Read Full Post »

Pemandangan seperti terlihat dalam foto tahun 1940-an di tepi Sungai Ciliwung sudah tidak akan dijumpai lagi dewasa ini. Puluhan wanita tengah mencuci pakaian di tepi sungai Ciliwung di Molenvliet (kini Jl Hayam Wuruk dan Jl Gajah Mada), Jakarta Kota. Sampai 1950-an, Sungai Ciliwung, airnya masih cukup dalam dan jernih, sehingga digunakan untuk mandi, cuci, dan kakus. Banyak tukang cuci dan binatu yang memanfaatkan sungai Ciliwung untuk menerima cucian yang merupakan salah satu profesi para bapak dan ibu warga Betawi. Sehingga ada kampung di Jakarta bernama Petojo Binatu, karena banyaknya warga berprofesi tukang binatu. Bahkan kadangkala diantara yang mandi ada yang berbugil ria, sehingga pantas jadi tontonan bathing beauties.

Sekarang ini, Ciliwung dan 12 sungai yang terdapat di Jakarta sudah demikian kotor dan berubah menjadi got besar. Sungai Ciliwung yang melewati Molenvliet karena sudah tidak berfungsi lagi, pernah ada sejumlah insinyur mengusulkan ditutup dan ditimbun saja. Guna mengurangi kemacetan lalu lintas di Jl Hayam Wuruk dan Jl Gajah Mada. Padahal di zaman Belanda, Ciliwung masih jernih karena pemerintah kolonial melarang dan mengenakan denda terhadap orang yang membuang sampah di sungai-sungai. Karenanya tidak seperti sekarang, ketika itu orang tidak berani membuang sampah di sungai.

Pada masa awal VOC, Batavia — nama Jakarta ketika itu — pernah dijuluki Venesia dari Timur karena rumah dan gedung berdiri di tepi-tepi kanal atau terusan dari sedotan Ciliwung dan sungai-sungai lainnya yang membelah-belah Batavia. Di antara puluhan kanal yang masih tersisa adalah Kali Molenvliet yang diapit Jl Gajah Mada dan Hayam Wuruk seperti terlihat di foto. Sungai yang sekarang kotor dan banyak ditimbun sampah dulunya jalan air dilewati rakit-rakit bambu membawa barang-barang dari daerah pedalaman. Venesia adalah sebuah kota di Italia, yang banyak didatangi para wisatawan mancanegara. Kota Batavia seperti juga Venesia didirikan di tengah kanal-kanal, sehingga para wisatawan dengan menggunakan perahu saling berseliweran di depan kediaman penduduk.

Di samping tempat hajat orang banyak, Ciliwung tempo doeloe juga menjadi pusat hiburan rakyat. Seperti pesta pehcun yang dirayakan pada hari keseratus Imlek. Keramaian digelar dalam bentuk karnaval perahu yang diiringi ratusan perahu yang dihias dan dimeriahkan orkes gambang keromong. Pesta ini berjalan semalam suntuk diterangi oleh lampion warna-warni diiringi para cokek yang ngibing tidak kalah eksotiknya dengan penyanyi dangdut

Read Full Post »