Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Doeloe’ Category

Banten, yang sejak 4 Oktober 2000 disahkan menjadi provinsi, awal pekan ini sudah memiliki gubernur dan wakil gubernur periode 2001-2006. Pemilihan yang berlangsung mulus itu, dimenangkan pasangan Dr Ir Djoko Munandar (PPP) dan Ratu Atut Chosiah Chasan (Golkar). Boleh dikata, perjuangan rakyat di provinsi paling barat pulau Jawa ini untuk berdiri sendiri sudah berlangsung lama. Awalnya, ketika pada 1963, para tokoh Banten dari berbagai kecamatan membentuk Panitia Provinsi Banten.

Sejak menjadi provinsi, sejumlah tokoh masyarakat setempat yakin, Banten yang berpenduduk 9,6 juta (2000), mempunyai prospek baik. Bahkan, tokoh masyarakat H Tubagus Chasan Sochib, yang juga seorang pendekar, yakin, “Insya Allah, 15 tahun ke depan Banten menjadi seperti Brunei Darussalam, tidak kalah dengan Malaysia.”

Optimismenya ini berdasarkan kenyataan, berbagai proyek raksasa, industri berat dan ringan kini berada di provinsi ini. Seperti Bandara Internasional Cengkareng. Belum lagi kawasan industri Cilegon yang memiliki 50 industri besar, baik PMA dan PMDN. Krakatau Steel dengan 16 anak perusahaan. Bumi Serpong Damai (BSD) yang terus berkembang jadi kota satelit modern. Tangerang dengan lebih dari 6.000 unit perusahaan, kecil dan menengah. Ratusan tempat peristirahatan tepi pantai, dengan puluhan hotel berbintang yang tiap hari libur menyedot ribuan pengunjung. Masih banyak lagi aset yang dimiliki provinsi ini. Tentu saja, Pemprov Jabar yang paling terkena dampak lepasnya Banten. Mengingat sepertiga aset Pemprov Jabar kini masuk Banten.

Banten, sekitar 500 tahun lalu, pernah menjadi bandar terbesar di pulau Jawa. Bangsa Portugis, bukanlah pedagang asing pertama yang mencari lada dan rempah-rempah lainnya di Karangantu, pelabuhan Banten. Karena jauh sebelumnya, mereka di dahului saudagar-saudagar Cina, Arab, Gujarat, dan Turki — yang mengangkut rempah-rempah dari bandar Karangantu yang ramai — melalui Teluk Parsi. Kemudian mereka menjualnya kepada pembeli Eropa yang sangat berhasrat.

Lada, saat itu bukan untuk dijadikan bumbu masak. Melainkan untuk memelihara kesehatan badan: ‘menghangatkan perut dan mengurangi sakit perut yang disebabkan oleh cuaca dingin dan angin.’

Pelaut Belanda, Inggris, Prancis, dan Denmark juga mengikuti jejak pelaut Portugis ke arah sumber lada dan rempah-rempah lainnya yang luar biasa khasiatnya waktu itu. Kala itu, mereka tidak singgah di Sunda Kelapa, tapi di Banten, 75 km sebelah barat Sunda Kelapa.

Banten, mengalami masa jayanya pada masa Sultan Maulana Yusuf (1570-1580). Ia putra Sultan Maulana Hasanuddin, pendiri Kerajaan Islam Banten. Begitu majunya perdagangan kala itu, hingga Banten menjadi tempat penimbunan barang dari segala penjuru dunia, yang kemudian disebarkan ke antero Nusantara.

Situasi perdagangan di bandar internasional Karangantu saat itu digambarkan sebagai berikut: Pedagang dari Cina membawa uang kepeng, terbuat dari timah hitam yang juga disebut picis. Dengan jung-jung yang tidak hentinya berdatangan ke Banten, mereka membawa porselen, sutera, bludru, benang emas, kain sulaman, jarum, sisir, payung, kertas, dan berbagai barang lainnya. Orang Arab dan Persia membawa permata dan obat-obatan. Pedagang Gujarat (India) menjual kain, kapas, dan sutra. Orang Portugis membawa kain dari Eropa dan India. Para pedagang ini kembalinya ke negara mereka membawa lada dan rempah-rempah, yang mereka beli dari para pedagang yang berdatangan dari Nusantara ke Banten.

Dengan majunya perdagangan maritim, Sorosowan, ibukota kerajaan, menjadi ramai. Maka diaturlah penempatan penduduk sesuai keahlian dan asal mereka. Perkampungan untuk orang asing di pusatkan di luar tembok kota. Seperti Kampung Pekojan, terletak di sebelah barat pelabuhan diperuntukkan untuk pedagang Arab, Gujarat, Mesir, dan Turki. Kampung Pecinan, di sebelah barat Masjid Agung Banten, diperuntukkan bagi pedagang Cina.

Mungkin meniru Banten, Belanda juga membangun kampung Pekojan untuk etnik Arab, dan Pecinan bagi warga Cina. Kini kampung yang disediakan itu lebih populer dengan nama Glodok. Orang Cina sangat berperan dalam ikut memajukan ekonomi Banten kala itu. Jenderal JP Coen sendiri, saat mendirikan Batavia (1619), telah membawa sekitar 800 warga Cina ke Batavia dari Banten. Di pimpin Souw Beng Kong, yang kemudian diangkat menjadi kapiten Cina pertama.

Pecinan, yang letaknya sekitar 500 meter dari kraton, kini hanya ditinggali empat keluarga keturunan Cina. Di dekatnya terdapat klenteng, yang menurut pengurusnya sudah berdiri sejak awal Kerajaan Islam Banten. Klenteng ini banyak didatangi pengunjung dari luar Banten, terutama pada malam ciit (tanggal 1 penanggalan Cina) dan malam cap goh

REPUBLIKA – Minggu, 09 Desember 2001

Read Full Post »

Batavia 1887

Dalam peta Batavia tahun 1887, kota ini sudah berkembang ke arah selatan. Tidak lagi kota berbenteng seperti saat dibangun jenderal JP Coen (Mei 1619). Dalam peta 114 tahun lalu itu, banyak nama jalan dan tempat masih berbahasa Belanda. Beberapa kampung kini sudah hilang karena berganti nama atau dibangun proyek.

Nama jalan dan tempat dalam Belanda terbanyak di kota tua, sekitar Glodok dan Pasar Ikan. Sreperti Jl Kopi yang menuju Pasar Ikan, dulu, bernama Utrechtsche Straat. Jl Tongkol, depan Museum Bahari Pasar Ikan, dulunya bernama Prinsenstraat. Sebelum Gubernur Jenderal Daendels menghancurkan kota lama awal abad ke-19 dan kemudian hijrah ke Weltevreden (sekitar Gambir dan Lapangan Banteng), Prinsetraat kawasan paling bergengsi. Dengan rumah-rumah tertata rapi di tepi Kali Opak anak dari Ciliwung yang dulu jernih dan dua kali lebar sekarang.

Sebelum Jepang (1942), di selatan Jl Tongkol terdapat The Amsterdam Poort atau pintu gerbang Amsterdam. Ia adalah salah satu peninggalan VOC yang selamat dari penghancuran Daendels. Pintu gerbang ini merupakan jalan penghubung antara pusat kota waktu itu dengan daerah ‘pedalaman’. Kita dapat menyaksikan replika dari pintu gerbang ini di Kafe Batavia, Pasar Ikan.

Pintu Besar kala itu bernama Nieuwpoort Straat. Ada Oost Nieuwpoort Straat (Pintu Besar Timur), Binnen Nieuwport Straat (Pintu Besar Utara), Binnen Niuwport West (Barat) dan Zuid Nieuwport Straat (Pintu Besar Selatan). Di selatannya terdapat Pintu Kecil yang dikenal dengan sebutan Diestpoort, arti pintu kecil dalam Belanda. Antara Pintu Kecil dan Pancoran, terdapat Jl Toko Tiga. Di sini terdapat Kali Krukut yang dulu sangat penting bagi transportasi barang dan kebutuhan pokok dari pedalaman ke Batavia.

Sejak empat abad lalu, di kawasan Pintu Kecil Glodok ini, para tauke sudah sangat berperan dalam hampir semua aspek perdagangan, distribusi, dan pertanian di Batavia. Rumah-rumah tua bergaya Cina masih banyak terdapat di sini. Sayangnya, rumah-rumah yang dilindungi keberadaannya sebagai cagar sejarah, ketika terjadi kerusuhan Mei 1998, banyak yang dibakar dan dirusak.

Waktu itu, Belanda banyak membangun pos jaga di Batavia. Di antaranya di gedung BTN Harmoni. Ketika pos jaga ini didirikan banyak monyet. Maka muncullah nama Jaga Monyet. Sekarang jadi Jl Suryopranoto. Pada pendudukan Jepang di Jaga Monyet terdapat markas Pembela Tanah Air (Peta). Ketika Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI, pasukan ini turut mengawal. Mereka berbaris menuju Jl Pegangsaan Timur, rumah kediaman Bung Karno yang jaraknya sekitar 5 km.

Jalan Budikemulian, yang bagian mukanya diapit gedung BI dan gedung pencakar langit Postel dekat Monas, dulu bernama Gang Scoot. Bersama dengan Koningsplein (Medan Merdeka), Parapatan, dan Tamarindelaan (Asem Lama – Jl Wahid Hasyim), dan Kebon Sirih merupakan daerah elite Eropa, sebelum dibangun Menteng pada 1920. Menjelang akhir abad ke-19, banyak modal asing dari Eropa ke Indonesia. Jumlah warga Eropa di Batavia selama 9 tahun naik dua kali lipat. Dari 6.253 orang (1866) menjadi 12.429 orang pada 1875. Para elite ini umumnya tinggal di rumah-rumah besar, dilengkapi pavilion dan halaman luas.

Dalam peta 1887 terlihat nama-nama kampung yang kini sebagian sudah hilang. Seperti Kebon Jahe (ditulis Kebon Djae). Sebagian tergusur untuk jalan arteri Tanah Abang – Tomang. Kampung Jagal di Senen, yang hilang, sejak dibangun Proyek Senen dan Atrium. Di dekatnya terdapat Kampung Tanah Nyonya yang terletak antara Bungur dan Kemayoran. Sekalipun Kemayoran sudah terdapat dalam peta, tapi masih merupakan rawa-rawa. Karena lapangan terbang Kemayoran baru dibangun 1935.

Di Jakarta kala itu ada Kampung Jepang. Letaknya di Palmerah, Jakarta Barat. Karena di sini terdapat landhuis (rumah peristirahatan luar kota) milik warga Jepang. Gedung yang berusia ratusan tahun dan menjadi saksi sejarah Ibukota, sejak 1980-an sudah almarhum. Tidak peduli, banyaknya sejarawan yang memprotes saat pembongkarannya.

Dulu di Jakarta terdapat nama jalan dan tempat yang dimulai dengan kata Pal. Seperti Palmerah, Palputih, Palmeriem, dan Pal Busuk. Pal, terbuat dari batu cor dengan ketinggian satu meter di atas tanah. Bentuknya agak gepeng dan tampak berkilauan menyerupai batu giok. Pal dibuat Belanda dan berfungsi sebagai patok sebagai batas wilayah kota Batavia. Batas-batas kota ini ditarik dari Gedung Kesenian di Pasar Baru. Kini batu-batu pal itu sudah tidak ketahuan lagi rimbanya, yang ada tinggal nama wilayahnya.

REPUBLIKA – Minggu, 25 Nopember 2001

Read Full Post »

Tragedi Jan Con

Warga Tionghoa yang masuk Islam, menurut Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) akhir-akhir ini memang meningkat, terutama sejak masuknya sejumlah konglomerat mereka. Tapi, jumlahnya masih sangat sedikit dibandingkan yang memeluk agam alain. Sebagai contoh, H Yunus Yahya, pendiri PITI, menyebutkan bahwa sejak Perang Dunia II, dua juta keturunan Tionghoa di Indonesia masuk Kristen.

Drs H Alifuddin el Islamy, seorang jurudakwah dari keturunan Tionghoa, optimis di masa mendatang lebih banyak lagi keturunan Tionghoa di Indonesia memeluk Islam. Terutama generasi mudanya. Dewasa ini, di Jakarta terdapat 19 jurudakwah keturunan Tionghoa. Belum lagi di daerah lain.

Keengganan masyarakat Tionghoa memeluk Islam, menurut dai yang sering muncul di televisi ini, akibat politik kolonial Belanda. Sejak awal penjajahan, Belanda mengadakan politik ‘divide et empera’. Dengan memisahkan keturunan Tionghoa dan pribumi, termasuk memberikan kemudahan dan membedakan status sosial mereka.

Seperti dikemukakan Dr Mona Lahonda, pengajar jurusan sejarah UI dan peneliti di Arsip Nasional, sejak awal abad ke-17 sudah banyak para hwakiau (perantau Cina) yang bermigrasi ke Indonesia. Di antara para imigran awal ini termasuk Jan Con (baca: Yang Kong), yang nama Hokiennya adalah Gouw Tjau. Dia adalah seorang Muslim. Dia datang di Batavia bersama sekitar 200 orang keturunan Cina dari Banten. Pimpinan rombongan adalah Souw Beng Kong atau Bencon yang kemudian diangkat oleh Gubernur Jenderal JP Coen sebagai kapiten Cina pertama di Batavia.

Seperti perantau Tionghoa lainnya, Jan Con yang menjadi sekretaris kapiten Bencon, masih memegang teguh ikatan batin dengan Tong-soa sebutan kerinduan emigran Tionghoa terhadap negeri leluhurnya. Tidak heran, kalau kemudian ia terangkat menjadi seorang konglomerat banyak membantu kerabatnya di daratan Cina. Tapi, sebagai Muslim, ia juga banyak membantu kegiatan keagamaan. Setidak-tidaknya membangun masjid di Kampung Bebek, Angke, Jakarta Barat. Ia dan orang-orang Tionghoa waktu itu tinggal di sekitar Jl Tiang Bendera, Glodok dewasa ini. Daerah yang kini menjadi pusat pertokoan dan perdagangan, kala itu sebuah perkampungan Tionghoa. Bahkan, di antara menantu kapiten Bencon terdapat seorang Muslim keturunan Tionghoa, bernama Eutje Moedin.

Ikatan Jan Con dengan tanah leluhurnya masih diperkokoh lagi oleh kenyataan bahwa ia adalah pemasok tenaga kerja dari daratan Cina ke Batavia. Mereka yang akan dipekerjakan sebagai kuli dan tenaga kasar didatangkan dengan jung-jung Cina ke Batavia. Leonard Blusse, dalam bukunya ‘Persekutuan Aneh,’ menyebutkan, tenaga kerja dari Cina itu digunakan untuk menambah kawanan budak yang dikerahkan oleh VOC untuk menggali saluran dan membangun kubu-kubu pertahanan di Batavia.

Ia juga mempekerjakan para kuli Tionghoa ini pada perusahaan penebangan kayu dan perkebunan gula. Kala itu, di sekitar Jakarta memang banyak produksi kayu dan industri. Konon, hasil kayu jati dari Batavia sangat tersohor, yang kini dapat ditelusuri dengan adanya nama-nama tempat, seperti Jatiwaringan, Kramatjati, Jatibunder, dan masih bnyak lagi.

Waktu itu, menurut Leonard Blusse, perdagangan kayu merupakan usaha yang sangat berbahaya. Karena, sering mendapat serangan dari gerilyawan Banten yang tidak pernah berhenti mengusik kompeni.

Berkat hubungan baiknya dengan VOC, jan Con dan Bencon mendapatkan kemudahan dalam berbagai jenis usaha, dan mendapat tugas memungut pajak pada warga Tionghoa. Ia juga diminta VOC untuk menjadi penengah dalam perundingan perdamaian dengan Kesultanan Banten. Hal ini makin memperkokoh kedudukannya di hadapan Hoge Regeening (Pemerintahan Agung, Gubernur Jenderal dan Dewan Hindia).

Namun, ia tidak selalu beruntung dalam kehidupan pribadinya. Istrinya didapati bermain gelap dengan laki-laki Cina, hingga ia merasa kehilangan harga dirinya. “Peristiwa zinah istrinya itu diketahui oleh umum,” tulis Leonard Blusse.

Pada September 1639 ia meninggal dunia dalam keadaan melarat dan meninggalkan utang yang sangat besar. Menurut Mona, ia juga dituduh terlibat dalam membuat uang palsu kepeng uang logam dari timah yang berlaku saat itu. Ambisinya untuk menggantikan Bencon menjadi kapiten Cina juga gagal karena VOC memilih saingannya, Lim Lico. Mona memperkirakan kegagalan ini, dimungkinkan karena agama. Waktu itu, untuk kelompok Islam, sudah ada kapiten sendiri. Jadi, tidak mungkin ada dua kapiten beragama Islam. Mona Lahonda menafsirkan kisah Jan Con sebagai tragedi orang Cina yang bisa kaya tapi juga bisa bangkrut.

REPUBLIKA – Minggu, 18 Nopember 2001

Read Full Post »

Kastil Batavia

Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta tengah berupaya mendapatkan pintu gerbang kastil Batavia, yang saat ini menjadi koleksi Museum Geraldtom, Australia Barat. Pintu gerbang ini dibuat di Negeri Belanda dan dikapalkan pada 1628 dengan tujuan Batavia. Tapi, kapal ‘Batavia’ dalam pelayarannya dari Belanda malah nyasar ke Australia dan akhirnya tenggelam setelah menubruk pulau karang pada 1629.

Tahun 1963, bangkai kapal ini ditemukan. Ternyata bahan-bahan bangunan untuk pintu gerbang pesanan Jenderal Coen, pendiri Batavia, masih utuh. Bahkan, pihak museum Australia Barat setelah mengkonstruksi menjadikannya sebagai pintu gerbang seperti dicita-citakan Coen. Kalau upaya memindahkan pintu gerbang yang asli ke Jakarta tidak berhasil, Dinas Kebudayaan dan Permuseuman berniat membuat replikanya untuk ditempatkan di Museum Bahari, Pasar Ikan, Jakarta Utara. (Republika 31/10-2001).

Sebelumnya, Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI telah mengadakan penelitian arkeologi untuk membuktikan sisa-sisa dan fondasi di sekitar Kastil Batavia. Penelitian selama 10 hari menemukan sisa-sisa bata lama bagian dari kastil sesuai ukuran dan bentuk aslinya. Juga ditemukan pecahan-pecahan keramik Cina dan Eropa dari berbagai periode. Selain itu, kata Husnison Nizar, arkeolog dari Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI, ditemukan pinggiran Kali Besar di kedua sisinya.

Hasilnya menunjukkan, tiga abad lalu, Kali Opak di depan Kafe Galangan Kapal Batavia di Jl Tongkol (dekat Museum Bahari), dua kali lebih lebar dari sekarang. Lokasi Kastil Batavia ketika itu dikelilingi parit-parit yang kini merupakan sungai-sungai. Di sisi timur berupa Kali Besar. Sisi utara dan barat adalah Kali Opak. Sedangkan sisi selatan kali, di sekitar kastil, sudah diuruk. Letaknya diperkirakan sejajar dengan rel kereta api Jakarta Kota. Keberadaan kastil dikelingi sungai atau parit untuk pertahanan.

Jalan Tongkol di Pasar Ikan, sejak dulu merupakan jalan yang menghubungkan bagian utara dan selatan kastil Batavia. Di keempat sudutnya terdapat empat bastion yang menonjol keluar. Masing-masing dinamai : ‘Diamont’ (Intan), ‘Robijn’, ‘Parel’ dan ‘Safier’. Di bastion-bastion ini ditempatkan gardu penjaga dengan meriam-meriamnya. Nama bastion yang masih tersisa adalah Kota Inten. Letaknya di depan Hotel Omni Batavia yang kini jadi terminal angkutan Jakarta Kota. Tembok-tembok di atas bastion-bastion disebut courtine atau gordijn.

Di tengah-tengah gordijn selatan dibuat pintu laandpoort (pintu gerbang darat) dan disebelah├┐20utara waterpoort (pintu gerbang laut). Di sebelah kastil kemudian dibuat grachten atau parit atau sungai buatan sesuai dengan suasana kota Belanda, terutama Amsterdam. Dengan makin pesatnya pembangunan kota Batavia, kastil seluas 600 X 800 meter itu hanya menjadi bagian kecil dari Kota. Karena dikelilingi benteng, Batavia dikenal sebagai ‘kota berbenteng’.

Nama ‘kota’ yang melekat hingga sekarang untuk daerah ini, menurut arkeolog Husnison Nizar diambilkan dari sebutan ‘kota berbenteng’. Waktu itu, kawasan perdagangan Glodok yang berada di luar benteng merupakan daerah pedalaman. Tidak heran, kalau orang Belanda tidak berani mendatanginya karena banyak perampok dan binatang buas. Kawasan ini baru dibangun perumahan dan perkantoran pada abad ke-18.

Ketika menduduki Jayakarta, Coen sebenarnya ingin agar kota yang direbutnya itu dinamakan Nieuw Hoorn. Nama ini sama dengan nama sebuah kota di provinsi Noord Holland, tempat kelahirannya. Tapi, saat ia masih berada di Maluku, kota ini telanjur diberi nama Batavia. Nama ini diberikan secara serampangan oleh seorang prajurit VOC yang mabuk saat pesta ‘gila-gilaan’ pada 12 Maret 1619.

Batavia berasal dari kata Batavieren, yakni bangsa Eropa yang jadi nenek moyang orang Belanda. Sedangkan nama Betawi ada yang menyebutkan sebagai kesalahan penyebutan nama Batavia. Tapi versi lain menyebutkan, pada waktu tentara Mataram menyerang Batavia, tentara Belanda kehabisan peluru. Maka diisilah meriam-meriam dengan kotoran mereka. Lalu ditembakkan kearah tentara Mataram. Tersebarlah bau yang tidak enak. Tentara Mataram berteriak-teriak, “Mambo tai – mambo tai (bau tai -red).” Dari kata itulah konon berasal kata Betawi.

REPUBLIKA – Minggu, 04 Nopember 2001

Read Full Post »

Sumpah Pemuda

Memasuki sebuah gedung di Jl Kramat Raya 106, Kelurahan Kwitang, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat kita dapat menyelami kembali peristiwa bersejarah 73 tahun lalu. Saat para pemuda dari berbagai Nusantara mengikrarkan Sumpah Pemuda: Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa. Di gedung yang kini dilestarikan menjadi Museum Sumpah Pemuda itu, dapat ditemui berbagai koleksi yang berkaitan dengan peristiwa itu, pada Minggu malam 28 Oktober 1928.

Di antaranya koleksi biola milik komponis Wage Rudolf Soepratman, yang dipakai untuk pertama kalinya memperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia sesaat sebelum Sumpah Pemuda dibacakan. Gesekan biolanya kadang diselingi suaranya yang agak parau, mendapatkan sambutan antusias dari para pemuda yang berjumlah sekitar 300 orang, rata-rata berusia 20-an tahun.

Pemuda Soepratman, yang berbadan kurus menerima ucapan selamat dan pelukan hadirin dengan mata berkaca-kaca. Tampilnya generasi muda dalam pergerakan nasional saat itu merupakan salah satu dampak diberlakukannya politik etis oleh pemerintah kolonial pada awal abad ke-20. Politik ini terpaksa dilakukan Belanda karena menghadapi kecaman-kecaman keras, akibat kekejaman yang luar biasa terhadap tanah jajahannya. Termasuk sistem tanam paksa yang mengakibatkan jutaan rakyat Indonesia menderita dan ribuan orang meninggal dunia.

Dengan sistem etis Belanda memberikan kesempatan kepada pemuda Indonesia untuk menempuh pendidikan. Akibatnya banyak pemuda dari berbagai daerah yang berdatangan di Batavia untuk menempuh pendidikan. Waktu itu, di luar Pulau Jawa, sekolah seperti MULO dapat dihitung dengan jari. Padahal MULO hanya setingkat SMP. Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara adalah contoh daerah yang hanya mempunyai satu MULO di Makasar.

Di Batavia, para pemuda pelajar ini merasa senasib dan seperjuangan. Kemudian mereka mendirikan organisasi-organisasi kepemudaan berdasarkan kedaerahan. Maka lahirlah Jong (baca young = pemuda) Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Minahasa, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Bataks Bond, Jong Timoreesch Bond, Sekar Rukun (organisasi pemuda pelajar dari Sunda), dan Pemuda Kaum Betawi. Kedua himpunan yang terakhir ini menolak menggunakan istilah ‘jong’ karena dianggap berbau kolonial.

Dua tahun menjelang Sumpah Pemuda juga berdiri Jong Islamieten Bond. Organisasi pemuda bernapaskan Islam ini, lebih didorong oleh kegiatan partai politik, yakni Partai Sarekat Islam (PSI). Para pemuda ini kemudian mengadakan Kongres Pemuda yang sekaligus bertujuan untuk melahirkan berdirinya organisasi-organisasi pemuda dalam satu atap. Kongres diadakan 30 April – 2 Mei 1926.

Seluruh pengantarnya Bahasa Belanda. Kongres ini tidak menghasilkan keputusan secara bulat. Soal bahasa, pemilihan tiga bahasa (Jawa, Belanda, Melayu) sebagai bahasa nasional masih diperdebatkan. Mengenai bahasa Jawa, yang mayoritas digunakan masyarakat atau pemuda Jawa dalam pergaulan, sulit diterima untuk dijadikan bahasa persatuan atau nasional. Bahasa Belanda dianggap bahasa kolonial.

Bahasa Melayu, sekalipun memiliki pendukung yang banyak, tapi dalam Kongres Pemuda 1926 belum bisa diterima sebagai bahasa persatuan dan nasional. Kongres Pemuda ke-2 sendiri berlangsung di tiga gedung mengingat para pemuda kediaman kost-nya berpencar-pencar di Batavia. Rapat pertama diadakan Sabtu (27/8/1928) di gedung Katholieke Jongenlingen Bond di Waterlooplein (kini Jl Lapangan Banteng).

Rapat dimulai pukul 19.00 – 23.30. Rapat kedua (Minggu) dimulai pukul 08.00 – 12.00 di gedung Oost Java Bioscoop di Koningsplein Noord (Medan Merdeka Utara) depan MBAD. Rapat ketiga Minggu, 28 Oktober 1928, pukul 17.30 – 23.30 WIB di gedung Indonesisshe Clubgebouw Jl Kramat 106, yang menghasilkan Sumpah Pemuda.

Rapat ini rupanya tidak berjalan mulus, karena mendapat gangguan berupa larangan dan ancaman penghentian pertemuan dari Adjunct Hoofdcommisaris van Politie van der Vlugt. Pelarangan terjadi saat pemakaian kata-kata Indonesia Merdeka. Mendapat ancaman itu, ketua kongres, Soegodo Djojopoespito tetap tenang.

Dengan senyum simpul dan telunjuk ke atas, berkata kepada peserta : “Verboden …, tetapi kita tahu sama tahu.” Hadirin menyambutnya dengan riuh, riang, dan kadang dengan nada memperolok petugas polisi rahasia Belanda (PID) itu yang ada di lokasi. Gedung Kramat 106 ini sejak 1928 memang ditempati sebagai kost oleh para pelajar.

Pada awalnya ia sebuah rumah milik Sie Kong Liong. Tahun 1934 sudah tidak ada pelajar lagi yang tinggal di sini. Oleh pemiliknya disewakan pada Pang Tjeng Yam yang menggunakan sebagai rumah tinggal. Pada 1937 disewa Loh Jing Tjoe yang menggunakannya sebagai toko bunga. Gedung yang pernah dijadikan asrama Bea Cukai ini, juga pernah menjadi Hotel Hersia.

REPUBLIKA – Minggu, 28 Oktober 2001

Read Full Post »

Memboikot Produk Italia

Libya, yang terletak di tepi Laut Tengah, Afrika Utara, termasuk negara nomor empat terluas di Afrika. Dengan penduduk sekitar 4,5 juta jiwa, negara yang kaya-raya dengan produksi minyak, sejak 1969 dipimpin oleh Muammar Khadafi pengagum pemimpin Mesir Jamal Abdel Nasser. Sejak Kolonel Khadafi jadi pemimpin tertinggi Libya, ia menggunakan minyak untuk membantu perjuangan negara-negara Arab, terutama dalam menentang Israel. Khadafi dan para pemimpin Libya menyadari bahwa kekayaan yang mereka peroleh anugerah Allah SWT. Karena itu harus dimanfaatkan untuk kepentingan Islam.

Karena konsisten membantu perjuangan umat Islam dan negara-negara tertindas di dunia, Khadafi jadi dibenci Barat, khususnya Amerika Serikat. Bahkan, Indonesia yang sangat bergantung pada bantuan AS, dimasa Orba ikut menjauhi negara itu. Baru sekitar awal 1990-an, Libya bisa membuka perwakilannya di Indonesia.

Seperti Indonesia, Libya pernah menghadapi perjuangan berat melawan imperialisme dan kolonialisme. Sejak Italia menduduki negara itu pada 1911 setelah mengalahkan Turki rakyat Libya tidak henti-hentinya melakukan perlawanan. Lebih-lebih ketika Mussolini pada 1922 berkuasa di Italia. Mussolini yang fasis dan diktator itu melakukan kekejaman luar biasa dalam upaya mematahkan perlawanan rakyat Libia yang tidak pernah surut.

Di antara pahlawan Libya yang mendapat julukan ‘the lion of the desert’ singa padang pasir adalah Umar Muchtar, guru sekolah agama dari Tripoli. Sepuluh tahun lamanya ia dan para pengikutnya mengangkat senjata melawan balatentara Italia yang memiliki persenjataan modern. Mussolini, yang semakin kalap memerintahkan untuk dengan segala cara menumpas pemberontakan itu. Akibatnya, beratus-ratus rakyat Libya dibunuh dan disiksa, tidak terkecuali wanita dan orang tua.

Pada 16 September 1931, Umar Muchtar (setelah menderita luka-luka dalam pertempuran tidak seimbang) ditangkap bersama dengan para syuhadah lainnya. Pejuang Islam ini pun menjadi syahid setelah dihukum gantung di depan umum bersama sejumlah pengikutnya. Sebelum meninggalkan dunia, ia minta agar terlebih dulu melakukan shalat. Sambil menyatakan bahwa ia boleh mati, tetapi perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan dan kebebasan, melawan ketidakadilan dan nafsu serakah kaum imperialis tidak akan pernah berhenti.

Dunia Islam pun mengutuk pembantaian di luar perikemanusiaan ini. Termasuk Indonesia, yang kala itu sudah punya hubungan dengan gerakan Pan Islam yang dimotori oleh Sayid Jamaluddin Al-Afghani, Syekh Muhammad Abduh dan Sayid Rasyid Ridha. Dimotori H Agus Salim selaku pimpinan Syarikat Islam (SI), maka diambil suatu keputusan: ‘Memboikot produk dan barang-barang Italia.’ Waktu itu, produk Italia yang masuk ke Indonesia adalah mobil Fiat dan tarbus. Karena umumnya Belanda dan Cina yang mampu membeli mobil, maka sasaran lebih luas adalah tarbus. Tarbus adalah peci berbentuk bundar warna merah dengan kuncir hitam ditengahnya. Peci yang umumnya dipakai oleh keturunan Arab di Indonesia, menjadi sasaran pembakaran di jalan-jalan di Batavia. Boikot yang terjadi pada masa kolonial Belanda itu, merupakan solidaritas umat Islam yang patut dipuji. Karena tindakan itu dilakukan di bawah ancaman Belanda yang tidak menyetujui tindakan tersebut.

Kini, setelah invasi AS ke Afganistan, banyak usul agar kita memboikot produk dan barang AS. Setidak-tidaknya banyak yang meminta agar strategi pembangunan nantinya tidak lagi harus tergantung dari luar negeri. Apalagi seperti yang pernah disindir oleh PM Malaysia, Mahathir, kalau saja ada negara menolak keingingan AS, maka bersiap-siaplah untuk di ‘Panama’-kan, dan kepala pemerintahannya di ‘Noriega’-kan. Kasus persengketaan di Panama dengan AS itu, juga tercermin dalam kasus persengketaan Irak-AS. Dengan alasan Saddam Husein musuh nomor satu, AS tanpa mengenal kasihan telah merusak infrastruktur Irak, membunuh bayi dan wanita, menghancurkan pabrik susu, melumpuhkan ekonomi dan perdagangan Irak. Kasus serupa kini tengah terjadi di Afghanistan. Rakyat sipil yang tidak berdosa menjadi korban. Karena itulah Bung Karno mengatakan bahwa imperialisme dan kapitalisme merupakan sumber ketegangan di dunia.

REPUBLIKA – Minggu, 21 Oktober 2001

Read Full Post »

Alaydrus Laan dan Perang Aceh

Menyelusuri Jl Gajah Mada menuju Jakarta Kota kita akan mendapati Jl Alaydrus. Terletak bersebelahan dengan Jl KH Hasyim Asy’ari, Jl Alaydrus kini menjadi pusat pertokoan dan perkantoran, yang didominasi kantor biro-biro perjalanan. Di sini sudah hampir tidak dijumpai lagi rumah-rumah tempat tinggal, seperti masa kolonial Belanda. Ketika itu jalan ini bernama Aladyrus Laan.

Belanda memberikan nama boulevard untuk jalan raya utama. Seperti Oranye Boulevard dan Nassau Boulevard untuk Jl Imam Bonjol dan Jl Diponegoro. Jalan raya kelas satu di pusat kota disebut laan atau straat. Jalan lebih kecil disebut weg, sedangkan jalan kecil atau lorong yang tidak dapat dimasuki mobil disebut gang.

Jl Alaydrus: apa pasalnya sampai jalan ini diberi nama demikian? Jawabnya, karena di tempat ini dulu tinggal Habib Abdullah bin Husein Alaydrus. Bukan hanya itu. Seluruh gedung dan rumah yang ada di jalan ini juga miliknya. Termasuk beberapa buah gedung dan pertokoan di Jl Gajah Mada. Di Jatipetamburan, Jakarta Pusat, Habib memiliki rumah dan tanah seluas 11,5 ha. Memasuki Jl Alaydrus, terdapat beberapa jalan yang pada masa Belanda namanya Husein Laan dan Ismail Laan. Nama kedua putra Habib Abdullah.

Seperti dituturkan oleh menantunya Habib Abubakar Alaydrus (90 tahun), mertuanya (Habib Abdullah bin Husein Alaydrus), memiliki 80 buah gedung di Jl Alaydrus dan 25 buah gedung di Jl Gajah Mada. Dari gedung-gedung dan tanah yang disewakan ini, Habib Abdullah mendapatkan penghasilan 12 ribu gulden tiap bulan. Waktu itu, harga beras paling mahal hanya tujuh setengah gulden per karung (100 kg).

Untuk memperlancar tagihan sewa menyewa rumah dan gedung, ia mendirikan Bouwmatchappij Abdullah bin Husein Alaydrus. Orientalis Belanda LWC van der Berg yang mengadakan penelitian orang-orang Hadramaut di Nusantara (1884-1886) menyebutkan, di Batavia hanya empat orang Arab yang penghasilannya di atas 12 ribu gulden per tahun. Habib Abdullah juga dikenal dermawan. Ketika perang Aceh, pada akhir abad ke-19, ia banyak membantu perjuangan para pahlawan dari Tanah Rencong ini dalam melawan Belanda.

Dengan cara mengirimkan senjata-senjata yang diselundupkannya dari Singapura. Agar tidak dicurigai Belanda, kapal yang membawa senjata ini ditutupi dengan sayur-mayur. Dia juga dikenal sebagai orang pro-Turki ketika masih dipimpin Ottoman. Tidak heran saat pecah perang dunia pertama, ia banyak memberikan bantuan uang pada Turki. Karena keterlibatannya itu, pihak Inggris –yang menjadi lawan utama Turki dan Jerman– ingin menangkap Habib Abdullah. Guna menghindari kejaran Inggris, ia melarikan diri ke Sumatera.

Ia baru bisa kembali ke Jakarta setelah diselundupkan di sebuah perahu. Ia juga banyak memberikan bantuan untuk memajukan Jamiatul Kheir, pendidikan Islam modern pertama di Jakarta yang didirikan pada 1901. Ketika diminta bantuannya, ia menyuruh orang mengambil sendiri dari lacinya. Bantuan itu, besarnya 2.100 gulden. Jumlah yang sangat besar ketika itu. Mr Hamid Algadri dalam buku ‘Islam dan Keturunan Arab’ menyebut Abdullah bin Husein Alaydrus selalu duduk di meja direktur dalam rapat-rapat Syarikat Islam di Jakarta sekitar 1915.

Sedangkan sejarawan Jerman, Adolf Heuken yang banyak menulis tentang Jakarta menyebutkan bahwa sayid ini banyak membantu perluasan masjid tua ‘An-Nawir’ di Pekojan, Jakarta Barat. Menurut menantunya, Habib Abubakar, Allaydrus meninggal dunia pada 1936 dalam usia lebih 80 tahun. Kekayaannya mulai berkurang ketika terjadi resesi ekonomi yang hebat pada tahun 1930-an (malaise). Karena banyak rumah yang kosong ditinggalkan penyewa, hingga ia tidak bisa membayar bank, akibatnya, Bouwmatchappij Alaydrus diambil oleh Bank Nilmij.

Utang itu pun dicicil hingga perang dunia kedua. Ketika Belanda takluk pada Jepang, Nilmij beralih lagi kepada Allaydrus. Pihak Jepang mengharuskan agar seluruh utangnya sebesar 700 ribu gulden dibayar. Maka para ahli waris pun mufakat sebagian dari rumah dan gedung dijual pada orang India untuk membayar utang kepada Jepang.

Tapi setelah Jepang takluk, maka Nilmij pun berkuasa kembali. Nilai penjualan pada masa Jepang oleh Nilmij hanya ditetapkan sebesar tiga sen per gulden (100 sen). Para ahli waris terpaksa menjual rumah dan kebun untuk menutupinya. Kini para ahli waris Habib Abdullah bin Husein Alaydrus berpencar ke berbagai tempat, setel
User Online : 1 | ┬ęCopyright 2007 Version by MIS Div PT Republika

REPUBLIKA – Minggu, 30 September 2001

Read Full Post »

Older Posts »