Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘roti buaye’

Mak Comblang dan Roti Buaye

Di masyarakat Betawi  tempo doeloe istilah mak comblang sangat beken. Mak comblang merupakan sosok yang memiliki keahlian dalam urusan perjodohan.Sesuai dengan namanya, mak comblang bertugas mencari perempuan calon mantu atau none calon mantu, sesuai permintaan orang tua si jejaka. Karena itu, ia adalah seorang yang pandai bicara dan bergaul. Biasanya,mak comblang adalah seorang wanita yang telah berumur (paruh baya), yang keahliannya dalam mencari calon menantu sesuai dengan ‘pesanan’ tidak diragukan.

Bagi orang Betawi, untuk sampai tahap berumah tangga, dikenal istilah ngedelengin. Dulu, bila sebuah keluarga mempunyai anak lelaki yang sudah berangkat dewasa, sudah bekerja, dan sudah pantas berumah tangga, orang tuanya berusaha untuk mencarikan jodoh.Bagi masyarakat Betawi, belum menikah pada usia tertentu akan menjadi bahan fitnah atau bahan gunjingan tidak sedap di telinga yang bersangkutan dan keluarganya.

Sebelum sampai ke mak comblang, pertemuan atau perjodohan jejaka dan gadis biasanya tercipta saat si jejaka dan gadis ‘bertemu’ pada saat malam ngeracik atau mangkat. Kala itu belum ada katering, hingga pada malam menjelang hajatan sejumlah gadis membantu memasak di pelataran atau halaman belakang rumah dan bikin tetarub.Saat itu si gadis, seperti diperintahkan orang tuanya, sejak sore telah berdandan seelok mungkin. Rambutnya diberi minyak kelapa atau minyak urang aring supaya tampak licin. Di situlah kesempatan sang jejaka mengintip dan kemudian memberitahukan pada orang tuanya gadis mana yang disukai.

Menurut Nyonya Andreas (79 tahun), dari Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), saat itu si perjaka sudah mulai berani menggoda. Ketika si gadis memarut kelapa, si perjaka berucap, “Aduh abang ingin jadi kelape.” Atau, “Abang ingin jadi centongnya.”Waktu itu, salah satu syarat bagi orang tua untuk memilih seorang gadis adalah harus pandai memasak. Hingga, di masyarakat Betawi, masak memasak diajarkan pada anak gadis sejak berusia belasan tahun.

Bila ada kecocokan barulah sang orang tua meminta jasa mak comblang. Lalu si gadis dengan sukacita akan diperlihatkan oleh ibunya di hadapan mak comblang. Misalnya, dengan mengeluarkan sajian  pengetean(minum teh).Seperti layaknya seorang diplomat, setelah si gadis masuk, biasanya orang tua bercerita panjang lebar tentang kelebihan dan kebaikan anak gadisnya, meskipun dengan bahasa yang penuh kiasan, “Mpok ngkali aje ude denger cerite orang, anak saye itu perawan yang baik. Tapi itu kan kate orang….Kalimat bersaya makin gencar jika mak comblang memperlihatkan perhatian lebih serius.

Mak comblang yang diterima keluarga si gadis akan meningkatkan kegiatannya. Sementara sang jejaka yang sudah mendapat ‘lampu hijau’ sudah berani datang ke rumah si gadis (ngelancong).Perjaka dulu tidak seagresif sekarang dan masih malu-malu. Saat pertama ngelancong si jejaka ditemani oleh temannya, karena belum berani datang sendiri. Dan, si perjaka belum boleh bertemu langsung dengan gadis pujaannya, karena tujuannya memperkenalkan diri pada keluarga si gadis.

Proses selanjutnya adalah melamar. Pernyataan resmi dari keluarga laki-laki kepada keluarga perempuan. Kemudian diteruskan dengan bawaan seperti pisang raja yang terbaik, kuat dan dapat bertahan beberapa hari. Uang sembah (sembe) yang diberikan pengantin laki-laki kepada pihak pengantin wanita yang jumlahnya sesuai kesepakatan. Kemudian, dilanjutkan acara bawa tanda putus.

Ketika membayar  mahar(mas kawin), orang Betawi punya tata krama sendiri. Biasanya pihak wanita mengutarakan dengan gaya bahasa atau ungkapan yang tersirat. Misalnya, “None kite minta mate bandeng seperangkat.” Itu berarti calon mantu menghendaki mas kawin seperangkat perhiasan emas bermata berlian.Jika pihak calon mantu menyatakan, “None kita mintanye mate kembung seperangket.” Artinya, mas kawin yang diminta adalah perhiasan emas bermata intan tulen. Dengan sendirinya utusan pihak calon mantu pria harus memahami kata-kata bersayap itu.

Jangan dilupakan, di antara mas kawin yang dimustikan adalah sepasang roti buaya. Buaya perempuannya menggendong seekor anak buaya di punggungnya sebagai lambang telah berakhirnya masa lajangnya melalui pernikahan.Buaya, menurut pengertian orang Betawi, adalah jenis satwa yang ulet, kuat, dan juga satwa yang sabar. Roti buaya perempuan yang menggendong seekor buaya kecil di punggungnya juga menjadi lambang kesetiaan.

Setelah tanda putus, maka calon pengantin wanita dipelihara oleh tukang piare selama satu bulan. Dimaksudkan untuk mengontrol kegiatan, kesehatan, dan memelihara kecantikannya.Selama dipiare, calon pengantin perempuan juga diharuskan memakai kain sarung kebaya berlengan longgar serta terbalik sebagai lambang tolak bala. Kalau gemuk diharuskan diet, tidak boleh makan makanan yang digoreng. Makanan harus dibakar, dipanggang dan direbus.

Selain itu, juga diharuskan minum jamu godok dan jamu air akar secang. Seluruh tubuhnya diurut dan dilulur tiap hari. Dilarang mandi dan ngaca (bercermin). Harus banyak zikir, baca Alquran Surah Yusuf. Dulu, gigi pengantin wanita juga harus digosok (dipagar) agar rata.

Iklan

Read Full Post »