Feeds:
Tulisan
Komentar

Jakarta 474 Tahun

Jakarta, yang kini berusia 474 tahun, memiliki sejarah paling panjang di Asia Tenggara. Bangkok didirikan 1769, Sydney (1788), Singapura (1819), dan Kuala Lumpur (awal abad ke-19). Jakarta memang tak memiliki istana-istana kerajaan dan phra-phra penuh patung berlapis emas seperti Bangkok. Bukan pula kawasan hijau royo-royo seperti Singapura yang dijuluki The Garden City.

Sekalipun masa lalunya tidak kalah menariknya dari bekas koloni Inggris ini. Atau seperti Kuala Lumpur yang penataan kotanya begitu indah dengan berbagai taman. Apalagi dibandingkan dengan Sydney, kota yang selalu gemerlapan. Tapi, ada kelebihan Jakarta yang tidak dimiliki kota-kota tersebut. Di sini banyak bangunan kuno yang masih tersisa, dan perlu diselamatkan keberadaannya. Karenanya, tepatlah ketika gubernur Ali Sadikin melestarikannya sebagai cagar budaya.

Kalau saja tidak ada peraturan ini, barangkali bangunan-bangunan tua ini sudah punah. Padahal, ia merupakan daya tarik bagi wisatawan asing untuk datang ke Ibukota. Yang sejak beberapa tahun lalu dipromosikan Pemda DKI. Sayangnya, belum berhasil. Konon akibat citra buruk Jakarta yang di luar negeri dilukiskan sebagai kota yang menakutkan. Barangkali tidak ada kota sedinamis Jakarta di jagad ini. Kota yang semula berpenghuni ribuan orang –menurut bahasa Sansekerta, ‘kota’ bermakna berarti ‘kita yang dibentengi’– menjadi kota megapolitan yang berpenduduk belasan juta jiwa. Contoh konkritnya adalah kota Amsterdam.

Awalnya, Batavia dibangun (1619) dengan meniru konsep kota di negeri Belanda yang usianya 255 tahun lebih tua. Penduduk Jakarta pada 1945 berjumlah 500 ribu jiwa. Sedangkan Amsterdam 800 ribu jiwa. Pada 1972, penduduk Jakarta membengkak jadi 4,5 juta jiwa. Sedang Amsterdam tetap 800 jiwa. Paling-paling hanya naik sedikit. Bahkan, dalam masa krisis sekarang, saat ekonomi amburadul dan rakyat kecil hidup makin menderita, Jakarta menjadi tumpuan para pendatang untuk mengadu untung. Hingga tidak heran ia diberi gelar sebagai salah satu kota pedagang kaki lima terbesar di jagad.

Kembali ke catatan sejarah. Jakarta berdiri 22 Juni 1527 setelah Fatahillah mengusir armada Portugis, ia wafat pada 1570 dan dimakamkan di Cirebon. Kala itu, Pemerintahan Jayakarta diserahkan pada Tubagus Angke, dan selanjutnya pangeran Ahmad Jaketra. Penduduk waktu itu sekitar tiga ribu kepala keluarga atau 15 ribu jiwa. Tatakota –sistem penempatan bangunan-bangunan — di Jayakarta tidak berbeda dengan tatakota lainnya di pesisir utara pulau Jawa.

Pusat kota ditandai dengan alun-alun (kini sekitar terminal Kota), di sebelah Selatan terdapat kraton (sekitar Hotel Omni Batavia), di sebelah barat ada masjid dan di Utara di pasar. Itu semua mencerminkan pusat kekuasaan: politik (kraton), Islam (masjid), perekonomian (pasar), dan alun-alun sebagai pusat pertemuan antar masyarakat dengan raja serta anggota kerabatnya. Kota ini dikelilingi kali Ciliwung dengan anak sungainya, yang sekaligus berfungsi sebagai pertahanan kota.

Pertahanan kota ini mula-mula dikelilingi pagar bambu, kemudian diberi bertembok. Waktu itu, sudah ada perkampungan Cina di Jayakarta. Dalam berbagai tulisan orang Belanda disebutkan, ketika serombongan kapal VOC mampir di sini (13/11-1596), mereka menjumpai perkampungan Cina. Letaknya di sebelah timur Ciliwung, kini mungkin di sekitar Kalibesar Timur. Menurut laporan itu, penduduk Cina ini mengusahakan persawahan dan penyulingan arak. Para pelaut yang mendarat di Jayakarta (sebelumnya Sunda Kelapa) memuji kelezatan araknya.

Belanda yang datang kemudian juga memanfaatkan hubungan orang Cina dengan anak negeri guna kepentingan eksploitasi kolonial yang dijalankan berabad-abad. Terbukti kedatangan orang Cina terus meningkat, terutama setelah VOC mendirikan Batavia di atas reruntuhan Jayakarta. Sampai 1630-an, pendapatan dari pajak orang Cina saja sudah memberikan separuh dari seluruh pendapatan kota Batavia. Termasuk dari pajak keramaian yang di adakan di lapangan balai kota (kini Taman Fatahillah) oleh orang-orang Cina.

Pada permulaan abad ke-18, banyak petinggi VOC membeli tanah di Selatan. Mereka membangun landhuis berupa vila-vila dan membuka kebun-kebun tempat peristirahatan. Sebagian tanah-tanah partikulir ini disewakan pada orang-orang Cina sebagai perkebunan tebu, tembakau, sayur mayur atau lahan tempat pengembalaan ternak. Ada pula penyewa yang berkebun kacang, jahe, sirih dan seterusnya. Bekasnya kini melekat pada toponim seperti Kebon Kacang, Kebon Jahe, dan Kebon Sirih.

Sampai paruh pertama abad ke-20, tempat pemukiman penduduk masih dipisahkahn berdasarkan kelompok etnis. Orang Betawi tersebar di mana-mana. Meskipun mereka telah terdesak dari Menteng, tetapi masih banyak tinggal di tengah kota. Belanda dan Eropa tinggal di daerah elit seperti Riujswijk (Jl Veteran) dan Noordwijk (Jl Juanda). Kemudian ke Menteng.

Rumah mereka menyerupai vila-vila dengan halaman luas dan pepohonan rindang. Sebagian kelompok Indo Belanda tinggal di Kemayoran. Maka, muncul istilah Belanda Kemayoran. Kelompok Cina tinggal di pusat-pusat perniagaan Glodok, Senen, dan Meester Cornelis (Jatinegara). Sedangkan orang Arab di Pekojan dan Krukut, yang juga disebut Kampung Arab.

Adolf Heyken (72), penulis sejarah Jakarta, mengangkat jarinya ke atas. Menunjuk ujung paling kiri lantai dua gedung Museum Sejarah DKI di Jl Fatahillah 1, Jakarta Barat. ”Di salah satu ruangan itulah Pangeran Diponegoro pernah dipenjarakan,” ujar warga Jerman yang lebih 40 tahun tinggal di Jakarta. Tapi, ia sendiri tidak tahu dimana letak kamar yang pernah ‘dihuni’ Diponegoro, pada gedung yang pada penjajahan bernama Stadhuis atau Balai Kota. Kepala Museum Sejarah DKI, Tinia Budiati, juga menyatakan hal yang sama.

Sementara sejarawan Belanda, Dr F de Haan menyesalkan kenapa tidak diberitakan samasekali dalam Javasche Courant (Lembaran Negara) dan koran-koran lainnya, peristiwa tibanya Diponegoro di Batavia pada 1830. Akibatnya, kata de Haan, tidak diketahui dengan pasti ruangan tempat ia pernah ditahan.

Kita dapat memaklumi, betapa sakit hatinya Pangeran Diponegoro ketika tiba di gedung lambang kekuasaan kolonial ini. Dia ditahan Belanda melalui tipu muslihat licik. Ditangkap saat berada di meja perundingan di Magelang pada 28 Maret 1830. Setelah melakukan pemberontakan selama lima tahun. Korban dari pihak Belanda sebanyak 15 ribu orang. Di pihak Diponegoro 30 ribu orang. Korban rakyat jauh lebih besar. Sekitar 180 ribu orang di Jawa meninggal selama perang lima tahun. Kerugian material pihak Belanda 20 juta gulden, jumlah sangat besar kala itu.

Juga terjadi silang pendapat mengenai berapa lama Diponegoro dipenjarakan di stadhuis. Menurut Heyken lima hari. Menurut de Haan sebulan. Tapi yang pasti, Diponegoro sebagai bangsawan diperlakukan lebih terhormat. Tentu saja dibandingkan dengan tawanan lainnya. Mereka dipenjarakan pada bagian bawah gedung ini, di ruang sempit dan gelap. Hingga harus desak-desakan dan penuh penyiksaan luar biasa kejam.

Di lantai dua Balaikota, yang terletak di tengah-tengah pusat kota Batavia –hingga 1809 dikelilingi tembok — terdapat lukisan Raden Saleh bertajuk ‘Penangkapan Diponegoro’ yang ia selesaikan 1858. Berbeda dengan pelukis lainnya yang menggambarkan dari sudut pandang kolonial, Rd Saleh tanpa ragu menunjukkan bagaimana ekspresi Diponegoro sebagai pemenang bermoral, yang berjalan ke tempat tahanannya dengan wajah menantang para musuhnya. Termasuk menantang seorang panglima VOC. Itulah karya lukis yang revolusioner dan anti kolonial. Tidak heran kalau lukisan ini baru dibawa kembali oleh Belanda ke Jakarta setelah kemerdekaan RI. Diponegoro, dalam lukisan itu berjubah dan bersurban. Pada ikat pinggangnya teruntai sebuah tasbih. Menunjukkan, keluarga Sultan Mataram ini seorang patriot Islam yang taat.

Di gedung ini terdapat lima ruang penjara bawah tanah. Tingginya hanya satu meter. Hawa sangat pengap karena tidak dimasuki udara. Mereka yang dinyatakan bersalah dan dipenjarakan di sini: ”Karena memberontak terhadap VOC (kesalahan politik). Karena kriminal (membunuh dan merampok), atau menghianati masyarakat Belanda.”
Menurut sejarawan Mona Lahonda dari UI, hampir seluruh kamar tahanan yang sempit itu penuh sesak. Misalnya, pada 1736, dalam satu kamar tahanan — yang lebih kecil dari penjara sekarang ini — berdesakan 64 orang.

Para tahanan itu hanya diberi nasi dan air. Belanda baru berbaik hati dan memberi makan enak, saat tahanan hendak digantung. Sayangnya seringkali para algojo tidak profesional. Karena sering kali tidak sekali tebas kepala terhukum terpisah dari badannya. Menurut Heyken, kekejaman macam ini juga terjadi dipenjara-penjara Eropa waktu itu.

Eksekusi terakhir di gedung ini terjadi 1896, ketika seorang Cina digantung karena karena merampok.

Dekrit Presiden

Sampai kini masih bergulir kemungkinan Presiden Abdurahman mengeluarkan dekrit. Kabar terakhir menyebutkan, ia telah memberikan batas waktu satu minggu kepada DPR/MPR untuk merundingkan materi SI MPR agar tidak sampai keluar dekrit. Syaratnya, agar SI MPR nantinya tidak menyinggung-menyinggung hubungan eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Sejauh ini, mayoritas masyarakat menolak keras dikeluarkan dekrit Presiden, yang oleh banyak pihak dinilai hanya untuk mempertahankan kedudukan Gus Dur. Berlainan dengan situasi ketika Presiden Soekarno mengeluarkan dekrit 5 Juli 1959. Waktu itu, Bung Karno mengeluarkan dekrit karena tidak punya pilihan lain. Menkopolsoskam Susilo Bambang Yudhoyono sendiri, sebelum diminta mundur oleh Gus Dur dari jabatannya menganggap tidak perlu sampai dikeluarkannya dekrit Presiden. Bahkan, ia meminta agar semua pihak wajib menghormati proses politik/demokrasi di DPR. Sebelumnya KSAD dan jajaran ABRI lainnya menolak bila diberlakukannya keadaan darurat militer.

Sejauh ini, hanya massa NU, khususnya dari Jawa Timur, yang hingga kini* menuntut dikeluarkannya dekrit Presiden, bubarkan parlemen dan partai Golkar. Tuntutan ini didukung oleh PRD, Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia, Forkot, Pamret dll, yang akhir-akhir ini hubungannya makin ‘mesra’ dengan NU. Tapi tidak demikian dengan NU di daerah-daerah lain, khususnya Jakarta yang sangat menjauhi PRD dan kelompok mahasiswa ‘kiri’ lainnya.

Baiklah, kita kembali ke situasi negara yang menyebabkan Bung Karno mengeluarkan dekrit 5 Juli 1959 untuk kembali ke UUD 1945. Ketika itu berlaku UUDS sejak 1950. Ketika Bung Karno memberlakaukan dekrit 5 Juli 1959, negara dalam keadaan darurat perang (SOB). SOB diberlakukan sejak 14 Maret 1957. Dikeluarkan atas usul KSAD Mayjen TNI AH Nasution yang disetujui Presiden. SOB diberlakukan hanya beberapa jam setelah jatuhnya kabinet Ali II, kabinet pertama hasil Pemilu 1955. Hasil pemilu dengan parlemen baru yang mewakili 28 partai dibandingkan 20 partai sebelumnya, tidak mengakibatkan membaiknya keadaan. Padahal rakyat berharap melalui Pemilu keadaan negara akan membaik.
Saat berlakunya UUD Sementara, Indonesia menganut sistem demokrasi liberal atau sistem parlementer. Sistem yang mengakibatkan kabinet jatuh bangun selama belasan kali.

Sementara konstituante (MPR) hasil pemilu pertama, yang mulai bersidang di Bandung pada 10 Nopember 1956, selama hampir tiga tahun gagal menelorkan UU. Bahkan, Konstituante seolah-olah menjadi ajang perdebatan yang bertele-tele, tanpa akhir dan juga tanpa hasil. Sementara pemberontakan di daerah-daerah terjadi. Dimulai dengan diproklamirkannya PRRI di Padang pada 15 Pebruari 1958. Setelah 10 Pebruari 1958 PRRI mengeluarkan ultimatum minta agar kabinet Juanda mengundurkan diri. Kemudian digantikan dengan kabinet Hatta atau Sultan Hamengkubuwono IX. Berlanjut dengan pemberontakan Permesta di Sulawesi. Pada waktu bersamaan masih terjadi gangguan keamanan oleh DI/TII di Jawa Barat dan Ibnu Hajar di Kalimantan. Yang menyebabkan sebagian besar Tanah Air dalam keadaan tidak aman.

Anjuran Presiden Soekarno kembali ke UUD 1945 disampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia pada 22 April 1959. Begitu antuasiasnya rakyat menyambut anjuran ini, hingga terjadi petisi dan demo-demo yang menyatakan dukungan di seluruh Tanah Air. Pokoknya selama lebih dari tiga bulan terjadi berbagai demo besar-besaran menuntut kembali ke UUD 45.

Tapi, karena konstituante tidak mencapai kata sepakat untuk kembali ke-UUD 45, maka Bung Karno pun mengeluarkan dekrit. Membubarkan lembaga tertinggi negara itu dan menyataka tidak berlaku lagi UUDS. Dalam kerit dinyatakan bahwa ia dikeluarkan dengan dukungan masyarakat luas dan dalam keadaan terpaksa. Sebagai satu-satunya jalan untuk menyelamatkan negara proklamasi 1945. .

Jauh sebelum mengeluarkan dekritnya, sebenarnya Bung Karno sering mengeluarkan pernyataan untuk kembali ke UUD 45, yang menurutnya, sejak 1950 telah kita khianati.
”Berilah bangsa kita satu demokrasi yang tidak jegal-jegalan. Sebab demokrasi yang membiarkan seribu macam tujuan bagi golongan atau perorangan akan menenggelamkan kepentingan nasional dalam arus malapeta.” Ujar Bung Karno yang menyatakan ketidak senangannya terhadap demokrasi liberal. Yang dikemukakan dalam pidato 17 Agustus 1957. Yang ia namakan ‘Tahun Penentuan’ (A Year of Decision). Setahun kemudian (1958) kritiknya makin pedas terhadap demokrasi liberal berdasarkan UUDS. Yang dinilai sebagai demokrasi dengan politik rongrong merongrong, rebut merebut, jegal menjegal dan fitnah memfitnah. Ia menamakan pidatonya itu sebagai ‘Tahun Tantangan’ (A Year of Challenge).
Setelah kembali ke UUD 1945, pidato 17 Agustus 1959 dinamakan: ‘Penemuan Kembali Revolusi Kita’ (The Rediscovery Our Revolution). Yang dikukuhkan MPRS jadi Manipol.

Jatinegara Kaum

Kali ini kita mengangkat kembali kisah dari Jatinegara Kaum, Kecamatan Pulogadung, Jakarta Timur. Kampung yang letaknya 8 km dari terminal Kampung Melayu memang patut untuk dikenang. Karena Pangeran Ahmad Jaketra (Jayakarta), telah memilihnya untuk membangun negara bernama Jatinegara (negara sejati), setelah ia dan para pengikutnya hijrah dari Jakarta Kota.

Ini terjadi pada 31 Mei 1619, atau 382 tahun lalu, ketika ia punya kraton, perkampungan penduduk termasuk masjid — letaknya kini di sekitar terminal angkutan Jakarta Kota — dibumi hanguskan VOC. Dari Jatinegara Kaum, pangeran dan para pengikutnya bergerilya, membuat Batavia tidak pernah aman selama 80 tahun.

Sampai kini masih dijumpai peninggalan pangeran. Masjid As-Salafiah dan sebuah tasbih besar yang digantungkan di masjid ini. Dan, yang lebih penting adalah kompleks pemakaman, tempat makam pangeran, para pengikut dan keluarganya dimakamkan. Letaknya masih dalam kompleks masjid.

Saat Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten menyerang Belanda, Jatinegara Kaum memegang peran penting sebagai pos terdepan gerilyawan Banten. Kontak yang terus menerus antara Jatinegara Kaum-Banten terlihat dari kedatangan Pangeran Sanghiyang ke daerah tersebut pada 1660. Disusul oleh Pangeran Sagiri dan Pangeran Sake pada 1682 yang menetap di kampung ini. Keduanya putra Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten.

Mereka kemudian jadi penyebar Islam yang handal. Pangeran Sagiri dakwah di sekitar Rawamangun, Kampung (Kp) Jawa, Kp Lio, Kp Pulo Kambing dan Kp Pulojae. Sedangkan Pangeran Sake di Cibarusah, Citereup, Bogor, Cianjur, Sukabumi, Bekasi dan Karawang.

Kalau Pangeran Sagiri dimakamkan di Jatinegara Kaum, saudaranya di Kabupaten Bogor. Karena itulah para keturunan Pangeran Jayakarta, Pangeran Sake dan Sagiri bukan saja berada di Jatinegara Kaum, juga di berbagai tempat. Menurut tokoh masyarakat Jatinegara Kaum, RH Kamzul Arifin dan R Subarna, ‘kauman’ juga terdapat di beberapa tempat lainnya yang ditinggali keturunan Pangeran Jayakarta. Seperti Cibarusah, Citereup, Purwakarta, Bekasi dan Karawang.

Para ningrat keturunan Jatinegara Kaum biasanya bertemu setahun dua kali. Pada peringatan maulid Nabi Muhammad SAW yang tahun akan diadakan 4 Januari 2001 di Masjid As-Salafiah. Juga nisfu shahban menjelang bulan puasa.

Pangeran Ahmad Jaketra ketika hijrah hidup sebagai rakyat biasa. Tidak mau membangun istana untuk merahasiakan identitasnya. Maklum sebagai orang yang ditakuti Belanda, ia selalu dikejar-kejar musuh bebuyutannya ini. Pangeran melarang keturunannya untuk berbahasa Melayu dalam pergaulan antar mereka. Tapi, seperti dikatakan RH Suhandi (71), sesepuh masyarakat Jatinegara Kaum, dewasa ini pemuda umumnya sudah tidak bisa berbahasa Sunda. Sunda hanya digunakan para orang tua.

Untuk menjaga identitas dirinya, Pangeran juga melarang keturunannya memberitahukan letak makamnya. Tidak heran kalau makamnya baru diketahui 1956, masa gubernur DKI Sumarno. Boleh diacungkan jempol kepatuhan keturunannya ini memenuhi wasiat itu. Karena makam leluhurnya baru diketahui umum setelah 337 tahun dirahasiakan.

Sekalipun sejak lama jalan raya Jakarta-Bekasi dibangun, menghubungkan Jakarta- Karawang, tapi Jatinegara Kaum sendiri masih terpencil. Sampai 1960′an tanah yang membatasi daerah Jatinegara Kaum dengan tetangganya Rawamangun masih berupa sawah. Konon, untuk menghindari masuknya para pendatang, sebagian penduduk sengaja membuang kotoran di jalan itu. Tapi, menurut RH Suhandi, kalau beberapa dekade lalu hampir seluruh penduduk daerahnya merupakan satu kerabat, kini sudah fifty-fifty. Alias sebagian sudah hengkang dari tempat kelahirannya.

Sekalipun selama ratusan tahun jadi kampung tertutup, tapi menurut R Subarna, pendidikan warga di sini rata-rata SMA plus. Menyebabkan ekonomi mereka lebih baik dari warga Betawi umumnya. Ini karena, mereka lebih dulu masuk ke sekolah-sekolah umum (Belanda). Ketika warga Betawi umumnya masih mengharamkannya. Karenanya, kata Subarna, banyak diantara warga yang menjadi bupati, wedana, camat dan lurah.

Ny Ismail Marzuki

Dia samasekali sudah tidak bisa lagi beranjak dari tempat tidurnya. Di kamarnya yang kecil, di sebuah rumah kontrakan sederhana di kawasan Sawangan, Kabupaten Bogor, ia melewati hari demi hari hanya dengan berbaring. Di kamar inilah ia makan, minum dan buang hajat. Ia telah melewati hidup yang demikian sejak penyakit darah tinggi, paru, jantung, dan berbagai komplikasi menimpanya tujuh tahun lalu.
Sulit untuk membayangkan bahwa nenek yang saya hadapi ini, yang tubuhnya hanya tinggal kulit pembalut tulang ini, adalah istri komponis besar dan pencipta lagu Ismail Marzuki. Yang lagu-lagunya hingga kini masih tetap berkibar, sekali pun ia telah dipanggil Sang Pencipta sejak 25 Mei 1958.

Wanita yang tergolek lemah itu adalah Eulis Zuraidah, yang menjadi sumber inspirasi Ismail Marzuki. Ismail yang pernah dijuluki sebagai Beethoven dari Indonesia. Tidak main-main, julukan ini datang dari para pecintanya di Negeri Belanda, yang konon tiap tanggal 25 Mei selalu mengenangnya dengan memutar lagu-lagu ciptaannya.

Bukan hanya menjadi sumber inspirasi, Eulis bagi komponis kelahiran Kwitang, Jakarta Pusat, 11 Mei 1914, merupakan buah hatinya. Kecintaannya terhadap istrinya itu, mojang kelahiran desa Ciweday, Bandung Selatan, dicurahkan dalam lagu ciptaannya berbahasa Sunda ”Panon Hideung” (Mata Hitam).
Panon Hideung
Pipi Koneng
Irung Mancung
Euis Bandung

Lagu karya Bang Mail (panggilan akrab Ismail Marzuki), lebih 60 tahun lalu untuk istrinya ini, menunjukkan bagaimana cantiknya Eulis Zuraidah saat muda. Tanda kecantikan itu pun sampai kini masih berbekas. Setidak itu tampak pada sorot matanya yang hitam. Hidungnya yang mancung seperti wanita Timur Tengah, serta badannya yang kuning langsat.

Eulis, yang kini sudah berusia 85 tahun, seperti dikatakan putri angkatnya, yang juga kemenakannya Rachmi Aziah, kini sudah tidak lagi menghiraukan segala penyakitnya itu. ”Ibu sudah tidak mau lagi minum obat. Terpaksa harus dicampur dengan havermut, makanannya sehari-hari.

Kalau dikasih obat, ia akan membuangnya,” kata Rachmi Aziah.

Tahun lalu, ketika saya mendatanginya, istri komponis yang telah mencipta lebih dari 250 lagu ini masih dapat diajak berkomunikasi. Tetapi, pada kunjungan awal pekan lalu di kediamannya, ia samasekali sudah tidak mau diajak bicara. Bahkan, ia samasekali tidak mau lagi berbusana. ”Kalau ada tamu saya terpaksa harus membujuknya agar ibu mau berpakaian,” ujar Rachmi.

”Abdi tos pasrah” (saya sudah pasrah), terdengar keluhnya dalam Sunda. Sekalipun nenek ini, menurut pengakuan putrinya sudah pikun, dan bicaranya sering ngaco, tidak pernah lupa menyebut nama Allah. Saya mendengar sendiri ketika ia menyebut-nyebut Allahu Akbar dan ‘La illaha illalla.’ Kemudian ia pun mengaji, diteruskan dengan menyanyi dan berbicara dalam Belanda.

Boleh dibilang, mojang priangan dalam perjalanan hidupnya cukup menderita. Terutama sejak ditinggalkan suaminya yang wafat dalam usia 44 tahun. Cekikan kesulitan uang menyebabkannya ia menjual rumah — yang menyimpan berbagai kenangan – di Kampung Bali Gang X/36, pada tahun 1965. Ia dengan memboyong Rachmi, terpaksa harus menumpang di rumah adiknya di Kebayoran Baru.

Tapi, ketabahan dalam menghadapi hidup boleh diacungkan jempol. Karena sebagai istri Bang Mail, ia pernah berjualan gado-gado dan asinan. Ini terjadi pada saat revolusi fisik ketika suaminya yang patriotik ini, memilih tidak mau bekerja dengan NICA di Nirom (kini RRI).

Sayangnya, kesulitan demi kesulitan masih terus berlanjut. Bahkan, ia akhir tahun ini terancam tidak memiliki rumah. Ini karena rumah yang dikontraknya di Perumahan Bappenas Blok A-16, Cinangka, Sawangan, sudah akan berakhir. ”Yang empunya tidak mau meneruskan kontrak. Saya sendiri belum terpikir dari mana mendapatkan uang untuk kontrak nanti,” kata Rachmi. ”Apalagi suami saya hanya tukang bikin bingkai,” ujar ibu empat anak ini. Dia mengaku hidup dari hasil hak cipta ayahnya tidak mencukupi. ”Apalagi ongkos pengobatan ibu yang tinggi, dan membayar baby sitter.” Menyedihkan memang, akhir hayat istri seorang komponis besar yang namanya diabadikan untuk pusat kesenian di Jakarta

400 Tahun VOC

Tahun depan VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) tepat 400 tahun. Kongsi Dagang Hindia Timur dengan sebutan kompeni didirikan Maret 1602 di Negeri Belanda. Suatu pameran dan seminar internasional tengah disiapkan di Jakarta menyambut kehadiran Belanda di Nusantara empat abad lalu. Penyelenggaranya adalah Museum Sejarah, Museum Bahari dan Arsip Nasional bekerjasama dengan Museum Amsterdam. Antara lain akan disorot pengaruh Belanda dalam bidang budaya dan seni di Indonesia. Sementara Perpustakaan Nasional bekerjasama dengan museum-museum di Belanda akan menggelar pameran keliling di berbagai kota Eropa.

Sebelum VOC berdiri, Belanda lebih dulu mengirimkan armada dagangnya ke Banten dipimpin Cornelis de Houtman. Tiba di pelabuhan Karangantu, Banten 23 Juni 1596. Karena sikapnya yang angkuh, mereka tidak mendapatkan sambutan rakyat Banten. Bahkan, Cornelis de Houtman mereka tangkap. Dengan tebusan 45 ribu gulden baru dibebaskan dan diusir dari Banten. Ketika kembali ke Negeri Belanda, rombongan mampir ke Jayakarta.

Mengalami kegagalan di Banten, tidak menyurutkan VOC untuk mengirimkan ekspedisi-ekspedisi berikutnya. Apalagi jalan laut ke Nusantara telah diketahuinya. Untuk itulah didirikan VOC terdiri 17 heren (pemegang saham).
Karena sikap Banten yang tidak bersahabat, VOC memilih bandar Jayakarta untuk markas besar dagangnya yang berada dibawah Banten. Pangeran Jayakarta ingin pelabuhan, yang sebelumnya bernama Sunda Kelapa ini, dapat menandingi dan menyaingi Banten. Yang jauh lebih ramai dan lebih banyak didatangi pedagang mancanegara.

Untuk wujudkan ambisinya, pangeran 10-13 Nopember 1611 menandatangani perjanjian dengan VOC. Singkatnya, VOC pun berhasil memiliki sebuah loji yang kemudian fungsinya berubah menjadi benteng. Loji tersebut kira-kira berada di Jl Tongkol, Jakarta Utara sekarang ini. Letaknya di sebelah selatan rel kereta api, di bawah jalan tol Tanjung Priok – Pluit. Sebab pada abad ke-16, seluruh Pasar Ikan masih berupa laut. Beberapa gudang tua, diantaranya bekas galangan kapal depan menara Syahbandar Pasar Ikan kini jaraknya sekitar 200 meter dari laut. Padahal ketika VOC berada di tepi laut.

Perjanjian dengan VOC ini harus dijual mahal. Karena 30 Mei 1619, gubernur jenderal JP Coen mengusir pangeran Jayakarta, dan mendirikan Batavia. Rupanya, pertentangan antara Jayakarta dan Banten waktu itu seperti pusat dan daerah sekarang ini. Bedanya, ketika itu Banten mewakili pusat dan Jayakarta yang menuntut keuangan lebih banyak, mewakili daerah.

Pemerintahan VOC berlangsung hingga 1799. Ia bubar karena korupsi yang tidak mengenal batas. Jauh sebelum kehancurannya, VOC yang harusnya patut dihormati telah menjadi satu badan yang hampir runtuh karena berbagai penyelewengan. Menjelang pembubaran, hutangnya mencapai 140 juta gulden.

Boleh dikatakan, waktu itu –seperti juga masa orla, orba dan reformasi sekarang ini –, ”Para pejabat VOC tanpa mengenal malu ber-KKN, menilep dan mengentit duit negara. Ketidak senangan masyarakat pada VOC umumnya berpusat pada kaum pengambil keuntungan yang terlampau banyak, yakni para pejabat yang hidup terlalu mewah. Pendeknya, KKN merupakan pelanggaran yang dilakukan hampir semua pejabat VOC.

Yang paling merisaukan, banyak para petinggi VOC berdagang. Tapi uangnya dikentit tidak masuk ke kas negara. Hutan mereka babat, tidak peduli merusak lingkungan. Seperti juga terjadi sekarang ini. Di Batavia, tempat markas besar VOC, hutan-hutan jati yang laku keras di pasaran internasional mereka babat tanpa mengenal ampun dan menyisakan sedikitpun. Padahal, dulu Jakarta kaya dengan kayu jati. Dapat dilihat dari nama-nama kampung seperti Jatibaru, Jatiwaringan, Jatipetamburan, Kramatjati, dan masih banyak lagi.

Begitu mewahnya kehidupan petinggi VOC. Mereka membangun vila-vila dan rumah-rumah besar (landhuis) yang mempekerjakan ratusan budak. Yang kapanpun harus siap meladeni para nyonya besar. Seperti memayunginya, membawakan peralatannya dan berbagai tugas lainnya. Sementara pada santap malam keluarga, diiringi oleh orkes dan tanjidor, peninggalan musik masa lalu yang masih berkembang. Prinsip mereka adalah, jauh-jauh datang ke Nusantara ini dengan menghadapi resiko besar, buat apa jika tidak hidup mewah.

Sejarawan Leonard Blusse, dalam buku ”Persekutuan yang Aneh’ menulis bahwa pameran kekayaan juga terjadi saat kebaktian. Para wanita pergi ke gereja dengan diiringi para budak. Setelah kebaktian selesai, menjadi adat kebiasaan budak-budak untuk bergegas memasuki gereja. Kemudian membantu — nyonya-nyonya gundik — membawa injil, kotak-kotak sirih (tempolong), dan barang-barang lain yang biasa dibawa mereka untuk pamerkan kekayaan masing-masing.

Blusse dalam tulisannya itu lebih jauh mengemukakan: ”Di gereja mereka duduk beratus orang, berbusana bak para ratu. Bahkan mereka yang mengkhotbahkan kerendahan hati pun tak terbebas daripadanya, istri dan anak-anak mereka tampil dalam dandanan berlebihan.”

Ilmu Kekebalan

Panglima Besar Pasukan Berani Mati (PBM) KH Nuril Arifin Husein menangis ketika memeluk dr H Abdul Syukur dan H Agus Asenie, ketua dan sekretaris Bamus Betawi. Dengan terbata-bata kiai muda yang selalu berjubah ini meminta maaf pada warga Betawi karena kedatangan kelompoknya telah meresahkan dan menimbulkan kemarahan warga Ibukota. Dengan masih mencucurkan airmata, ia menjamin kedatangan PBM dari Jawa Timur tidak akan membuat keributan seperti yang banyak dikhawatirkan.

“Kami datang untuk istighotsah di Senayan.” Mengenai ilmu kekebalan yang banyak diperagakan oleh PBM, menurutnya biasa saja. Yang juga banyak dimiliki warga Betawi, atau Banten dengan debusnya.

Abdul Syukur, yang selalu berpenampilan tenang menyatakan, para ulama Betawi, khususnya ulama tempo doeloe memiliki sifat kanaah dan tawadhu sesuai ajaran Islam. Mereka di samping guru ngaji, juga memiliki ilmu bela diri (silat) atau maen pukulan. Bagi mereka, ilmu ini sekali-kali tidak boleh digunakan untuk mencelakakan orang. Kecuali untuk bela diri dan melawan penjajah. Ini dibuktikan pada masa revolusi fisik, ketika para ulama ikut maju ke front terdepan melawan Belanda.

Sedangkan Haji Irwan Sjafi’ie, ketua Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) menuturkan, warga Betawi kental dengan Islam. Sehingga dalam perbuatan sehari-hari berupaya mencontoh Rasulullah. Mulai dari pakai baju dan celana dengan mendahulukan tangan dan kaki kanan. Pergi dan pulang dengan memberi salam, serta cium tangan pada yang lebih tua. Demikian pula dengan makan dan minum serta mengerjakan sesuatu. Semuanya dimulai dengan bismilah.

Sampai 1940′an, para ulama atau guru ngaji usai mengajar agama menggembleng para murid dengan maen pukulan. Gemblengan dilakukan setelah shalat Isya, atau usai mengaji ba’da Maghrib.

Setelah mereka menamatkan pelajaran mengaji dan bela diri, diadakanlah upacara khatam Alquran. Kepada murid-muridnya yang telah digembleng itu, guru ngaji memberikan petuah dan sejumlah larangan. Di antaranya adalah ilmunya itu tidak boleh digunakan untuk melacur. Mabuk-mabukan dan menyombongkan diri. Dianjurkan agar kepandain maen pukulan digunakan untuk bela diri. Mereka diharuskan melawan bila didholimi. Perlawanan juga dilakukan terhadap penjajah.

Karena itu, bagi warga Betawi, ilmu kebal bukan hal baru. Mereka sendiri banyak yang mempelajarinya. Tapi, lebih banyak ditujukan untuk berserah diri. Sebagaimana dikatakan tokoh Betawi H Irwan Sjafi’ie, “Karena Nabi sendiri dua buah giginya pernah patah dalam suatu peperangan.” Maksudnya, “Kalau Allah menghendaki, bagaiamana pun kebalnya kita, ketubruk capung pun bisa mati,” kata kakek beberapa orang cucu ini. Maksudnya, dengan ilmu kebal itu, kita jangan sampai jadi takabur dan akhirnyua menyimpang dari akidah Islam.

Baik Abdul Syukur maupun Irwan meyakinkan para jago silat Betawi umumnya tahu ilmu kebal. “Tapi, mereka tidak mau menggunakan karena khawatir menjadi sombong. Mereka takut ilmu demikian bisa menggeser akidah Islamiyah mengingat Nabi Muhammad saw sendiri pernah menderita luka-luka dalam peperangan.”

Pada abad ke-19, yang disebut jago Betawi semacam jawara yang menjadi “palang dade” atau penghalang orang yang datang dari luar yang mencoba mengganggu keamanan kampung. Atau ingin ‘mencoba’ kekuatan jago bersangkutan. “Para jago ini tidak pernah menjual, tetapi bersedia membeli bagi yang mau menjual.

” Menurut Bang Irwan, tradisi positif dari para jago adalah tidak agresif, apalagi berbuat kriminal. Yang oleh dr Syukur disebutkan sebagai sifat kanaah dan tawadhu hingga mereka menyanjung dan menghormati para tamu yang datang dengan niat baik.

Khusus menghadapi istighotsah dan Sidang Paripurna DPR, hendaknya kita selalu ingat akan peringatan Allah kalau kamu berpecah belah kamu akan hancur. Serta seruan Nabi Muhammad saw “Kalau kamu menurutkan nafsu setan sekecil apa pun maka setan lah yang akan menang.”

Jenderal Coen

Gedung yang konstkruksinya seperti kereta api, panjang 120 meter dan lebar 10 meter, telah menambah semarak kota tua Pasar Ikan, Jakarta Utara. Gedung berlantai dua yang tiang-tiang dan jendela-jendelanya bewarna merah kecoklakan terlihat serasi dengan tembok gedung yang kekuning-kuningan.

Melihat penampilannya saat ini siapa sangka Gedung Galangan VOC, yang letaknya hanya ’setimpukan batu’ dari pelabuhan tua Sunda Kelapa, itu adalah salah satu gedung tertua di Jakarta. Direnovasi sejak 1998 dan diresmikan setahun kemudian, sebelumnya memang merupakan galangan kapal milik VOC. Gedung yang kini terhalang oleh jalan besar, dahulunya terletak di tepi laut. Di galangan kapal yang dibangun 1632 inilah, armada niaga dari mancanegara setelah mengarungi samudera berbulan-bulan melalui Tanjung Harapan (Suez belum dibuka), memerlukan perawatan dan perbaikan di tempat ini.

Gedung yang kini menjadi tempat bagi masyarakat ‘berduit’ untuk menikmati santapan dan hiburan dalam suasana tempo doeloe yang menarik, mungkin salah satu saksi sejarah terlama tentang kesulitan-kesulitan warga kota menghadapi penjajahan. Di tempat inilah lebih dari 300 tahun lalu, para tukang kapal yang mahir, diantaranya para budak belian bekerja, tinggal, dan juga mati muda. Karena para budak yang merupakan mayoritas penduduk Batavia waktu itu, telah diperlakukan sangat sewenang-wenang dan diluar prikemanusiaan. Dengan makanan dan tempat tinggal sangat buruk.

Di sekitar galangan inilah yang keberadaannya dengan benteng (kasteel) VOC hanya dipisahkan oleh Kalibesar [kini dikenal dengan nama kali Opak, dulunya merupakan kawasan Batavia paling elit]. Di Jl Tongkol dan Jl Ekor Kuning, yang waktu itu bernama Tigergracht dan Heerenstraat, mereka membangun gedung-gedung megah di tepi kali yang airnya masih jernih.

Souw Bing Kong (Bengkong), Kapiten Cina pertama diantara kelompok elit yang tinggal disalah satu gedung mewah di sini. Bahkan, pengusaha perkapalan, kontruksi dan perkebunan gula kaya raya ini membangun sebuah wisma mewah bergaya Cina dikawasan ini. Dia sahahat akrab Gubernur Jenderal JP Coen, sejak sama-sama di Banten. Ketika Coen mendirikan Batavia (1619), dia mengikutsertakan Bengkong dan para pengikutnya.

Begitu akrabnya persahabatan keduanya, terbukti bahwa mereka pada sore hari sering berjalan kaki bersama, sambil menghirup angin laut yang segar. Coen juga sering datang kerumah pemimpin masyarakat Cina yang kaya raya itu. Sambil minum teh mereka berbincang-bincang mengenai soal perdagangan dalam bahasa Portugis yang sama-sama mereka kuasai.

Jenderal Coen, sejak awal selalu berupaya untuk mengisi kota Batavia dengan orang-orang Cina. Yang dianggapnya pekerja rajin, tekun, ulet dan pantang menyerah. Tidak tanggung-tanggung, Coen memberikan tanah dan sekaligus mempercayakannya sebagai pengawal keamanan kota.

Dalam ambisinya mengisi Batavia dengan orang Cina, Coen telah mengambil tindakan berani, tapi juga edan. Tanpa peduli tindakannya melanggar hukum, ’si jangkung’ (gelar Coen), pada 1622 memerintahkan armada-armada lautnya untuk mengarungi Tiongkok Selatan. ”Culik mereka yang muda dan kuat, dan angkut ke Batavia,” perintahnya.

Membengkaknya populasi warga Cina dapat dilihat dari hasil sensus waktu itu. Pada 1619 saat Batavia dibangun jumlah mereka 400 jiwa. Setahun kemudian (162) jadi 800 jiwa. Tahun 1674 sudah 2747 jiwa dan 1740 menjadi 10.574 jiwa.

Tapi, usaha Coen untuk menculik orang-orang Cina tidak perlu lagi diteruskan. Karena, kemudian mereka sendiri yang berbondong-bondong datang setelah mendengar kawan-kawannya menikmati kemakmuran di Batavia. Orang-orang Belanda sendiri jadi takjub dan memuji keberhasilan mereka dalam mengumpulkan harta. Hanya dalam waktu singkat singkat mereka memiliki rumah sakit yang lebih baik dan besar dari RS Belanda. Memiliki sekolah yang lebih banyak dan lebih baik dari sekolah Belanda.

Kapten Bengkong dan para penggantinya mengurus masyarakat Cina laksana raja-raja Mandarin. Menerima pajak yang dibayar dengan patuh oleh orang-orang Cina yang berterima kasih atas kesempatan yang mereka terima untuk mengumpulkan kekyaan, seperti pajak jelinan rambut panjang, pajak kuku panjang. Sampai akhir abad ke-19 etnik Cina yang datang ke Jawa umumnya berasal dari propinsi Hokkian (Fujian) di Cina Selatan. Termasuk Oei Tjie Sien (1835-1900), ayah Oei Tiong Ham, pengusaha terbesar di Asia Tenggara sebelum PD ke-2 yang kegiatan dagangnya terdapat di kota-kota megapolitan dunia. Saat datang ke Indonesia, hanya sebagai pedagang keliling bahan pecah belah dari rumah ke rumah.
Us

Siapa bilang Jakarta tak punya menara miring seperti Menara Pisa di Itali –salah satu dari tujuh keajaiban dunia. ‘Menara Miring’ juga ada di Jakarta. Itulah sebutan lain dari untuk Menara Syahbandar di Pasar Ikan, Jakarta Kota, Menara yang terletak di muka Museum Bahari memang miring meski tak setajam menara Pisa yang dibangun tahun 1173.

Menara ‘Miring’ Pasar Ikan dibangun pada 1839 dan pernah berfungsi sebagai pengawasan keluar masuknya barang-barang dari pelabuhan Sunda Kelapa. Belanda menyebutnya ‘Uitkijpost’. Bila menara Pisa sejak awal sudah miring, tidak demikian dengan menara Syahbandar di Pasar Ikan. Menara tiga tingkat setinggi kurang lebih 20 meter (menara Pisa 60 meter), menjadi miring bukan karena kesalahan konstruksi ketika dibangun.

Ia miring karena tidak tahan akibat tekanan dari angkutan raksasa, seperti kontainer dan truk-truk yang tiap hari ratusan keluar masuk pelabuhan Sunda Kelapa. Karena khawatir cagar budaya ini akan lebih miring lagi dan akhirnya runtuh, kini kontainer dan truk-truk yang akan ke pelabuhan Sunda Kelapa dilarang melewatinya. Dari menara ini, kita akan dapat menyaksikan pelabuhan antar pulau Sunda Kelapa yang dipadati oleh ratusan kapal phinisi yang datang dari berbagai penjuru Tanah Air.

Kapal layar ini umumnya membawa kayu dan bahan bangunan untuk kebutuhan kota Jakarta. Kehadiran kapal-kapal phinisi ini menarik perhatian wisatawan asing yang banyak mengunjungi pelabuhan ini. Di depan menara ‘Miring’ terdapat bastion atau benteng Cullemburg plus meriam berusia 3,5 abad. Cullemburg untuk benteng yang dibangun pada 1645 diambil dari nama sebuah kota di Belanda. Kurang lebih 30 meter ke arah Selatan menara ada sebuah jembatan gantung, yang –sejak dibangun VOS pada abad ke-17– sudah berkali-kali ganti nama.

Ketika Ratu Yuliana dan Pangeran Bernard menikah, nama kedua pasangan ini diabadikan nama jembatan tersebut. Bagi warga setempat jembatan ini lebih dikenal sebagai ‘jembatan pasar ayam’. Dinamakan demikian karena tempat ini dulu menjadi pangkalan WTS. Dulu, jembatan dibangun untuk menghubungkan benteng Belanda dan Inggris yang dibatasi oleh kali Ciliwung.

Jembatan ini dibuat menggantung agar dapat diangkat untuk memungkinkan lalu lintas perahu dari arah Selatan. Dan jung-jung Cina yang masuk dari Teluk Jakarta. Kini namanya Jembatan Kota Intan. Mengacu pada nama benteng VOC yang tiap bastionnya memakai nama permata (safir, intan, mirah dan mutiara). Dari kota Intan, yang kini menjadi terminal bus dan mikrolet di Jakarta Kota, sedikit berbelok ke arah kanan terdapat kelurahan Roa (Rue) Malaka. Tempat orang-orang Portugis dari Malaka saat kawasan di Malaysia itu ditaklukkan Belanda pertengahan abad ke-17.

Di kelurahan ini terdapat Kampung Tiang Bendera, yang juga menjadi salah satu nama jalan di Jakarta Kota ini. Menurut riwayat, penamaan diambil dari adanya Kapiten Cina yang tinggal di sini. Di kediamannya itu ia memasang bendera tiap tanggal 1 sampai 10 setiap awal bulan. Ini merupakan pertanda bahwa dalam waktu 10 hari itu, kewajiban para penduduk Cina untuk membayar pajak kepala yang disebut hoofdgeld der Chineezen yang harus dipenuhi.

Kapiten Cina yang mengepalai komunitas etnis ini, juga mengenakan pajak judi, minuman keras dan candu pada masyarakat Cina. Mungkin banyak yang tidak tahu bahwa di daerah selatan kawasan kota, yakni Jl Hayam Wuruk dan Jl Gajah Mada yang dibatasi kali Ciliwung, dulunya merupakan daerah persawahan yang letaknya jauh di luar kota. Setelah sejumlah elit VOC membangun rumah-rumah peristirahan di sini, Belanda banyak membangun kincir angin seperti di negerinya, yang disebut molen. Karenanya daerah ini dinamakan Molenvliet. Beralih ke lapangan Banteng Selatan melewati Hotel Borobudur, terdapat gedung Deplu di Pejambon.

Di tempat ini dan sekitarnya dulu terdapat perkebunan dan pabrik gula. Kemudian menjadi milik seorang bangsawan Jerman yang bergelar Hertog (Duke) sehingga dikenal dengan sebutan Hertogpark (Taman Hertog). Gedung utama Deplu yang kini bernama Gedung Pancasila pada masa Jepang adalah tempat bersidang Dokurit Suzyumbi Tyosakai (Badan Penyelidikan Usaha Persiapan Kemerdekaan) Indonesia yang diadakan bulan Mei, Juni dan Juli 1945.

Di zaman Belanda gedung ini dgunakan sebagai gedung Volksraad (Dewan Rakyat) atau parlemen yang diresmikan 1918. Di dekatnya ada kali Pejambon, tempat ditemukannya mayat Nyai Dasima — istri piaran seorang pejabat Hindia Belanda berkebangsaan Inggris, Edward. Ia dibunuh di kali Kwitang, di samping markas Marinir (KKO) sekarang ini, oleh bang Puase. Jagoan Kwitang ini beraksi atas perintah Hayati, istri Samiun yang tak suka dengan polah wanita asal Kuripan (daerah Ciseeng, dekat Parung, Kabupaten Bogor).

H Eddie M Nalapraya, (70), mantan Wagub DKI Jakarta yang kini anggota DPA, beberapa waktu lalu ke Kwitang, Jakarta Pusat. Sambil membawa cucunya, Ketua Umum IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia) ini rupanya kangen untuk bertemu kawan-kawan lama selama ia tinggal dan dibesarkan di kampung tersebut.

Tentu saja, cucunya tak paham, ketika kakeknya menceritakan bahwa saat kecil ia sering mandi dan berenang di Ciliwung yang terletak di dekat kediamannya. Ciliwung sekarang berbeda dengan Ciliwung setengah abad lalu. Ketika itu airnya masih cukup jernih. Dalamnya bisa dua sampai tiga meter. Bagi anak-anak, berenang sambil menciprat-cipratkan air waktu itu sungguh nikmat.

Sekarang, Ciliwung berubah fungsi menjadi tempat sampah terpanjang di dunia, kotor, menjijikkan dan juga bau. Bukan saja ikan tidak dijumpai lagi, bahkan kecebong pun ogah tinggal di Ciliwung.

Tapi, bukan cuma Ciliwung yang bernasib demikian. Banyak sungai lain di Jakarta mengalami nasib serupa. Jakarta mungkin satu-satunya kota di Indonesia yang paling mempunyai banyak sungai. Meskipun tak sampai ’seribu’, seperti judul tulisan ini, secara kasar ada 13 sungai besar yang membelah-belah wilayah Jakarta dari arah Selatan hingga Utara. Atau Barat dan Timurnya.

Di Barat terbentang kali Angke, kali Blandongan, kali Krukut, dan kali Grogol. Di Timur ada kali Gunungsahari dan kali Sunter. Ada lagi Kalibesar yang menampung air Kali Krukut di ujung Barat Jl Pancoran (Glodok) setelah jembatan Toko Tiga, Jakarta Kota dan membawanya terus mengalir ke arah Barat untuk akhirnya membelok ke Utara.

Belum lagi ratusan anak sungai, terusan atau parit lebar yang menghubungkan aliran sungai yang satu dengan yang lainnya. Maka, diperlukan waktu lama dan menguras cukup banyak tenaga kalau kita mau menelusurinya satu persatu untuk menghitungnya.

Tempo doeloe jauh lebih banyak lagi. Khususnya di Utara kota, tempat awal berdirinya Batavia. Jumlah sungai di Jakarta mencapai rekor di masa kekuasaan VOC atawa kompeni menurut lidah Betawi. Ini akibat hobi orang Belanda masa itu. Mereka gemar menggali kali-kali buatan atau kanal-kanal, yang mereka namakan grachten. Konon, karena mereka rindu dengan kota-kota di negerinya yang sampai dewasa ini masih terbelah-belah oleh beberapa grachten.

Kali-kali atau grachten itu juga dibangun karena pertimbangan ekonomis-komersial. Merupakan sarana utama bagi angkutan barang-barang dagangan untuk memasok kota Batavia dari arah selatan. Serta mengangkut berbagai komoditas untuk daerah pedalaman dari Sunda Kelapa.

Seperti lalu lintas di daratan, sampan atau perahu yang melewatinya harus berhati-hati agar tidak menabrak orang-orang yang tengah mandi, mencuci pakaian dan buang air besar. Konon, waktu itu ada kali-kali buatan yang oleh pemiliknya diharuskan membayar tol bila perahu atau sampan melewatinya. Seperti sekarang kendaraan bermotor harus membayar saat melewati jalan tol.

Para elit Belanda ketika itu membangun rumah dan gedung mewah di tepi kali, kanal dan parit-parit. Begitu banyaknya kanal dan parit hingga Batavia mendapat julukan kota air. Bahkan diberi gelar ‘Venesia dari Timur’. Seperti di Jl Pangeran Jayakarta, bagian selatan Glodok dimasa lampau golongan kaya membangun rumah-rumah peristirahatan. Di sini terdapat sungai yang sekarang menjadi got besar. Dahulu, di sungai ini para muda-mudi Belanda sering bercintaan sambil menaiki perahu dan memetik gitar.

Bukan hanya elit Belanda, para hartawan Cina pun banyak membangun rumah dan gedung mewah di tepi sungai. Konon, ada seorang hartawan Cina bernama Oey Tambah Sia, putera Kapiten Cina yang hidup pada pertengahan abad ke-19, karena begitu kaya rayanya, melakukan pameran kekayaan dengan menghambur-hamburkan uang. Dia selalu membersihkan diri dengan lembaran uang kertas setelah melakukan hajat besar di Kali Toko Tiga.

Tidak heran bila tiap pagi terjadi perkelahian berdarah diantara orang-orang yang memperebutkan lembaran uang kertas di sungai itu. Seperti juga sungai-sungai lainnya, kali di Jl Toko Tiga di kawasan Glodok airnya hitam seperti air comberan dan dipenuhi sampah.

Begitu banyaknya sungai, terusan dan kanal yang telah hilang atau berubah fungsi di Jakarta. Seperti Kali Krukut di sebelah pasar Tanah Abang yang sekarang sudah jadi got sempit, dulunya merupakan sarana angkutan lalu lintas sangat penting. Sungai ini dihubungkan dengan Harmoni. Kalau Pasar Tanah Abang memiliki kali Krukut, Pasar Senen memiliki kali Bungur, yang dulu aktif dilayari perahu dan sampan dari Tanah Abang ke Senen. Dahulu, taman yang terletak di depan Gunung Agung dan Markas KKO Jl Parapatan hingga Senen, terdapat sebuah sungai yang menyatu dengan kali Bungur.

Seperti di Kalibesar Jakarta Kota, yang oleh Belanda dinamakan Grote Rivier terbelah dua oleh Ciliwung, yaitu Kalibesar Barat dan Kalibesar Timur. Masing-masing bagian dipotong oleh dua parit dan kemudian parit-parit yang terpotong itu, dipotong kembali menjadi kanal-kanal. Yang kini sebagian besar sudah hilang dan berubah fungsi. Bahkan, banyak yang menujadi bagian dari pekarangan rumah. Sesuatu yang tidak pernah terjadi pada masa penjajahan. Pantas saja kalau Jakarta selalu banjir bila musim hujan.

Tulisan Sebelumnya »