Feed on
Tulisan
Komentar

Rekonstruksi Rumah Bung Karno tempat diproklamirkannya kemerdekaan RI 63 tahun lalu telah diseminarkan di Jakarta pada 19-20 Agustus 2008. Hampir semua (100 orang) peserta dari berbagai profesi sepakat perlunya dibangun kembali bekas kediaman Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur (kini Jl Proklamasi) 56, Jakarta Pusat.

Seorang pelaku sejarah, Herman Sarens Sudiro, bahkan menyarankan agar pembangunan kembali kediaman Bung Karno jangan hanya diseminarkan, tapi segera direalisir. ”Bisa saja sejarah proklamasi nanti dihapus, kalau kita tidak membangun rumah Bung Karno, tempat proklamasi itu berlangsung,” katanya.

Seminar tentang rekonstruksi kediaman Bung Karno, yang ditempati pada masa pendudukan Jepang (1942-1945) dan awal 1946, telah berlangsung 10 kali tanpa realisasi. TS Lingga, dari Yayasan Bung Karno, menyatakan tidak keberatan atas rencana itu. Ahmad Syarofi, Sekjen Lembaga Kebudayaan Betawi, bahkan menyatakan warga Betawi bersedia membiayai rekonstruksi yang diperkirakan memerlukan dana Rp 10 miliar itu.

Rekonstruksi kediaman Bung Karno itu tanpa harus membongkar Monumen Proklamator Sukarno-Hatta, tempat Bung Karno berdiri membacakan teks proklamasi. Tempat ini ditandai dengan Tugu Petir di atas tiang setinggi 17 meter. Tugu ini berbentuk linggis dengan lambang petir di puncaknya yang melambangkan gerak pembangunan. Petirnya melambangkan geleger proklamasi ke seluruh pelosok tanah air dan dunia.

Dibongkarnya rumah Bung Karno pada tahun 1961 sudah merupakan kenyataan yang tidak bisa diubah. Sekali suatu bangunan bersejarah dihancurkan, maka hilang untuk selamanya. Situs sejarah yang otentik sebagai media untuk mengenang kembali peristiwa masa lampau yang begitu bermakna itu kini tidak ada lagi, dan kini tinggal kenangan. Hingga generasi sesudah tahun 1950-an tidak pernah lagi melihat rumah itu, termasuk Tugu Proklamasi yang aslinya, yang dibangun tahun 1946.

Sejak lama timbul pertanyaan mengapa tidak dibangun kembali rumah Bung Karno? Baiklah, kita beralih ke tahun 1980-an, sekitar 20 tahun setelah kediaman Bung Karno itu dibongkar. Pada waktu itu, Presiden Soeharto mengemukakan gagasannya untuk membangun monumen proklamator. Tapi, banyak pihak, di antaranaya Ali Sadikin, yang menginginkan agar bekas kediaman Bung Karno dibangun kembali seperti asalnya.

Menanggapi banyaknya usulan semacam itu, Presiden Soeharto berdalih bahwa itu sudah menjadi kehendak sejarah. Artinya, pembongkaran bangunan itu sudah terjadi, dan yang membongkar adalah Bung Karno sendiri. Maka biarkanlah. ”Padahal, kalau Presiden Soeharto  menyetujui maka peristiwa itu juga akan menjadi sejarah,” kata Prof Susanto Zuhdi, dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, dalam seminar tersebut.

Dia menilai pembongkaran itu merupakan kecelakaan sejarah (historical blunder) yang sulit dapat dimengerti. Mengapa? Bukankah peristiwa pembongkaran (1961), terjadi pada masa presiden pertama RI yang pernah mengatakan, ”Hanya bangsa yang dapat memetik pelajaran dari masa silam, dan cakap mempergunakan pengalaman-pengalamannya untuk menghadapi masa depan, yang dapat menjadi bangsa besar.” Bung Karno juga pernah mengatakan, ”Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.”

Lalu, mengapa Presiden Soekarno membongkar gedung yang amat bersejarah  bagi bangsa Indonesia itu? Hal ini pernah ditanyakan oleh salah seorang penulis biografi Bung Karno yang berjudul Putera Fajar, yakni Solichin Salam, kepadanya. Jawab Bung Karno, ”Saya lebih mengutamakan tempatnya dan bukan gedungnya. Sebab, saya taksir gedung Pegangsaan Timur (kini Jl Proklamasi) 56 itu paling lama hanya tahan 100 tahun, mungkin tidak sampai. Itu sebabnya saya suruh bongkar.”

Menurut keterangan dari Yayasan Bung Karno, presiden pertama RI itu ingin memindahkan semangat proklamasi kemerdekaan di Monas. Peringatan hari ulang tahun kemerdekaan RI agar selanjutnya diadakan di Monas yang monumental itu. Bukan di gedung proklamasi dan juga bukan di Istana. Tugu Monas, menurut Bung Karno, dirancang untuk tahan ribuan tahun seperti juga piramid di Mesir.

Meskipun begitu, sebagian besar pembicara seminar itu menyepakati agar bekas kediaman Bung Karno tetap dibangun kembali di tempat semula. Tujuannya, agar generasi muda dan mendatang bisa menyaksikan kembali gedung yang menjadi tempat proklamasi dikumandangkan ke seluruh jagad.

Bang Selamat, yang mewakili Dewan Harian Angkatan ‘45, misalnya, mengusulkan agar nantinya gedung tersebut dijadikan pusat kegiatan pengkajian ajaran Bung Karno dan Bung Hatta.

Ketika Bung Karno hendak membongkar kediaman yang memiliki pekarangan luas itu, banyak pihak yang menyarankan agar dijadikan sebagai museum. Banyak peristiwa penting terjadi di gedung ini, sejak saat-saat menjelang proklamasi, saat proklamasi, hingga sebelum pembongkaran 1961.

Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta tiap habis mengadakan upacara 17 Agustus juga selalu datang ke tempat tersebut. Pada 1957, ketika Bung Karno dan Bung Hatta, ingin dipulihkan kekerabatannya, juga diadakan Musyawarah Nasional di gedung tersebut.

Bung Karno, tampak khusuk berdoa kepada Allah SWT agar proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 yang baru saja ia proklamirkan berjalan langgeng dan rakyat Indonesia diberi kekuatan dalam mempertahankan kemerdekaannya. Bung Karno dengan memejamkan kedua matanya dan mengangkat kedua tangannya berdoa di kediamannya di Jl Pegangsaan Timur (kini Jl Proklamasi) 56, Jakarta Pusat. Doa di halaman muka kediamannya itu sekaligus sebagai tanda syukur kepada Tuhan bahwa bangsa Indonesia telah merdeka setelah mengalami penjajahan lebih dari tiga abad.

Di belakang Bung Karno (berkopiah hitam) tampak Kepala Barisan Pelopor dr Muwardi. Dialah yang memimpin Barisan Pelopor termasuk satuan PETA (Pembela Tanah Air) yang mengikuti acara proklamasi kemerdekaan 17 Agustus, 63 tahun lalu. Sedangkan di bagian belakang (berkacamata) tampak Wali Kota Jakarta Raya, Sudiro.

Selama dua hari (19-20 Agustus 2008) di Jakarta telah berlangsung seminar Rekonstruksi Rumah Bung Karno, agar generasi muda dan generasi mendatang mengetahui bagaimana bentuk gedung proklamasi ketika kemerdekaan Indonesia diproklamasikan 63 tahun lalu. Sekitar 150 hadirin yang terdiri para pejuang kemerdekaan, sejarawan, Dewan Harian Angkatan 45, perintis kemerdekaan setuju perlunya dibangun kembali kediaman Bung Karno yang telah digusur sejak tahun 1961. Kemudian dijadikan sebagai Gedung Pola semacam Bappenas sekarang ini.

Untuk rekonstruksi kediaman Bung Karno diperlukan dana sekitar Rp 10 miliar. Tapi, masalah biaya ini tidak jadi kandala. Hanya perlu persetujuan pemerintah mengingat pembongkaran kediaman Bung Karno yang amat bersejarah itu dilakukan oleh presiden pertama RI itu. Menurut Bung Karno, dia membongkar bekas kediamannya itu karena lebih mengutamakan tempatnya dan bukan gedungnya. ”Sebab, saya taksir gedung itu paling lama 100 tahun, mungkin tidak sampai. Itu sebabnya saya suruh bongkar,” kata Bung Karno dalam wawancara dengan Solicih Salam dalam buku Putera Fajar.

Bung Karno tinggal di Jl Proklamasi 56, sejak zaman Jepang (1942) setelah diasingkan ke Bengkulu. Dia meninggalkan kediamannya pada Januari 1946 setelah NICA (tentara Belanda) yang datang menumpang pasukan sekutu makin beringas untuk kembali menjajah RI. Di rumah kediamannya itulah Bung Karno melantik kabinet pertama RI. Dan, di tempat itu pula ditandatangani persetujuan Linggarjati antara PM Syahrir dan Belanda.

Pada tahun 1957 ketika pecah dwitunggal Soekarno-Hatta di tempat inilah diadakan pertemuan kedua tokoh untuk mencapai kerukunan nasional. Karena persetujuan tidak tercapai, Kerukunan Nasional dipelesetkan menjadi ‘Keruk nasi’.

Hanya dengan bermodalkan senjata bambu runcing rakyat Indonesia di Jakarta siap mengorbankan nyawa untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru diproklamirkan Bung Karno dan Bung Hatta. Dalam gambar tampak pasukan BKR (Barisan Keamanan Rakyat) dengan bambu runcing di pundak tengah berbaris yang secara khusus dibentuk pada 27 Agustus 1945 guna menghadapi pasukan NICA (Belanda) yang datang untuk menjajah kembali Indonesia membonceng pasukan sekutu (Inggris). BKR kemudian melahirkan Tentara Keamanan Rakyat pada 5 Oktober 1945 yang kemudian menjadi TNI hingga sekarang. Pada masa awal revolusi TKR anggota-anggotanya terdiri dari para pemuda bekeas prajurit PETA, Heiho, Kaigun, Hizbullah dan Barisan Pelopor.

Setelah proklamasi kemerdekaan 17/8-1945, para pemuda Jakarta bergerak untuk menyebarkan berita proklamasi. Bukan hanya ke kampung-kampung di Jakarta, tapi berbagai pelosok tanah air. ”Lebih baik mati daripada dijajah kembali,” ungkapan rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan. Situasi 63 tahun lalu makin memanas ketika pasukan NICA dengan membonceng sekutu kembali ke Indonesia. Semua kampumng di Jakarta kala itu membentuk kubu-kubu pertahanan berupa kawat berduri dan bambu runcing. Sehingga kalau ada tentara NICA yang masuk kampung lalu terdengar suara komando :Siaaap. Karenanya zaman itu juga dinamakan ‘zaman siap’.

Mengingat peristiwa tersebut sudah berlangsung 63 tahun, dan sudah jarang sekali yang mengalaminya, baiklah kita ingatkan kembali bagaimana kekejaman serdadu NICA pada saat revolusi. Mereka menembaki orang yasng kelihatan mencurigakan. Untuk itu, Presiden Soekarno mengumumkan supaya rakyat tidak keluar rumah setelah pukul delapan malam. Catatan dalam Arsip Nasional saja delapan ribu rakyat telah dibunuh antara September dan Desember 1945.

Saya yang ketika itu baru berusia 9 tahun, menyaksikan pemuda-pemuda di Kampung Kwitang yang berusia lima dan enam tahun diatas saya, ikut terjun sebagai tentara pelajar meski harus memanggul bambu runcing.

Banyak diantaranya menghembuskan napas terakhir akibat peluru NICA. Kala itu para ibu dikampung-kampung mendirikan dapur umum untuk para pejuang. Belum dikenal istilah korupsi hingga dalam membela tanah air mereka rela menymbangkan harta kekayaan yang mereka miliki.

Diantara pejuang Betawi yang paling ditakuti Belanda ialah KH Nur Ali dari Bekasi. Sampai Belanda berani memberikan hadiah besar bagi siapa yang bisa menangkapnya hidup atau mati. Jagoan Betawi, Imam Syafi’ie menghimpun para preman Pasar Senen menjadi kekuatan yang menakutkan Belanda. Mereka beroperasi diberbagai kampung di Jakarta.

Jembatan Pasar Baru, Jakarta Pusat diabadikan pada 1880. Di samping kanannya tampak Gedung Kesenian yang dibangun pada masa pemerintahan Inggris (1811-1816). Dimasa kolonial bernama shouburg. Jalan raya disebelah kiri Pasar Baru dulu bnernama Schoolweg atawa Jalan Sekolah. Karena pada awal abad ke-20 pemerintah Hindia Belanda mendirikan beberapa sekolah diantaranya Europese Lager School yang diperuntukkan hanya untuk orang-orang Belanda.

Tampak jalan-jalan masih diterangi oleh lampu gas. Lampu gas mulai nongol di Batavia dan Meester Cornelis (Jatinegara) pada 1863. Pertama kali menerangi Istana Risjwijk (kini Istana Negara) pada Oktober 1863, satu tahun setelah berdirinya Perusahaan Gas Hindia Belanda di Gang Ketapang (kini Jl KH Zainul Arifin) di sebelah kiri Jl Gajah Mada dari arah Harmoni. Kini menjadi Perum Gas Negara. Gas menggantikan minyak tanah dan lilin untuk penerangan di rumah-rumah, kantor, pusat perdagangan dan perhotelan.

Dalam foto terlihat bagaimana asrinya sekitar Pasar Baru dan Lapangan Banteng dengan pohon-pohon asem di kiri kanan jalan. Sementara kendaraan bermotor belum tampak. Juga tidak terdapat para pedagang kaki lima yang kini mendominasi trotoar di sekitar Pasar Baru hingga Lapangan Banteng dan Jl Gunung Sahari.

Gedung Kesenian di Pasar Baru semula hanya terbuat dari bambu beratapkan rumbia. Tentara Inggris membangunnya khusus untuk tempat pementasan perkumpulan drama mereka ketika bercokol di Jawa (1811-1816). Para prajurit Inggris sesuai dengan pimpinannya Sir Thomas Raffles, sangat menyukai kesenian. Buktinya, setahun setelah mereka mendarat di Batavia sejumlah perwira bujangan sudah menyalurkan bakat dan minat mereka.

Pada malam peresmian Gedung Kesenian dipentaskan drama Othello karya sastrawan terkemuka William Shakespeare. Seperti juga bioskop yang muncul akhir abad ke-19, penonton pria dan wanita dipisah. Pada zaman Jepang (1942-1945), acara-acara di Gedung Kesenian diisi seniman muda seperti Usmar Ismail, Rosihan Anwar, H.B. Yassin, Soeryo Soemanto, D. Djayakjuysumah, Kusbini dan Cornel Simanjuntak.

Pada 29 Agustus 1945 di gedung ini berlangsung sidang pertama Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) semacam parlemen sekarang. Dihadiri Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohamad Hatta dan Ketua KNIP Kasman Singodimedjo dari Partai Masyumi. Seorang turis Eropa yang datang ke Batavia setelah peresmian menilai gedung kesenian ini tidak kalah menariknya dari gedung kesenian serupa di Eropa.

Jakarta Jelang Proklamasi

Minggu depan (17 Agustus 2008), rakyat Indonesia akan memperingati hari ulang tahun proklamasi kemerdekaannya. Menyambut Proklamasi Kemerdekaan ke-63 tahun, kita kutip kata-kata Bung Karno, Bung Karno tentang proklamasi. ”Melalui proklamasi kita memberitahukan kepada kita sendiri dan seluruh dunia bahwa rakyat Indonesia telah menjadi bangsa yang merdeka. Pada waktu kita berjalan Proklamasi menunjukkan arahnya jalan. Pada waktu kita lelah, proklamasi memberkan tenaga baru kepada kita. Pada waktu kita berputus asa, Proklamasi membangunkan kembali semnangat kita. Pada waktu di antara kita ada yang nyeleweng, Proklamasi memberikan alat kepada kita untuk memperingatkan si penyeleweng itu . Pada waktu kita menang Prokalamasi mengajak kita untuk tegap berjalan terus, karena tujuan terakhir belum tercapai. Berbahagialah rakyat Indonesia yang mempunyai Proklamasi karena ia merupakan pengayoman, dan diatas kepalanya ada sinar susrya yang cemerlang,”

Tapi, baiklah kita kembali ke saat-saat situasi Ibukota menjelang Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Kita mulai dengan dijatuhkannya bom atom di Hiroshima (6/8-1945) yang menewaskan 70 ribu jiwa dan tiga hari kemudian (9/8-1945) di kota Nagasaki, menewaskan 92 ribu. Membuat Kaisar Jepang, Hirohito yang dianggap sebagai putra matahari menyatakan bertekuk lutut terhadap sekutu pada 14 Agustus 1945. Tapi, takluknya Jepang ini tidak diketahui rakyat Indonesia, karena berita-berita menyebutkan suratkabar dan radio selalu menyebutkan kemenangan Jepang terhadap sekutru. Pada masa pendudukan militer Jepang semua radio disegel hingga masyarakat tidak dapat mendengar berita-berita dari luar negeri. Hanya berita yang bersumber dari Jepang saja yang boleh didengar. Beritanya bohong dan propaganda kemenangan balatentara Jepang dihampir semua front. Jika ada pemilik radio yang tidak disegel dan digunakan mendengar beritga-berita luar negeri, akan ditangkap dan tidak carang dibunuh secara kejam karena dianggap mata-mata musuh.

Tapi ada orang yang bekerja dibawah tanah diantaranaya Sutan Syahrir mendengar siaran radio asing menyerahnya Jepang pada sekutu. Syahrir kemudian mendatangi Bung Hatta yang baru saja tiba dari Dallath kota peristirahatan dekat Saigon (kini Ho Chin Minh City) menemui Panglima AB Jepang. Kemudian keduanya menuju kediaman Bung Karno di Jl Pegangsaan Timur (kini Jl Prokalamasi) 56. Bung Karno dan Bung Hatta sependapat bahwa mereka tidak mau mengumumkan Proklamasi Kemerdekaan tanpa bertemu dan bermusyawarah dengan anggota-anggota PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang kala itu sedang berada di Jakarta.

Pada 15 Agustus 1945 — sehari setelah Jepang menyerah –, Jakarta makin tegang dan penuh kesibukan. Takluknya Jepang makin santer terdengar di mana-mana. Anehnya dari pihak militer Jepang tidak terdengar berita resmi. Golongan muda yang berjiwa dinamis dan revoluysioner berpendapat kemerdekaan harus segera diproklamirkan. Sementara golongan tua ykhususnya Bung Karno dan Bung Hatta berpendapat bahwa sebaiknya kemerdekaan Indonesia dicapai tanpa menimbulkan pertumpahan darah. Kala itu pasukan Jepang masih menguasai Jakarta. Perbedaan pendapat mengbenai cara melaksanakan proklamasi itulah yang membuat suasana kota tegang. Bung Karno dan Bung Hatta disertai Mr Ahmad Subardjo berusaha untuk mengetahui menyerahnya Jepang dari para pembesar negeri matahari terbit di Jakarta. Tapi perwira tinggi Jepang itu tidak ada yang mau memberi penjelasan. Padahal suasana kota sudah ‘demam proklamasi’.

Pada Rabu 15 Agustus 1945 pukul 20.00 di salah satu ruangan Lembaga Bacteriologi di Jl Pegangsaan Timur No 17 pada pemuda yang tidak sabar agar kemerdekaan diproklamirkan mengadakan pertemuan dipimpin Chairul Saleh. Kemudian mereka mengutus Wikana dan Darwis untuk mendesak agar Bung Karno dan Bung Hatta secepat mengumumkan mengumumkan proklamasi. Bahkan mengancam akan menculiknya. Tapi Bung Karno dan Bung Hatta menolaknya. Keesokan harinya tanggal 16 Agustus 1945 saat sahur para pemuda pun menculik keduanya disertai Fatmawati dan Guntur yang masih bayi ke Rengasdenglok, Karawang. Di sini kembali mereka menolak untuk memproklamirkan kemerdekaan. Pada malam hari setelah kembali ke Jakarta, Bung Karno dan Bung Hatta mengadakan pertemuan di kediaman Laksamana Maeda di Jl Imam Bonjol, yang dihadiri juga oleh para pemuda. Pertemuan untuk menyusun teks proklamasi berlangsung hingga menjelang fajar. Maka diputuskan Proklamasi Kemerdekaan akan diproklamirkan 17 Agtustus 1945 pukul 10.00 pagi. Tapi banyak yang kecele karena ada yang mengira pro0klamasi akan dilangsungkan di Lapangan Ikada (kini Monas).

Diantara kelompok pemuda yang bekerja keras mensukseskan pengumuman proklamasi adalah : 1. Kelompok Sukarni antara terdapat Kusnaeni, Adam Malik, Armunanto, Pandu Kartawiguna, M. Nitimihardjo yang hampir kesemuanya kemudian bernaung dalam Partai Murba. 2. Kelompok Syahrire — tokoh yang kemudian menjadi Ketua Umum Partai Sosialis Indonesia (PSI). 3. Kelompok Pelajar dan Mahasiswa dikenal berjiwa dinamis. Mereka selalu bebas, merdeka dan terbuka. Mereka dianggap sebagai tenaga pendorong dan pendobrak yang tidak mengenal takut atau mati. Chairul Saleh yang masa pemerintahan Presiden Soekarno menjadi Ketua MPRS juga menjadi pendiri kelompok ini. Tempat para pemuda berkumpul dari ketiga kelompok itu berkumpul adalah Menteng Raya 341 (kini Museum Juang), Jl Prapatan 10 dan Cikini 71. Di samping mereka juga terdapat para pemuda yang tergabung dalam Heiho dan PETA (Pembela Tanah Air). Masih ada Barisan Pelopor dipimpin dr Muwardi dan Sudiro. Ikut mengamankan jalannya proklamasi para jagoan dari berbagai tempat di Betawi. Yang hanya bersenjata golok, keris, pedagang, tombak dan bambu runcing.

Kampung Makassar

Akhir pekan lalu suasana mencekam terlihat di Kelurahan Pinangranti, Kecamatan Makassar, Jakarta Timur. Sedikitnya 400 personel gabungan polisi berjaga-jaga mengantisipasi terulangnya bentrok antar-kelompok warga. Yakni, antara mahasiswa Sekolah Tinggi Theologi Injili Arastamar dengan warga setempat.

Kampung Makassar merupakan kampung tua di Jakarta, karena sejak tahun 1686 telah dijadikan pemukiman orang-orang Makassar. Menurut sejarawan Belanda, De Haan, pada masa VOC warga Makassar di bawah pimpinan Daeng Mataru menempati lokasi yang sangat jauh dari pusat kota dan masih berupa hutan belukar itu. Mereka adalah bekas tawanan perang yang dibawa ke Batavia setelah Kerajaan Gowa, di bawah Sultan Hasanuddin, tunduk kepada Kompeni yang dibantu oleh Kerajaan Bone dan Soppeng.

Pada awalnya pendatang dari Sulawesi Selatan itu diperlakukan sebagai budak belian. Kemudian mereka dijadikan pasukan bantuan dan dilibatkan dalam berbagai peperangan yang dilakukan Kompeni. Pada 1673, mereka ditempatkan di sebelah utara Amanusgracht yang kemudian dikenal dengan Kampung Baru. Mungkin karena bukan bidangnya, tanah di Kampung Makassar yang diperuntukkan bagi mereka itu tidak mereka garap sendiri, melainkan disewakan pada pihak ketiga dan akhirnya jatuh ke tangan tuan tanah Frederik Willem Preyer (De Haan).

Salah seorang puteri Kapiten Daeng Mataru kemudian menjadi istri Pangeran Purbaya dari Banten yang memiliki beberapa rumah dan ternak di Condet — di sebelah barat Kampung Makassar. Pada tahun 1810 pasukan yang terdiri dari orang-orang Makassar, oleh gubernur jenderal Daendels, secara administratif digabungkan dengan pasukan-pasukan Bugis.

Pada abad ke-20, rumah dan peternakan di Condet itu menjadi milik keluarga Rollinson. Di tempat yang dikenal dengan nama Vila Nova ini, pada 5 April 1916, terjadi pemberontakan melawan tuan tanah yang dipimpin oleh Entong Gendut. Ketika itu yang menjadi pemilik tanah di Tanjong Oost (Tanjung Timur) Kramat Jati adalah Lady Rollinson.

Tempat peristirahatan itu pernah dikunjungi sejumlah gubernur jenderal Belanda untuk beristirahat sebelum mereka ke Buitenzorg (Bogor). Gedung beserta halamannya yang sangat luas diberi nama Groeneveld yang berarti Lapangan Hijau — sesuai dengan panorama sekelilingnya kala itu yang hijau royo-royo.

Dari gedung yang terletak di tepi Sungai Ciliwung sampai perempatan Pasar Rebo dan Jalan Raya Bogor terbentang jalan yang dulu di kiri kanannya ditanami pohon asem untuk menambah keasrian pemandangan sekitarnya.

Di Jakarta terdapat nama kampung yang memakai kata pulo yang berasal dari pulau. Seperti Kampung Pulo di wilayah Pinangranti, Kecamatan Makassar, yang menjadi tempat bentrokan warga dan kampus Sekolah Tinggi Theologi Injili.

Tapi bukan hanya di Kecamatan Makassar saja terdapat nama Kampung Pulo. Juga di daerah Senen di belakang Bioskop Rivoli, Kramat Raya, Jakarta Pusat. Di daerah Kalibata, Kampung Melayu dan Pal Merah, juga terdapat Kampung Pulo.

Pulo juga berarti daerah yang terletak di sebelah udik atau pinggiran yang kala itu letaknya jauh dari pusat kota. Karenanya, ada tempat pemakaman umum (TPU) Menteng Pulo. Meskipun bernama Menteng Pulo, tapi letaknya jauh dan terpencil dari kawasan elit Menteng.

Di Jakarta banyak terdapat nama-nama jembatan yang kemudian menjadi populer sebagai nama tempat. Seperti Jembatan Serong di Sunter, Jakarta Utara, dan di Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Di Bandengan, Jakarta Barat, terdapat Jembatan Gambang.

Dinamakan demikian, karena jembatan itu menjadi tempat para pemain gambang keromong mengamen. Sedangkan nama Bandengan, di Jakarta Kota, karena tempat itu pada malam Cap Go Meh (malam ke-15 Imlek) menjadi tempat menjual ikan bandeng.

Tempo doeloe tiap pemuda yang ingin apel kepada kekasihnya diharuskan membawa sepasang ikan bandeng. Rupanya ini merupakan kemoestian, karena pemuda yang datang ke rumah sang gadis tanpa membawa ikan bandeng dianggap calon mantu yang tidak tau adat. Bisa-bisa hubungan mereka putus.

Di Pekojan, Jakarta Barat, terdapat jembatan kambing — terletak di tepi Kali Angke. Kambing-kambing yang didatangkan dari Tegal untuk konsumsi keturunan Arab yang banyak tinggal di Pekojan melewati jembatan ini dan namanya pun menjadi Jembatan Kambing. Di dekatnya ada tempat memotong kambing dan tempat ini dinamakan Pejagalan.

Begitu banyak jembatan di Jakarta, tapi yang paling bersejarah adalah jembatan gantung yang terletak di muara Kali Ciliwung. Sampai abad ke-19, agar kapal yang memasuki pelabuhan Sunda Kalapa dapat memasuki Pintu Besar, jembatan ini bisa dinaik-turunkan.

Ada pula Jembatan Busuk di Jalan Gajah Mada — Jl Hayam Wuruk. Entah mengapa dinamakan demikian, padahal dulu kedua jalan ini ketika bernama Molenvliedt Oost (Timur) dan West (Barat) merupakan salah satu daerah elit dan bergengsi hingga awal abad ke-20.

Sampai tahun 1990-an, jembatan paling populer adalah Jembatan Semanggi di Jalan Jenderal Sudirman, Kebayoran Baru. Tapi, yang paling komersial adalah Jembatan Metro di Glodok. Kini jembatan semacam di Pasar Glodok itu juga sudah dibangun di Pasar Baru dan Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Ketika Bang Ali menjadi gubernur DKI dia memelopori pembangunan jembatan-jembatan penyeberangan.

Pedagang Kaki Lima kini banyak berjualan di jembatan penyeberangan. Rupanya bagi pedagang kaki lima, jembatan adalah tempat yang luang mereka gunakan untuk berjualan. Maklum mencari pekerjaan sulitnya bukan main.

Tidak ada yang mengira bahwa desa terpencil di tepi pantai yang dikelilingi pepohonan rindang dan belasan rumah bilik beratapkan rumbia kini merupakan salah satu sudut Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, yang tiap tahun didatangi ribuan kapal mancanegara. Foto yang diabadikan Woodbury & Page pada 1867 saat dilakukan survei untuk membangun Pelabuhan Tanjung Priok menggantikan pelabuhan Sunda Kelapa di Pasar Ikan.

Pemerintah kolonial kala itu dipusingkan karena Pelabuhan Sunda Kelapa tidak mampu disandari oleh kapal-kapal uap akibat pendangkalan. Akibatnya, kapal-kapal samudra dari mancanegara harus bersandar jauh di tepi pantai, lalu barang bongkar muat harus diangkat dengan perahu.

Akhirnya, diputuskan untuk memindahkan Pelabuhan Sunda Kelapa dan dipilihnya Tanjung Priok yang jaraknya tujuh kilometer, yang dalam foto terlihat sejumlah pejabat tengah menyurvei kawasan yang akan dijadikan sebagai pelabuhan samudra. Pada 1869, ketika Terusan Suez dibuka, yang mempersingkat pelayaran samudra dari Eropa ke Asia serta munculnya kapal-kapal uap, berpengaruh pada Batavia. Kota yang dibangun oleh Gubernur Jenderal JP Coen ramai didatangi pendatang dari Eropa. Demikian pula dengan kapal-kapal samudra yang bongkar muat. Dibangunnya Pelabuhan Tanjung Priok bersamaan dengan pelabuhan Singapura yang dibangun Raffles tahun 1819.

Ketika dipilih lokasi di Tanjung Priok, kalangan bisnis yang berpusat di Kali Besar dan Pasar Ikan banyak yang menentang karena letaknya sekitar sembilan kilometer dari Sunda Kelapa yang dianggap cukup jauh. Pembangunan pelabuhan ini baru dimulai pada 1877 dan selesai selama sembilan tahun (1886). Sebagai pelabuhan laut yang aman pertama di mana kapal-kapal dapat bersandar ke dermaga. Tapi, ketika para penanam modal makin banyak berdatangan ke Batavia, pada 1912 Pelabuhan Priok dilakukan perluasan karena hampir 200 kapal pada tahun itu menanti giliran untuk bersandar.

Perluasan pelabuhan dilakukan bersamaan dengan dimulainya jalur kereta api Batavia-Buitenzorg (Bogor), pendirian Stasiun Kereta Api Tanjung Priok, dan terusan air Ancol menuju Mangga Besar di samping jalur KA Priok-Jakarta Kota (Beos). Kemudian, dibangun jalan raya yang menghubungkan Tanjung Priok-Weltevreden (Senen) dan Meester Cornelis (Jatinegara).

Sayangnya, kini stasiun KA Tanjung Priok tidak terpelihara dan tidak terpakai lagi serta ditempati para gelandangan. Dulu, stasiun KA ini merupakan pintu gerbang bagi para pendatang ke Jakarta. Bagi yang kemalaman, di stasiun ini disediakan penginapan.

Dua terpidana mati, Sumiarsih (60) dan anaknya, Sugeng (44), Sabtu (19/7) malam lalu dieksekusi oleh regu tembak Brimob di lapangan tembak Polda Jawa Timur. Dua jam sebelumnya (pukul 22.30), Usep alias Tubagus Yusuf Maulana, dieksekusi di hutan di kawasan Cimarga, Kabupaten  Lebak, Banten.

Sumiarsih dan Sugeng adalah terpidana mati atas kasus pembunuhan Letkol (Mar) Purwanto, istri, dua anak mereka dan seorang keponakannya. Sedangkan dukun Usep dihukum mati karena melakukan pembunuhan berencana terhadap delapan orang warga Tangerang.

Sebelumnya, dua warga Nigeria telah tewas di depan regu tembak di Pulau Nusakambangan karena kasus narkoba. Sementara, tiga terpidana mati kasus bom Bali, yakni Amrozi, Imam Samudera dan Ali, akan dieksekusi sebelum Ramadhan nanti.

Pada masa Bung Karno, tahun 1964, tokoh DI/TII Kartosuwiryo dijatuhi hukuman mati, dan dialah satu-satunya terpidana mati pada masa itu.

Sebelum menandatangani surat keputusan (SK) pelaksanaan eksekusi, yang disodorkan oleh Asisten I Menpangad Mayjen S Parman, Bung Karno lebih dulu shalat magrib dan berdoa. Kartosuwiryo dieksekusi di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu, 14 km dari Jakarta.

Di Jakarta, ketika masih bernama Batavia, hukum pancung alias tebas leher, pernah diakrabi penduduknya selama dua setengah abad. Sepertinya, pelaksanaan hukuman yang memisahkan leher dari badan ini menjadi hiburan dan ditonton banyak orang.

Sehari sebelum eksekusi, pejabat pengadilan mendatangi kampung-kampung di sekitar Balai Kota (kini Museum Sejarah DKI Jakarta). Dengan pengeras suara yang terbuat dari kaleng mereka menyuruh warga berbondong-bondong datang ke lapangan Balai Kota yang dalam bahasa Belanda disebut stadhuis. Tempat tiang pemancungan di halaman Balai Kota hingga pada masa Belanda dinamakan golgenveld.

Di lantai dua Museum Sejarah Jakarta, di Jl Falatehan I, Jakarta Barat, hingga kini masih ada pedang keadilan setinggi sekitar satu setengah meter — semacam guillotine yang dipergunakan pada masa revolusi Prancis saat rekyat jelata memancung raja dan permaisurinya.

Kerapnya hukuman mati di tiang gantungan diuraikan oleh sejarawan dan dan arkeolog Belanda, Hans Bonke. Menurutnya, pada awal abad ke-18 di Amsterdam yang berpenduduk 210 ribu jiwa dilakukan lima kali hukuman mati per tahun.  Di Batavia, yang berpenduduk 130 ribu jiwa, angka hukuman mati mencapai dua kali lipat.

Seorang Jerman yang bekerja dalam dinas VOC, dalam buku hariannya memaparkan bahwa pada 19 Juli 1676, empat orang dipancung di balai kota dengan dakwaan membunuh. Enam budak belian dipatahkan tubuhnya dengan roda karena dituduh mencekik majikannya.

Seorang Indo Belanda digantung karena mencuri. Beberapa orang Belanda dihabisi di tiang gantungan, karena meninggalkan tugas penjagaan. Seorang wanita Belanda, istri seorang guru, dikalungi besi dan ditahan dalam penjara wanita selama 12 tahun karena berzina.

Leonard Blusse dalam buku Persekutuan Aneh mencatat banyaknya kasus zina yang dilakukan perempuan ketika suaminya masih hidup dan ketika meninggal. Dia mencatat ada empat kasus dengan hukuman dibenamkan dalam tong berisi air, tiga kasus lainnya diikat pada tiang gantungan dan satu demi satu dicekik sampai mati. Kemudian, wajah mereka dicap serta disita semua harta miliknya.

Eksdekusi terhadap Pieter Erberveld, pria keturunan Belanda-Jerman, dilakukan dengan cara yang sangat biadab pada 22 April 1722. Tangan dan kakinya diikat tambang dengan masing-masing dihubungkan ke seekor kuda yang menghadap ke empat penjuru.

Dengan sekali hentak, keempat kuda itu berhamburan ke empat penjuru diikuti terbelahnya tubuh Pieter jadi empat bagian. Sejak itu lokasi eksekusi dinamakan Kampung Pecah Kulit.

Korban eksekusi lain adalah Oey Tambahsia, seorang pemuda playboy yang amat tampan. Berpenampilan rapi, dan kaya raya berkat warisan bejibun dari orang tuanya — seorang pedagang  paling tajir di Betawi. Tiap pagi dan sore pemuda yang belum berusia 20 tahun ini jual tampang keliling kota Batavia naik kuda Australia.

Entah berapa gadis yang berhasil dijeratnya, tidak peduli lajang atau istri orang. Ketika kawin, selama sebulan dia menutup jalan dari Jembatan Tiga sampai Patekoan, Glodok, Jakarta Kota. Beberapa pesaingnya dalam mendapatkan harem dan bisnis dihabisi nyawanya.

Akibat perbuatannya itu dia pun dihukum mati. Oey Tambahsia dengan gagah berjalan sendiri naik tangga ke tiang gantungan, tanpa menunjukkan rasa takut. Semua penonton yang berdiri di sekitar tiang gantungan kagum melihat kebneraniannya.

Ketika algojo memasukkan tali gantungan ke lehernya, Oey dengan tenang berkata, “Di kantong bajuku ada selembar uang kertas 50 gulden untuk kau punya upah. Tetapi, aku minta kau jangan terlalu bengis jiret batang  leherku.”

Sudah sejak lama ada tuntutan dari masyarakat agar koruptor kelas kakap juga dihukum mati seperti yang dilakukan di RR Cina. Kalau saja ini dilaksanakan, akan membuat orang tidak berani melakukan korupsi.

Sejak pertengahan abad ke-19, untuk mengamankan kapal-kapal yang mendatangi Kota Batavia, pada 1862 dibangun mercusuar di kawasan Sunda Kelapa, Jakarta Utara, seperti terlihat dalam foto yang diabadikan tahun 1870-an. Mercusuar ini lokasinya sangat strategis di mulut pelabuhan lama dan kini masih berdiri tegak di Muara Baru, pelabuhan ikan di Teluk Jakarta. Di masa lalu, menara mercusuar ini menjadi pandangan pertama saat para pendatang mengunjungi Batavia dengan kapal laut.

Fungsi menara mercusuar ini sebagai petunjuk lalu lintas kapal di sekitar pelabuhan. Menara ini menggantikan posisi menara mercusuar yang ada sebelumnya (menara Syahbandar/menara Bahari) yang terletak di mulut Kali Ciliwung. Menara, yang sangat diperlukan oleh kapal-kapal yang berlalu-lalang pada malam hari, berbentuk bulat dan makin ke atas, makin mengecil. Pada bagian badan, terdapat tiga buah lubang yang berfungsi sebagai ventilasi dan sekaligus sebagai jendela penerangan tangga yang ada di dalam tubuh menara. Pada abad ke-17 dan 19, selama 250 tahun, sebelum dibukanya Pelabuhan Tanjung Priok, Bandar Sunda Kelapa banyak didatangi armada dari mancanegara.

Menara mercusuar yang terletak di pelabuhan ikan Muara Baru, Jakarta Utara, sekitar 20 menit naik sampan dari Pasar Ikan, beberapa bagian kini sudah tertutup dengan gedung dan pabrik. Mercusuar ini dikelilingi oleh pabrik pengolahan hasil laut, khususnya udang yang diekspor ke mancanegara. Di Pelabuhan Muara Baru, kita dapati sejumlah kapal besar dengan tonase 50 ton beroperasi menangkap ikan. Kebanyakan pemilik kapal dan pabrik adalah warga negara Taiwan yang melakukan investasi di sini.

Laut Teluk Jakarta masuk kategori laut dangkal dengan kedalaman kurang 50 meter. Lingkungan laut Teluk Jakarta luasnya kurang lebih 422 meter persegi yang pesisirnya membentang dari Tanjung Timur di sebelah barat dan Tanjung Karawang di sebelah timur. Kedalaman laut Teluk Jakarta pada bagian aluran pelayaran sekitar tujuh sampai 10 meter. Kedalaman rata-rata di sekitar pulau-pulau yang ada bervariasi antara tiga sampai lima meter. Kondisi kedalaman laut menyebabkan perlunya dipasang rambu-rambu lalu lintas laut untuk memberikan petunjuk jalur pelayaran supaya kapal tidak kandas.

Terletak di salah satu sudut Jalan Gereja Theresia, Jakarta Pusat, sebuah bangunan tua bergaya kolonial terasa kian terpencil oleh kantor megah di kiri kanannya. Itulah Balai Budaya Jakarta yang kian merana. Padahal, di gedung inilah tertancap tonggak perjalanan kreatif nama-nama besar di jagat kesenian Indonesia.

Padatahun 1960-an dan 1970-an, banyak pelukis besar memamerkan hasil karyanya di Balai Budaya Jakarta. Seperti sang maestro Affandi, Popo Iskandar, Hardi, Sudjoyono, dan masih banyak lagi. Drama legendaris karya Bengkel Teater WS Rendra juga dipentaskan di gedung yang kini sudah tidak terawat.

Seperti dikemukakan oleh Misbach Yusa Biran, yang banyak mengetahui keberadaan gedung yang berdiri sejak 1950-an ini, dan sejumlah seniman kerap berdiskusi di Balai Budaya. Sejumlah seniman dan penyair ternama, seperti Gunawan Muhammad, Sutardji Chalzoum, dan Nugroho Notosusanto, juga sering tampil dan berdiskusi di gedung Balai Budaya. Tidak heran, kalau gedung yang menurut Misbach kebanjiran bila musim hujan, pernah menjadi barometer kesenian di Jakarta, khususnya di tahun 1960- an dan 1970-an.

Mengingat kondisinya itu, masih menurut Misbach, para seniman pernah mengusulkan kepada gubernur Ali Sadikin agar di Jakarta perlu ada gedung kesenian yang menjadi tempat berkiprahnya para seniman dan budayawan dengan karya-karya mereka. Bang Ali menyambut respons tersebut dengan membentuk Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada 1968. Ketuanya adalah Sutrisno Sumardjo dengan anggotaanggota, antara lain Asrul Sani, Ajip Rosidi, Umar Khayam, Wahyu Sihombing, Misbach Yusa Biran, DJayakusumah, dan Gayus Siagian.

Dan, atas usul para seniman itulah Bang Ali mendirikan Taman Ismail Marzuki yang sebelumnya adalah Kebun Binatang dan kediaman pelukis Raden Saleh. Kini, Balai Budaya Jakarta yang sepertinya tengah menghitung nasib merupakan test case bagi Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo untuk mengembalikan ke masa jayanya. Terutama, memperbaiki bangunannya yang sering kebanjiran. Menurut Misbach Yusa Biran, gedung kesenian tidak harus terpusat di TIM. Perlu di beberapa tempat, termasuk Balai Budaya Jakarta yang bersejarah itu.

Older Posts »