Feeds:
Tulisan
Komentar

Setelah mendatangi bandar Sunda Kalapa — tempat Falatehan menghalau armada Portugis (1527) dan kemudian direbut Belanda (16190) — kita mendatangi Museum Bahari di Pasar Ikan, Jakarta Utara. Dulunya museum ini merupakan gudang rempah-rempah yang terletak tepat di tepi pantai sehingga kapal-kapal yang mengangkut barang-barang dapat berlabuh di depannya. Sekarang sudah ada jalan besar dan didepannya terdapat sebuah pasar dan kantor polisi.

Gudang rempah-rempah itu merupakan salah satu gedung yang terselamatkan, ketika gubernur jenderal Daendels (1808-1811) memindahkan pusat kota dari Oud Batavia ke Weltevreden (Gambir dan sekitarnya). Dari belakang Museum Bahari, dengan menaiki tangga, kita masih mendapati reruntuhan bekas benteng Batavia. Benteng ini dibangun, karena selama 80 tahun setelah kejatuhan Jayakarta, Batavia tidak pernah aman. Baik dari serangan gerilyawan Mataram dan Banten, maupun sisa-sisa pasukan Jayakarta.

Pada awal abad ke-19, ketika Daendels menghancurkan Oud Batavia, termasuk benteng kota yang merupakan sarang penyakit, seorang pendatang menulis, ”Kota Batavia bukan lagi metropolis terkenal masa lampau. Sebagian besar bangunan dan rumah-rumah yang paling penting telah dirobohkan, kecuali gudang-gudang belaka (termasuk Museum Bahari). Istana yang berada dalam benteng hanya tinggal reruntuhan. Kota Batavia hanya seperti sebuah desa yang dikelilingi parit-parit lebar.”

Dari pusat kota berbenteng pagar batu itu kita bisa menyusur ke arah selatan Jalan Pintu Besar yang menjadi tempat pemukiman yang banyak dihuni warga Belanda. Daerah itu dibagi dua oleh sungai Ciliwung. Orang Eropa umumnya tinggal di sebelah timur (Kalibesar Timur) dan orang Cina di sebelah barat (Kalibesar Barat). Sedangkan kampung-kampung tempat orang Sunda, Jawa, Ambon, Bali dan orang-orang dari daerah lain, berkelompok di luar dinding benteng.

Pada abad ke-18, orang-orang Belanda yang lebih kaya membangun rumab-rumah tinggal di sepanjang kanal Molenvliet (kini Jl Gajah Mada dan Hayam Wuruk) sepanjang sekitar tiga kilometer. Banyak orang Cina dan Belanda yang bermukim di daerah yang sedang berkembang itu. Pada abad ke-19, Koningsplein (sekarang Medan Merdeka) menjadi pusat kota baru untuk merebut kembali reputasi sebagai Queen of the East. Pemukiman ini dua kali lebih besar daripada kota lama.

Dengan bertambah ramainya orang membangun di Weltevreden (Gambir dan sekitarnya), pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, ketika modal asing dan dalam negeri makin berkembang, kelebihan penduduk kian merambat ke selatan. Ke jurusan Gondangdia dan Menteng, yang akhirnya menjadi pemukiman yang sangat modern. Sementara, Batavia terus meluas ke timur dan barat, ke Meester Cornelis (kini Jatinegara) dan ke Tanah Abang.

Weltevreden (tidak jauh dari Molenvliet) pada abad ke-18 merupakan kompleks perumahan yang besar dan bagus. Rumah-rumah besar itu dilengkapi kebun-kebun dengan aneka bunga, seperti rumah peristirahatan. Pada abad ke-19, daerah ini, yang menjadi Nieuw Batavia (kota baru Batavia), masih merupakan jantung kota yang meluas ke segala penjuru. Di sini terdapat taman yang luas: Wilhelmina Park (nama ratu Belanda ketika itu), yang kini oleh Bung Karno disulap menjadi Masjid Istiqlal.

Di samping membangun Koningsplein (kini Monas) — lapangan terbesar dan terluas di seluruh jagad — Daendels juga membangun ‘Gedung Putih’ (semula untuk istanna) yang kini menjadi Departemen Keuangan. Di depannya, Waterlooplein (kini Lapangan Banteng), tiap Ahad sore didatangi para tuan dan nyonya serta gadis-gadis dengan pakaian mutakhir dari Eropa untuk menyaksikan parade militer. Terdapat gedung Concordia (kini menyatu dengan Depkeu), tempat para perwira militer berpesta pora dengan gadis-gadis cantik.

Harmonie Club (kini bagian dari gedung Sekretariat Negara), digambarkan sebagai bangunan paling menawan pada abad ke-19. Di depannya, di atas jembatan Rijswijk (Jl Veteran) dan Noordwijk (Jl Juanda), terdapat patung Hermes bersayap, yang menurut mitologi Yunani adalah dewa perniagaan, karena masa itu Harmoni dan sekitarnya merupakan pusat pertokoan dan perniagaan. Di dekat Harmoni (Jl Gajah Mada) terdapat hotel paling bergengsi di Batavia: Hotel des Indes. Sebelum dibangun HI pada 1960, para tamu negara dan diplomat asing tinggal di hotel ini.

Di seberang Jl Veteran terdapat Pasar Baru yang sampai tahun 1970-an bersaing dengan Glodok. Sampai sekarang, masih ada pasar gelap dolar dan mata uang asing lain yang banyak terdapat di sini. Sekarang, pemerintah DKI ingin menjadikan Pasar Baru sebagai salah satu pusat belanja di Jakarta.

Dari sekitar Lapangan Banteng kita bisa menuju Jl Thamrin, yang bersambung dengan Jl Sudirman, dan merupakan jalan protokol yang dibangun Bung Karno menjelang Asia Games IV (1962). Di sini terdapat Hotel Indonesia yang kini tengah direnovasi. Di depannya terdapat Tugu Selamat Datang yang dikelilingi air mancur — kini menjadi tempat favorit untuk melakukan demo.

REPUBLIKA – Minggu, 24 Juni 2007

Orang Betawi sampai awal abad ke-20 dengan rasa takut menyebut gedung dengan enam buah pilar sebagai penyangganya adalah ‘rumah setan’. Letaknya bersebrangan dengan Gedung Mahkamah Agung (MA) pada masa Bung Karno dan awal pemerintahan Pak Harto. Gedung MA sendiri terletak di sebelah kanan Departemen Keuangan di Lapangan Banteng, yang rencananya oleh Gubernur Jenderal Daendels akan dibangun Istana namun urung.

Gedung Setan seperti terlihat dalam foto terletak di Vrijmet Selaarweg (kini Jalan Budi Utomo), tidak jauh dari Kantor Pos Pasar Baru, Jakarta Pusat. Bangunan yang memiliki loge (loji) merupakan perkumpulan kaum Theosofi De Ster in het Oosten atau Bintang Timur. Tapi lebih populer dengan sebutan rumah setan, sebutan yang dibisikkan oleh pribumi dengan rasa takut. Dahulu, di sebelah ‘rumah setan’ terdapat perumahan para perwira dan petinggi Belanda.

Di rumah setan inilah yang kemudian pada awal abad ke-20 menjadi gedung farmasi Rathkamp dan kini Kimia Farma setelah diambil alih pemerintah RI dijadikan pusat kegiatan Freemason suatu gerakan yang menjadi kaki tangan zionisme sejak abad ke-18 di Indonesia. Waktu itu namanya ‘La Choisile’ didirikan pada 1763 oleh Jacobus Cornelis Mattheus Roderman Cher (1741-1783) beserta enam orang kawannya.

‘La Choisile’ kemudian membangun dua loge (loji) lainnya yang sebagian besar anggotanya para militer dan petinggi Belanda, termasuk perwira-perwira VOC. Menunjukkan sejak ratusan tahun lalu Yahudi telah mengembangkan sayapnya di Indonesia. Dulu di Noordwijk (Jl Juanda) dan Rijswijk (Jl Segara) yang merupakan pusat perdagangan dan pertokoan di Batavia warga Yahudi banyak yang membuka toko.

Kedua loge (loji) hingga kini masih berdiri sekalipun fungsinya sudah beralih menjadi pabrik Kimia Farma. Di dekatnya dulu terdapat SMA terkenal Budi Utomo. Pada awal gerakannya Freemason atau Vrijmetselarij dalam Belanda, menggunakan kedok persaudaraan, kemanusiaan, tak membedakan agama dan ras, warna kulit dan gender, apalagi tingkat sosial di masyarakat. Mereka menitikberatkan gerakannya pada kegiatan ilmiah dan bersifat keilmuan. Gerakan ini juga memberikan beasiswa pada murid-murid berbakat. Tidak heran banyak tokoh masyarakat ketika itu bersimpati pada gerakan ini.

Satu dari sekian doktrin yang dengan kuat diajarkan dalam persaudaraan ‘Freemason’ adalah sikap mereka pada agama. Mereka menganggap semua agama sama. Ini sama persis dengan apa yang marak kita temui hari-hari dengan nama lain: pluralisme. Dan memang sesungguhnya pluralisme pun adalah ajaran dari pemikiran orang-orang Yahudi. Tulis Herry Nurdi dalam buku ‘Jejak Freemason & Zionis di Indonesia’. Menurut para orang tua, masyarakat sendiri banyak tertipu menyangka warga Yahudi adalah keturunan Arab karena menggunakan bahasa ini dengan fasih.

REPUBLIKA – Sabtu, 29 September 2007

Bandar Sunda Kalapa 1527

Mendatangi Bandar Sunda Kalapa kita akan mendapati puluhan kapal phinisi tengah berlabuh. Kapal layar yang berdatangan dari berbagai tempat di Nusantara ini sebagian tengah melakukan bongkar muat. Membawa kayu, semen, dan bahan bangunan lainnya untuk kebutuhan Jakarta.

Terlihat juga para kuli sibuk mengangkut bahan-bahan pokok untuk dinaikkan ke kapal-kapal itu guna dikirim ke daerah-daerah. Mungkin terdapat minyak goreng yang kini meroket harganya. Meskipun tak lagi seramai pada masa VOC, bandar Sunda Kalapa yang perannya sudah digantikan pelabuhan Tanjung Priok, masih terlihat sibuk. Lebih ramai dari palabuhan Karangantu di Banten yang pada masa lalu jadi saingan utamanya.

Di palabuhan Sunda Kalapa juga di Priok telah beberapa kali para pengemudi angkutan, pemilik barang dan ekspedisi, melancarkan demo karena tidak tahan atas merajalelanya pungli. Memang, pungli seperti juga korupsi, telah menjadi budaya di negeri ini. Para pelakunya termasuk orang dalam, tidak menyadari akibat perbuatan mereka bukan saja negara dirugikan, tetapi mengakibatkan terpukulnya para eksportir dan importir.

Orang Betawi belum pernah mendirikan kerajaan. Karenanya mereka lebih demokratis dan terbuka sekalipun di negeri ini sekarang berkumpul lebih dari 300 etnis dan suku. Tapi, orang Betawi saksi pergantian kekuasaan dari jaman ke jaman. Tanah Betawi penting karena di muara Ciliwung ada pelabuhan Sunda Kalapa.

Pada jaman Pajajaran (abad ke-12-16) Betawi merupakan bagian dari kerajaan Hindu ini. Orang Betawi sudah berbahasa Melayu dan Kerajaan Pajajaran berbahasa Sunda. Hubungan masyarakat Betawi dengan kerajaan Pajajaran sangat dekat. Karena, dari pelabuhan Sunda Kelapa ke Pakuan (Batutulis-Bogor) angkutan sungai sangat hidup yang ditempuh dalam dua hari. Sampai kini di Batutulis masih didapati prasasti bekas kerajaan Pajajaran.

Di Batutulis hanya beberapa tahun berselang pernah terjadi heboh, ketika seorang menteri dalam kabinet Presiden Megawati membongkar bekas peninggalan sejarah, mencari harta pusaka di bekas kerajaan Pajajaran. Dia melakukan hal itu karena meyakini ada harta karun milik kerajaan, yang dikatakan jumlahnya dapat menutup seluruh utang luar negeri RI.

Pada awal abad ke-16 raja di Pakuan merasa cemas akan timbulnya kekuatan baru di pesisir Jawa Timur, yang sudah merembes sampai ke perbatasan negerinya. Pasukan Demak menguasai Cirebon (akhir abad ke-15). Maka, Pajajaran meminta dukungan orang Portugis, yang baru saja merebut Bandar Malaka (1511).

Ketika itu, orang Betawi sudah banyak yang beragama Islam. Diantara penyebarnya adalah Kyan Santang, putera Prabu Siliwangi. Para pendeta Pajajaran menilai Kyan Santang melakukan penyimpangan, atau langgara. Karena itu, tempat bersembahyang mereka disebut langgar. Sampai kini orang Betawi menyebut surau dengan langgar.

Persekutuan antara Pajajaran dan Portugis mengakibatkan kemarahan bukan saja dari Kerajaan Demak tapi para walisongo. Portugis yang baru saja terlibat dalam perang salib dianggap bukan saja membahayakan persaingan dagang, tapi juga membahayakan Islam yang ketika itu tengah berkembang pesat. Sultan Trenggano dari Demak menugaskan iparnya, Fatahillah, memimpin pasukan menyerbu Sunda Kalapa.

Pada suatu hari di bulan Juni 1527 para laskar Islam pimpinan Fatahillah bergerak dari darat dan laut. Puncak pertempuran terjadi pada suatu senja di sekitar pelabuhan Sunda Kalapa. Ketika merebut bandar ini, kapal-kapal Portugis yang tiba dari Malaka dihalau. Armada Portugis yang bermaksud mendirikan benteng di mulut Ciliwung sesuai perjanjian dengan Raja Pajajaran tidak diizinkan melaksanakan maksud itu. Mereka dihalangi dan diusir dari Teluk Jakarta (1527), karena Pajajaran sudah tidak berkuasa lagi.

Sunda Kalapa diduduki orang dari Jawa Tengah, sedangkan orang Sunda yang beragama Hindu mengundurkan diri ke arah selatan. Akhirnya, ibukota Pakuan Pajajaran (Bogor) jatuh ke tangan sultan Maulana Yusuf dari Banten (1579), dan makin menyebarlah Islam di Jawa Barat.

Fatahillah memberi nama Jayakarta kepada kota yang baru direbutnya. Sebagai seorang panglima dan ulama ia mendirikan kadipaten di tepi barat kali Ciliwung, sekitar Jl Kalibesar Barat. Dia juga mendirikan aryan perumahan untuk pejabat kabupaten dan keluarganya yang di datangkan dari Banten. Seperti juga umumnya kadipaten di Jawa, di depannya terdapat sebuah masjid tempat menggembleng umat.

Menurut Adolf Heyken dalam buku Sejarah Masjid, masjid pertama di Jakarta yang dibangun dari kayu ini, terletak di sebelah selatan Hotel Omni Batavia, yakni antara Jl Kalibesar Barat dan Jl Roa Malaka Utara, di daerah Kota. Berdekatan dengan masjid, yang dibakar oleh JP Coen ketika menaklukkan Jayakarta, itu terdapat sebuah pasar yang letaknya mungkin di sekitar terminal bus dan mikrolet di Kota Inten, Jakarta Barat.

Tanah bekas masjid yang terbakar itu digunakan untuk membangun rumah perwakilan dagang Inggris. Pada Mei 1619 semua penduduk Jayakarta meninggalkan kota mereka bersama dengan tentara Banten, menuju Jatinegara Kaum, Jakarta Timur. Di sini mereka mendirikan Masjid As-Salafiyah, yang hingga kini masih berdiri dengan megah.


REPUBLIKA – Minggu, 17 Juni 2007

Istana Callenberg di Cikini

REPUBLIKA – Sabtu, 15 September 2007

Callenberg di Jerman tentu saja jaraknya ribuan kilometer dari Jakarta. Terletak di atas sebuah bukit di dekat Coburg, istana yang bernama Callenberg itu dapat kita saksikan bila berkunjung ke Rumah Sakit Dewan Gereja Indonesia (DGI) di Cikini, Jakarta Pusat. Tidak pelak lagi, bahwa gedung pimpinan RS Cikini itu adalah satu bangunan tiruan dari satu istana kecil di Callenberg (Jerman). Istana ini merupakan tempat peristirahatan yang paling disenangi oleh para adipati dari Sachsen-Cobutha-Gortha. Tapi mengapa tiruannya dibangun di Jakarta?

Kunci jawaban atas pertanyaan itu adalah riwayat kehidupan pelukis modern asal Jawa yang pertama, seorang turunan dari keluarga bangsawan Jawa Tengah: Raden Saleh Syarif Bustaman. Pelukis yang lukisan-lukisannya banyak menjadi koleksi Istana karena digemari Bung Karno, hidup antara 1811-1880. Dia dimakamkan di Bogor di Jl Pahlawan. Atas perintah Bung Karno-lah tempat meninggalnya dipugar.

Pelukis kelahiran Semarang ini, adalah saudara misan Habib Abdurahman Alhabsyi, ayah Habib Ali Alhabsyi, pendiri majelis taklim Kwitang 80 tahun lalu. Setelah belajar selama 10 tahun di Belanda, Raden Saleh kemudian ke Jerman dan di negara ini ia tertarik dengan Istana Callenberg. Maka sekembalinya di Indonesia, di tanahnya yang luas di Cikini termasuk TIM dan SMP II Cikini serta masjid Cikini dia pun membangun kediamannya meniru Istana Callenberg. Sebagai penyayang binatang, Raden Saleh telah membangun kebun binatang Cikini, di kediamannya yang luas itu.

Di Jerman, negara yang tidak mempunyai jajahan, dia tidak diperlakukan sebagai budak melainkan sederajat dengan orang sesama, suatu yang tidak mungkin terjadi di Hindia Belanda yang melakukan politik rasialis. Ketika kembali ke Batavia, Raden Saleh tidak masuk ke dalam dinas penguasa kolonial Belanda, salah satu syarat ketika ia mendapat beasiswa pendidikan di Eropa.

Beberapa karya terbaik Raden Saleh sekarang berada dalam koleksi seni istana kepresidenan. Menunjukkan kekaguman Bung Karno terhadap pelukis dari keluarga Bin Yahya. Di antaranya yang menonjol adalah ”Penangkapan Pangeran Diponegoro” yang ia selesaikan tahun 1858.

Bertentangan dengan pelukis-pelukis Belanda yang melukis akhir dari penguasa kolonial yang berbahaya ini dari sudut pandang Belanda. Raden Saleh menunjukkan Pangeran Diponegoro, seorang bangsawan dari Kesultanan Mataram sebagai pemenang bermoral. Pangeran yang mengenakan jubah dan sorban, dengan tasbih terlihat menonjol di sabuknya, berjalan ke tahanannya di Magelang dengan muka menantang perwira Belanda yang menipunya dengan kedok mengajak berunding. Itu adalah suatu karya lukis yang revolusioner dan antikolonial yang baru dibawa Belanda kembali ke Jakarta setelah kemerdekaan.

Kediaman Raden Saleh ini kemudian dibeli oleh sahabatnya: Sayid Abdullah bin Alwi Alatas, yang memiliki sebuah rumah besar dan mewah yang kini menjadi museum tekstil di Jati Petamburan, Jakarta Pusat. Kemudian kediaman Raden Saleh ini dijual oleh Sayid Abdullah kepada Yayasan Emma, sebuah organisasi sosial Belanda. Tapi menjelang kemerdekaan rumah sakit ini oleh Belanda diserahkan kepada Dewan Gereja Indonesia (DGI).

Era Demokrasi Terpimpin

Pada 6 Juni 1901 Bung Karno lahir di Surabaya. Dia meninggal dunia pada 21 Juni 1970 di Jakarta dan dimakamkan di Blitar, Jawa Timur. Saya yang ikut meliput acara pemakaman almarhum dari rumah duka di Wisma Yaso Jl Gatot Subroto (kini Museum Satria Mandala) ke Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta, melihat pengantar jenasah yang begitu membludak di sepanjang jalan.

Dari kediaman Nyonya Dewi, istrinya, di Wisma Yaso, ke bandara yang jaraknya belasan kilometer, mobil jenazah harus berjalan perlahan-lahan karena harus melewati ribuan massa. Di antara mereka banyak yang melelehkan air mata dan menangis histeris. Kabarnya, haul 27 tahun wafat presiden RI pertama itu akan diperingati di Blitar. Dikabarkan banyak tokoh nasional yang akan hadir, termasuk mantan presiden Megawati, puteri tertua almarhum.

Presiden Soekarno  seperti dinyatakannya sendiri  baru merasa berkuasa penuh setelah pada 5 Juli 1959 mengeluarkan maklumat kembali ke UUD 1945 dan membubarkan konstituante hasil pemilu pertama. Dia begitu membenci demokrasi parlementer, yang olehnya dikritik sebagai demokrasi ala Barat yang tidak cocok dengan demokrasi Indonesia.

Tapi, menurut Herbeth Feith & Lance Coster dalam buku Pemikiran Politik Indonesia 1945-1965, periode demokrasi parlementer boleh dianggap berakhir Maret 1958, ketika terjadi pertentangan yang amat seru antara pusat dan daerah dan berujung pemberontakan PRRI/Permesta. Kekalahan pemberontak yang begitu cepat dan pengambilalihan semua milik Belanda, disusul dengan susunan politik baru. Parpol-parpol menjadi lemah dan peran para pemimpin ABRI menjadi jauh lebih besar.

Pidato Presiden Soekarno pada hari kemerdekaan 17 Agustus 1960 berjudul Kembali ke Jalur Revolusi, oleh MPRS kemudian ditetapkan sebagai Manifesto Politik (Manipol) menjadi garis-garis besar Haluan Negara. Parpol maupun perorangan, yang dinilai menyimpang dari Manipol, disingkirkan. Masyumi dan PSI dibubarkan, tokoh-tokohnya dipenjarakan, termasuk tokoh oposisi yang tergabung dalam Liga Demokrasi. Setelah membubarkan BPS (Badan Pendukung Sukarnoisme), terakhir kali Bung Karno membubarkan Partai Murba   musuh utama PKI.

Dari soal-soal politik kita bisa menyoroti suasana kota Jakarta di era demokrasi terpimpin, yang pada 22 Juni 2007 nanti berusia 480 tahun. Bung Karno, pada masa jayanya itu, punya pengaruh cukup menentukan dalam membentuk wajah kota Jakarta. Pada awal demokrasi terpimpin, penduduk Jakarta hampir tiga juta jiwa. Kenaikan enam kali dari populasi 1941, menjelang hengkangnya kolonial Belanda.

Pada masa pendudukan Jepang penduduk Jakarta baru sekitar 500 ribu jiwa. Sebagian akibat migrasi, karena banyaknya orang ngendon ke Jakarta akibat stagnasi di kota-kota lain. Seperti juga sekarang, meski diberlakukan otonomi, tapi pendatang ke kota si Pitung ini makin membludak.

Seperti juga tahun 1950-an, gubuk-gubuk liar banyak bertebaran di mana-mana. Tidak terhitung jumlah pengemis dan gelandangan. Bung Karno yang ketika itu menjadikan Jakarta sebagai kota perjuangan bangsa-bangsa tertindas, sangat sibuk menerima kepala-kepala negara asing.

Guna menunjukkan keramahan bangsa Indonesia, untuk menyambut tamu negara dikerahkan murid-murid sekolah, kaum buruh dan pegawai negeri sipil. Mereka berbaris di sisi kiri dan kanan jalan yang di lewati tamu negara  dari bandara Kamayoran hingga depan Istana Negara  sambil mengelu-ngelukannya.

Pernah terjadi menjelang kedatangan Presiden Polandia, di dekat bandara Kemayoramn dipasang bendera negara Eropa Timur itu yang bewarna putih-merah. Seorang Hansip, yang menyangka bendera itu dipasang terbalik, langsung menaiki tiang dan membaliknya jadi merah putih. Karuan saja panitia menjadi repot akibat ulah si Hansip. Benderapun dikembalikan menjadi putih merah.

Bung Karno-lah yang membangun Jl Thamrin dan Jl Sudirman  menjelang Asian Games IV awal 1960-an  yang menghubungkan Senayan dan Kebayoran Baru. Jalan ini  semula tidak beraspal  oleh Bung Karno disulap menjadi jalan protokol. Kini kawasan di timur kedua jalan tersebut, bersama Kuningan-Gatot Subroto, merupakan kawasan segi tiga emas.

Di Jl Thamrin, Bung Karno membangun gedung berlantai 20, Sarinah, pencakar langit tertinggi kala itu, dari hasil uang pampasan perang Jepang. Di lantai bagian atas pada masa Bang Ali Sadikin dibangun kasino yang kemudian mendapat protes keras dari umat Islam. Sementara, Usmar Ismail  tokoh perfilman nasional  membangun nite club Mirasa Sky Club yang merupakan klub malam pertama ketika itu. Di Jl Thamrin, Bung Karno membangun Hotel Indonesia bertingkat 13, setelah sebelumnya menggusur Hotel des Indes di Jl Gajah Mada, peninggalan Belanda. Dia kurang menyenangi bangunan warisan kolonial.

Kawasan Sudirman-Thamrin makin bergengsi setelah dibangun kompleks OR Gelora Bung Karno pada 1960, ketika Indonesia terpilih menjadi tuan rumah Asian Games IV. Meskipun, untuk itu tergusur ribuan KK warga Betawi yang kemudian ditempatkan di Tebet, Jakarta Timur. Setelah daerah ini berkembang, ribuan warga Betawi tergusur lagi ke daerah-daerah pinggiran.

Kini jumlah warga Betawi korban gusuran yang masih tinggal di Tebet dapat dihitung dengan jari. Memang demikianlah nasib warga Betawi di kota kelahirannya sendiri. Semoga gubernur mendatang lebih memberikan perhatian pada nasib warga Betawi dan tidak lagi melakukan penggusuran secara sewenang-wenang tanpa ganti rugi yang layak.

 

REPUBLIKA – Minggu, 10 Juni 2007

Menteng seperti terlihat dalam foto sampai tahun 1960-an mnerupakan bioskop kelas satu di Jakarta di samping Metropole dan Garden Hall di Cikini. Bioskop Menteng terletak di Jalan Tjokroaminoto pada masa Belanda bernama Java Weg (Jl Jawa) Sebelah kanan bioskop Menteng yang selalu memutar film-film AS, terletak Lapangan Persija yang di masa Belanda bernama Vios Veld (Lapangan Vios).

VIOS merupakan perkumpulan sepakbola di Batavia yang sebagian besar pemainnya para bule dan Indo Belanda. Jalan Tjokroaminoto pada 1960-an seperti terlihat dalam foto belum seramai sekarang, yang hampir tiap waktu dilanda kemacetan. Bioskop Menteng sendiri kini sudah almarhum digantikan oleh pertokoan Batik Keris. Sedangkan Lapangan Persija kini berubah menjadi Taman Menteng disulap menjadi daerah hijau royo-royo dan tempat rekreasi.

Pokoknya sampai akhir 1960-an, kawasan Menteng selain Jl Imam Bonjol Jl Diponegoro merupakan kawasan permukiman yang tenang. Tinggal di kawasan ini, kata sejumlah penghuninya, sangat nyaman. Kita dapat beristirahat di teras muka rumah pada sore dan malam hari sambil memandangi jalan melalui pagar yang rendah, membaca koran atau menerima tamu. Memang Belanda ketika membangun Menteng ingin mengabadikan sebagai kota taman pertama di Indonesia.

Kini, kita harus berhati-hati bila ke Menteng akibat semrawutnya lalu lalang kendaraan. Berjalan kaki dengan aman termnasuk naik sepeda kini merupakan kemustahilan. Mobil dan motor terang-terangan melanggar peraturan menyerempet trotoar untuk pejalan kaki. Sementara para pedagang dengan seenaknya menggelar tenda-tenda yang menjadi milik pejalan kaki dan pengendara sepeda. Begitulah lalu lintas di Jakarta entah kapan akan ditertibkan.

Di samping bioskop Menteng, dulu terdapat Toko Li yang kemudian menjadi swalayan Gelael yang habis terbakar pada 1987 dan diganti dengan gedung Lippo Bank. Di dekatnya terdapat Apotik Oranye Nassau, yang kini juga sudah marhum. Tentu saja diganti gedung yang lebih megah.

Bioskop Menteng dan ratusan bioskop lainnya di tanah air kini berubah fungsi. Ada yang jadi mal, pertokoan dan gudang. Salah satu penyebabnya akibat ulah golongan kiri PKI yang pada awal 1960-an memnboikot film-film AS dan barat. Di antaranya film The Misfuts yang dibintangi Marilyn Monroe, simbol seks Hollywood tahun 1950-an dan 1960-an. Pemboikotan film-film AS (Barat) dalam bentuk aksi dan demo di berbagai tempat di Indonesia, dilakukan oleh PAPFIAS (Panitia Aksi Pemboikotan Film Imperialis AS).

Padahal ketika itu rakyat menggemari film AS termasuk Marilyn Monroe yang film-filmnya selalu ditunggu-tunggu. Lalu PKI/LEKRA mendatangkan film-film dari negara sosialis yang berisi propaganda komunisme. Karena rakyat tak suka maka bioskop gulung tikar. Marilyn Monroe meninggal akibat minum obat tidur overdosis. Dia dikabarkan pernah melakukan skandal dengan Presiden Kennedy, Presiden AS yang muda dan tampan yang dikagumi Bung Karno.

REPUBLIKA – Sabtu, 08 September 2007

Jakarta 1950-an

Tahun 1950-an, beberapa tahun setelah penyerahan kedaulatan (29 Desember 1949), penduduk Jakarta sudah sangat padat. Namun, tentu saja tidak bisa dibandingkan dengan jumlah penduduk sekarang ini. Sebelum Perang Dunia II (Perang Asia Pasifik) tahun 1942-1945 Jakarta hanya berpenduduk kurang dari setengah juta jiwa, tapi tahun 1950-an melonjak lebih dari dua kali lipat.

Jumlah itu terus membengkak akibat situasi tidak aman di daerah-daerah, sehingga banyak penduduk yang hijrah ke Jakarta. Di Jawa Barat, misalnya, terjadi pemberontakan DI/TII pimpinan Kartosuwirjo. Mobil jarang yang berani melakukan perjalanan dari Jakarta ke Bandung, karena tidak aman. Pemberontakan juga terjadi di berbagai daerah, antara lain menuntut didirikannya negara Islam.

Ketika gubernur Ali Sadikin berkunjung ke Belanda, walikota Amsterdam menggeleng-gelangkan kepala ketika mendengar Jakarta sudah berpenduduk di atas empat juta jiwa. Padahal sebelum Perang Dunia II, Jakarta hanya berpenduduk kurang setengah juta jiwa  jauh lebih rendah dari penduduk Amsterdam yang berjumlah 800.000 jiwa. Jumlah ini hampir tidak meningkat lagi ketika Bang Ali berkunjung ke sana.

Kala itu pendapatan perkapita penduduk Indonesia yang 70 juta jiwa, hanya sekitar 90 dolar AS. Sekarang lebih 10 kali lipat, sekitar 1000 dolar AS. Waktu itu, murid-murid Sekolah Rakyat (kini SD), lebih banyak pergi ke sekolah dengan telanjang kaki. Makan sehari hanya dua kali. Sarapan cukup dengan ubi dan singkong. Murid-murid sekolah yang tidak berseragam, masih banyak yang memakai baju tambalan. Saya, misalnya, mendapatkan uang jajan sekolah hanya ceta’ atau setalen (25 sen).

Bung Karno yang menyadari kesulitan yang dihadapi rakyat Indonesia, dalam pidato 17 Agustus 1950 yang berjudul Dari Sabang sampai Merauke, berkata, ”Janganlah mengira kita semua sudah berjasa dengan turunnya tiga warna (bendera Belanda). Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk, belumlah pekerjaan kita selesai.”

Jakarta pada awal 1950-an memang jauh berbeda dari satu dekade sebelumnya. Kalau kita berjalan di tengah malam, kita akan menyaksikan orang-orang yang tidur di emperan toko. Di pusat keramaian Senen, di malam hari, saat kita makan, banyak pengemis, diantaranya anak-anak, siap menunggu. Mereka akan menyerbu sisa-sisa makanan kita.

Wartawan Muchtar Lubis yang menginjak kakinya pertama kali di Jakarta pada tahun 1940, menulis, ”Sungguh nyaman kota Jakarta di masa itu. Pinggir jalan penuh dengan pohon-pohon asam, johar dan berbagai pepohonan lainnya, memberi naungan dan perlindungan di waktu panas terik.”

Walaupun hidup sangat sederhana, mandi di kali (ngebak) saat saya kecil sangat nikmat. Airnya jernih dan dalam. Sungai-sungai masih lebar dan belum tercemar seperti sekarang. Kendaraan umum kala itu didominasi trem yang menggelinding di hampir segenap penjuru Jakarta. Bayarnya juga murah, hanya 10 sen. Untuk anak sekolah, bila berlangganan, cukup bayar setengah harga. Sayangnya, merasa negaranya sudah merdeka banyak orang yang naik trem tidak mau membayar. Kalau ditanya, jawabnya, ”numpang”. Seperti juga sekarang, banyak yang tidak membeli karcis ketika naik KRL.

Jangan dikata suasana politik kala itu. Dalam demokrasi parlementer yang oleh Bung Karno dicemooh sebagai free fight liberation, partai-partai saling cakar dan jegal-jegalan. Krisis kabinet, kata Bung Karno, seperti dagangan kue, dagangan kacang goreng. Antara 1950-1959 Indonesia mengalami 17 kali krisis kabinet yang rata-rata sekali tiap 8 bulan.

Polemik dan caci maki terjadi di surat-surat kabar yang kala itu rata-rata terbit tidak lebih dari empat halaman. Yang perlu diacungi jempol adalah kesetian orang untuk membaca koran dari partai yang mereka minati, seperti Abadi (Masyumi), Harian Rakyat (PKI), Suluh Indonesia (PNI), Duta Masyarakat (NU), Pedoman dan Keng Po (PSI), serta Bintang Timur (berhaluan kiri). Bahkan, partai-partai kecil pun kala itu juga memiliki media sendiri, seperti Berita Indonesia (Partai Murba) dan Sin Po (Baperki).

Meskipun zaman susah, bagi orang-orang berkantong tebal terdapat sejumlah tempat hiburan. Seperti, di Princen Park (kini Lokasari di Mangga Besar) terdapat tempat untuk mereka berdansa-dansi. Demikian pula Hotel des Indes (kini pertokoan Duta Merlin) banyak didatangi korps diplomatik yang juga membuka kantor di sini. Di samping bioskop Capitol (kini jadi pertokoan) depan Masjid Istiqlal, juga terdapat restaurant dan tempat hiburan. Di Citadel Weg (kini Jl Veteran I), terdapat tempat hiburan Black Cat yang pada masa Belanda khusus untuk mereka.

Di Restoran Airport Kemayoran, grup musik Koes Plus kala itu sering manggung. Tapi, rupanya Bung Karno kurang menyukai musik ngak ngak ngok ini. Dia bukan saja melarang, bahkan pernah memenjarakan mereka. Sementara, pertokoan yang paling bergengsi kala itu adalah Pasar Baru dan Glodok. Kedua kawasan pertokoan itu pernah menjadi black market penjualan uang dolar dan mata uang asing lainnya.

Kala itu belum dikenal istilah dangdut dengan goyangannya yang erotis. Sementara, para penyanyinya saling rebutan untuk tampil seksi. Maklum, artis yang tidak berani buka-bukaan sulit bisa laku. Saat itu para wanita berpakaian sangat sopan, termasuk penyanyi-penyanyi orkes Melayu. Mereka memakai konde dua yang disebut konde berunding. Sedangkan gadis-gadis rambutnya dikepang dan belum ada yang nglayap ke mal-mala yang kala itu belum nongol.

 

REPUBLIKA – Minggu, 03 Juni 2007

Menjelang bulan suci Ramadhan, Pasar Tanah Abang tiap hari didatangi ribuan pembeli. Bukan hanya dari Jakarta dan sekitarnya, tapi dari berbagai Nusantara, bahkan pedagang dan pembeli dari luar negeri mendatangi pasar yang sudah berusia 272 tahun.

Kalau sekarang kita harus bersusah payah memasuki pasar yang dibangun Yustinus Vink (1735), seorang anggota Dewan Hindia Belanda, tidak demikian pada saat-saat pasar tersebut mulai beroperasi. Setidaknya terlihat dari foto hasil jepreten Jacobus Anthonie Meessen (September 1867), memperlihatkan Jalan Fachruddin (masa Belanda bernama Tanah Abang Barat) terletak di pinggiran pasar yang dibangun bersamaan Pasar Senen. Tanah Abang, punya riwayat sejarah panjang.

Bahkan beberapa tahun sebelum dibangunnya pasar, balatentara Mataram pimpinan Sultan Agung ketika menyerbu Batavia (1628) pasukannya bermarkas di Tanah Abang. Karena tanahnya merah (abang), askar-askar Mataram menyebutnya Tanah Abang, nama yang hingga kini masih tidak berubah.

Sementara Kapiten Cina kedua Phoa Beng Koan , yang memiliki perkebunan luas di Tanah Abang kemudian membangun kanal yang kini tersisa sebagai got besar . Dari kanal yang menyambung hingga Molenvliet (Harmoni), kapiten yang sangat tajir ini menyuplai hasil-hasil pertanian miliknya ke pusat kota (kala itu di sekitar Pasar Ikan, Jakarta Utara). Tanah Abang kala itu menghasilkan gula dalam jumlah besar, kayu jati, minyak kacang, jahe, minyak melati, dan kelapa. Sampai sekarang di bekas perkebunan masih jadi nama kampung. Seperti Kebun Kacang, Kebun Jahe, Kebun Melati, dan Kebun Jati nama kampung yang menuju ke Jati Petamburan. Banyak orang Tionghoa tinggal di sekitar Tanah Abang setelah terjadi peristiwa pembantaian kejam terhadap mereka oleh kompeni yang berpusat di Glodok, Jakarta Barat.

Anthonie mengabadikan foto ini dari perempatan Jalan Abdul Muis dan Jl Kebon Sirih Raya. Di ujung di antara pepohonan yang rindang tampak Tanah Abang Bukit dan di sebelahnya (tidak tampak) adalah Pasar Tanah Abang. Dua buah sado yang memiliki cungkup untuk tempat kusir berteduh tampak tengah membawa dagangan dari pasar ke pusat kota (Pasar Ikan).

Mereka umumnya datang dari daerah Palmerah dan Kebayoran yang masih hutan. Di sado inilah si kusir harus bermalam selama perjalanannya yang memakan waktu berjam-jam. Saat itu listrik belum ada. Penerangan di jalan raya masih menggunakan lampu gas yang baru menyala menjelang malam. Belanda pada akhir abad ke-19 membangun pabrik gas di Gang Ketapang (kini Jl KH Zainul Arifin), yang hingga kini masih berfungsi.

Pasar Tanah Abang dan kembarannya Pasar Senen kini berkembang pesat, saling menyaingi. Khusus di Tanah Abang, akibat pesatnya perkembangan pasar ke daerah-daerah sekitar membuat harga tanah di sini menjadi sangat mahal. Konon, saat ini kios di Pasar Tanah Abang harganya bisa menyaingi pusat saham Wall Street di New York, Amerika Serikat.

 

REPUBLIKA – Sabtu, 01 September 2007

Serpong kini masuk wilayah Tangerang, Propinsi Banten. Nama Serpong makin kesohor sejak dibangunnya kota mandiri Bumi Serpong Damai (BSD). Tiba-tiba daerah yang semula agak terpencil kini menjadi daerah elite. Puluhan tempat hiburan, mal, pusat keramaian bermunculan di BSD. Belum lagi rumah-rumah mewah yang harganya mencapai miliaran rupiah.

Sebelum ada BSD, Habibie ketika menjabat Menristek memanfaatkan kawasan, yang oleh orang kota dulu disebut daerah udik, itu untuk Puspitek atawa Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Entah dari mana nama serpong, tapi nama itu berdekatan dengan kata semprong pipa bulat yang digunakan untuk meniup api ketika ibu-ibu sedang memasak dengan bahan bakar kayu atau arang.

Serpong punya sejarah yang patriotik. Di sini ada Makam Pahlawam Seribu. Dinamakan demikian karena di tempat ini dimakamkan secara massal para pejuang rakyat yang tewas dalam pertempuram melawan NICA (Belanda) saat rervolusi fisik 1945 berkecamuk. Sebelum masuk wilayah Banten, Serpong pernah diusulkan untuk menjadi ibukota kabupaten Tangerang.

Nama Manggarai lebih banyak dikenal setelah pemerintah kolonial membangun stasion kereta api. Sebelumnya, kawasan ini lebih dikenal dengan nama Pasar Rumput, karena pada masa kolonial merupakan pusat penjualan rumput di Batavia. Maklum, ketika itu angkutan yang mendominasi kota adalah delman dan sado. Di Jalan Sultan Agung  salah satu pusat perdagangan di Manggarai terdapat markas CPM Guntur.

Pada masa Bung Karno banyak tahanan politik yang dipenjarakan di markas CPM Guntur. Konon, markas CPM itu dulunya adalah tempat para pedagang rumput berjualan. Di situ juga terdapat kobongan tempat kuda-kuda makan dan minum. Nama, Manggarai berasal dari nama-nama budak belian yang ditempatkan pemerintah kolonial. Budak-budak itu berasal dari Manggarai, Flores.

Pada masa Belanda, Jalan Sultan Agung menjadi salah satu pusat penjualan sepeda di Jakarta, bernama Jan Pieterzoon Coen Weg untuk mengabadikan pendiri kota Batavia. Penggantian nama menjadi Jl Sultan Agung setelah kemerdekaan sangat tepat, karena sultan dari Kerajaan Islam Mataram itu dikenal sangat membenci Belanda. Dia dua kali dia menyerang Batavia pada 1628 dan 1629. Sekalipun gagal tapi cukup merepotkan penjajah.

Berdekatan dengan Manggarai terletak Kampung Bukitduri. Belanda dulu sengaja menjadikan kampung ini sebagai koridor untuk daerah Menteng yang jadi hunian orang-orang Belanda. Koridor itu dibuat Belanda untuk mencegah masuknya penyakit dari luar ke Menteng. Maklum, penduduk Bukit Duri umumnya orang kampung. Belanda paling tidak senang pada orang kampung.

Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), banyak kekejaman yang dilakukan oleh tentara Dai Nippon. Jepang tidak hanya pernah digugat oleh Korea dan Cina. Indonesia, tidak terkecuali, pernah melakukan gugatan. Terutama soal wanita-wanita Asia yang pernah dijadikan budak seks oleh balatentara Dai Nippon.

Lepas dari ulah tentara Jepang, sejak awal pemerintahan VOC, bila kapal-kapal VOC mendarat para awak kapal, terutama dalam pelayaran berbulan-bulan dari Eropa, menumpahkan kerinduan mereka kepada para WTS, yang sekarang diperhalus bahasanya menjadi PSK (Pekerja Seks Komersial). Karena itu, sejak dulu sudah dikenal penyakit ‘raja singa’ yang membuat pelakunya menjadi pehong.

Maklum, kala itu penicilin belum ditemukan. Tapi, sekarang, walau pengobatan jauh lebih canggih, ada penyakit yang lebih menakutkan, yakni HIV/AIDS.

Menurut budayawan Betawi, Ridwan Saidi, sejak abad ke-19, Gang Mangga, dekat Gereja Portugis, Jakarta Barat, tersohor sebagai tempat pelacuran. Maklum, kala itu di depan stasion kereta api Beos (Jakarta Kota) berderet-deret bangunan hotel. Kalangan Taipan menyebut Gang Mangga sebagai Macao Po. Karena, para kupu-kupu malam didatangkan dari koloni Inggris, Macao.

Di samping sisi gelap selama pendudukan Jepang tiga setengah tahun, Jepang berperan dalam mengindonesiakan nama-nama dan langsung melarang nama-nama Belanda. Nama Batavia diganti Jakarta. Buitenzorg menjadi Bogor. Cherebon menjadi Cirebon dan Meester Cornelis jadi Jatinegara.

Di Jakarta banyak nama kampung berdasarkan etnis dari penduduknya. Dulu, Belanda memang mengelompokkan mereka dalam satu tempat. Seperti Kampung Ambon, merupakan nama tempat di Rawamangun, Jakarta Timur. Nama ini sudah ada sejak awal berdirinya VOC (1619).

Pada waktu itu gubernur jenderal JP Coen menghadapi persaingan dengan Inggris. Untuk memperkuat angkatan perang VOC, Coen pergi ke Ambon. Pasukan Ambon yang dibawanya dimukimkan di suatu lahan kosong di selatan kota Batavia, yang kemudian hingga kini dikenal sebagai Kampung Ambon.

Di wilayah DKI juga terdapat beberapa kampung yang menyandang nama Kampung Bali, karena pada abad ke-17 atau 18 dijadikan pemukiman orang Bali, yang masing-masing dipimpin oleh seorang pemimpin kelompok etnisnya. Untuk membedakan satu sama lainnya, dewasa ini biasa dilengkapi dengan nama kawasan tertentu yang berdekatan, yang cukup banyak dikenal. Seperti, di Jatinegara terdapat Kampung Balimester, sekalipun sekarang ini sulit ditemukan orang Bali. Perkampungan ini berdiri sejak 1667.

Di sebelah barat Jl Gajah Mada terletak Kampung Bali Krukut. Kampung Bali Angke sekarang jadi Kelurahan Angke, Jakarta Barat. Di sana terdapat masjid tua yang dibangun pada 2 April 1761. Rupanya orang-orang Bali yang dulunya merupakan budak belian kemudian banyak yang memeluk agama Islam.

 

REPUBLIKA – Minggu, 27 Mei 2007

Ulang tahun kemerdekaan berlangsung meriah. Lagu kebangsaan Indonesia Raya bukan saja dikumandangkan dalam acara kenegaraan di halaman Istana Merdeka, tapi juga di pelosok tanah air. Demikian juga Sang Saka Merah Putih dikibarkan dari Sabang sampai Merauke sebagai tekad bangsa Indonesia bahwa Negara Kesatuan RI tidak bisa di tawar-tawar lagi dan rakyat siap menghadapi mereka yang ingin memisahkan diri.

Karena itu sangat disayangkan menjelang 17 Agustus 2007, sejumlah wilayah di Aceh melakukan aksi penurunan bendera Kebangsaan yang merupakan simbol negara. Padahal sejauh ini pemerintah telah banyak melakukan perbaikan bagi kesejahteraan rakyat Aceh. Karena itu, tidak heran Kepala Staf TNI AD Jenderal Djoko Santoso menegaskan, penurunan 150 bendera merah putih di Aceh adalah tindakan pelecehan kedaulatan RI. Harus ada tindakan hukum sesuai dengan aturan yang berlaku bagi mereka yang terlibat, katanya.

Padahal semangat kebangsaan dan persatuan telah dikumandangkan sejak 79 tahun lalu, ketika para pemuda dari segenap tanah air menyatakan sumpah pemuda Satu Bangsa, Satu Negara dan Satu Bahasa. Di tempat yang kini menjadi Museum Sumpah Pemuda, Jl Kramat Raya 106, Jakarta Pusat, untuk pertama kali lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan.

Seperti terlihat dalam diorama yang terdapat di gedung museum tersebut, terlihat penciptamya Wage Rudolf Soepratman dengan gesekan biolanya tengah mengumandangkan ”Indonesia Raya”. Sementara para pengurus yang terdiri dari enam orang pemuda dengan penuh minat tengah mendengarkannya. Karena diorama dibuatsetelah gedung ini dijadikan museum pada 1972, di tembok sebelah kiri terlihat lagu Indonesia Raya yang terdiri dari tiga stanza (bait).

Sedangkan di depannya terdapat ikrar Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Ikrar tersebut dicetuskan di ruang tengah museum Sumpah Pemuda dihadiri 81 pemudi dan mahasiswa. Sejak 1928, lagu Indonesia Raya telah berkumandang di berbagai tempat. Ketika Ir Soekarno memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, ratusan hadirin yang hadir tanpa bimbingan diringen serentak menyanyikan lagu Indonesia Raya ketika Sang Saka Merah Putih dikibarkan, yang kini menjadi Bendera Pusaka.

Lahirnya Sumpah Pemuda dirintas sejak tahun 1920′an ketika timbul gagasan dari Bahder Djohan dan Mohammad Hatta untuk mempersatukan perkumpulan-perkumpulan pemuda yang ada di Batavia. Kemudian pada 1921, dirintis upaya mempersatukan Jong Java dengan Jong Sumatera. Semangat inilah yang menjadi modal terselenggaranya Kongres Pemuda Indonesia I (1925) yang kemudian dilanjutkan Kongres Pemuda II (1928). Gedung tempat Sumpah Pemuda 1928 adalah Indonesische Clubgebouw yang dijadikan sebagai tempat berkumpul, berdiskusi dan saling berkomunikasi para pemuda dari seluruh Indonesia yang bersekolah atau kuliah di Batavia.

 

REPUBLIKA – Sabtu, 18 Agustus 2007

Tulisan Sebelumnya »