Feeds:
Pos
Komentar

Kawasan Prancis di Harmoni

Deretan gedung yang sebagian masih tersisa sekarang merupakan kawasan Harmoni, Jakarta Pusat. Foto ini diabadikan pada akhir abad ke-19 saat Batavia hanya berpenduduk 116 ribu jiwa. Tidak hanya tingkat kependudukan di lingkungan orang Eropa yang rendah, tapi suasana serupa juga terdapat di perbatasan bagian selatan kota yang kala itu tidak melampaui Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Kala itu, Batavia sebagai ibu kota koloni Hindia Belanda lebih bersuasana pedesaan dibandingkan kota industri dan pelabuhan Surabaya yang berpenduduk 147 ribu jiwa dan berirama hidup lebih cepat.

Dewasa ini, kita harus bersusah payah berkendaraan dari Harmoni (kini Jalan Majapahit) ke Glodok melewati Jalan Gajah Mada (dulu Molenvliet West) akibat macetnya yang kagak ketolongan. Namun, dalam foto, betapa lengangnya jalan ketika itu. Harmoni berdekatan dengan Monas yang pada masa Prancis dijuluki Champs de Mars. Lalu, berganti jadi Koningsplein (Lapangan Raja) saat kekuasaan Belanda dipulihkan. Tapi, rakyat menyebutnya Lapangan Gambir.

Berkat kekuasaan Prancis (1808-1812), Batavia memiliki daerah Prancis, termasuk kawasan Harmoni. Warga Prancis juga tinggal di Risjwijk Straat (berasal dari kata risjk (persawahan) dan wijk (lapangan luas)). Kala itu, Risjwijk merupakan daerah pinggiran Saint Honore Kota Batavia.

Di paling ujung deretan pertokoan, terdapat penjahit terkenal Oger Freres (Oger Bersaudara). Di sini, orang bisa mendapatkan busana mengikuti model terbaru dari Paris (gedungnya kini ditempati oleh Biro Perjalanan Natour). Menurut pengarang Prancis, Bernard Dorleans, dalam buku Orang Prancis dan Orang Indonesia Abad XVI sampai XX, di Harmoni dan sekitarnya pada masa itu, masyarakat dapat membeli kue, sepatu, dan berbagai barang yang berasal dari Prancis. Di dekatnya, terdapat Hotel des Indes yang pada abad ke-19 muncul makanan risttafel yang termasyhur, yang sehari-hari jadi makanan orang Eropa.

Beberapa puluh tahun kemudian, abad ke-20, yang dikenal sebagai zaman keemasan oleh orang Eropa sebagai zaman tempo doeloe. Di ujung jembatan Harmoni yang berbelok ke arah Jalan Juanda dan Jalan Veteran, terdapat patung Hermes, dewa perniagaan Yunani, yang menunjukkan daerah ini sebagai pusat perdagangan dan perniagaan. Karena pernah dicuri, duplikat patung itu kini disimpan di Museum Sejarah DKI Jakarta.

Charles Worter, seorang wisatawan Inggris yang bertamasya ke Batavia (1852), menyebutkan, kehidupan elite Eropa dan Belanda penuh glamour. Wanitanya senang menggunakan dari sutra yang didatangkan dari pusat mode Paris.

REPUBLIKA – Sabtu, 17 Oktober 2009

Penyebaran Islam di Betawi

Sejarawan keturunan Jerman, Adolf Heuken SJ, dalam buku Masjid-masjid Tua di Jakarta, menulis tiada masjid di Jakarta sekarang ini yang diketahui sebelum 1640-an. Dia menyebutkan Masjid Al-Anshor di Jl Pengukiran II, Glodok, Jakarta Kota, sebagai masjid tertua yang sampai kini masih berdiri. Masjid ini dibangun oleh orang Moor artinya pedagang Islam dari Koja (India).

Sejarah juga mencatat pada Mei 1619, ketika VOC menghancurkan Keraton Jayakarta, termasuk sebuah masjid di kawasannya. Letak masjid ini beberapa puluh meter di selatan Hotel Omni Batavia, di antara Jl Kali Besar Barat dan Jl Roa Malaka Utara, Jakarta Kota.

Untuk mengetahui sejak kapan penyebaran Islam di Jakarta, menurut budayawan dan politisi Betawi, Ridwan Saidi, bisa dirunut dari berdirinya Pesantren Quro di Karawang pada tahun 1418. Syekh Quro, atau Syekh Hasanuddin, berasal dari Kamboja. Mula-mula maksud kedatangannya ke Jawa untuk berdakwah di Jawa Timur, namun ketika singgah di pelabuhan Karawang, Syekh urung meneruskan perjalanannya ke timur. Ia menikah dengan seorang gadis Karawang, dan membangun pesantren di Quro.

Makam Syekh Quro di Karawang sampai kini masih banyak diziarahi orang. Di kemudian hari, seorang santri pesantren itu, yakni Nyai Subang Larang, dipersunting Prabu Siliwangi. Dari perkawinan ini lahirlah Kean Santang yang kelak menjadi penyebar Islam. Banyak warga Betawi yang menjadi pengikutnya.

Menurut Ridwan Saidi, di kalangan penganut agama lokal, mereka yang beragama Islam disebut sebagai kaum langgara, sebagai orang yang melanggar adat istiadat leluhur dan tempat berkumpulnya disebut langgar. Sampai sekarang warga Betawi umumnya menyebut mushola dengan langgar. Sebagian besar masjid tua yang masih berdiri sekarang ini, seperti diuraikan Heuken, dulunya adalah langgar.

Menelusuri awal penyebaran Islam di Betawi dan sekitarnya (1418-1527), Ridwan menyebutkan sejumlah tokoh penyebarnya, seperti Syekh Quro, Kean Santang, Pangeran Syarif Lubang Buaya, Pangeran Papak, Dato Tanjung Kait, Kumpo Datuk Depok, Dato Tonggara, Dato Ibrahim Condet, dan Dato Biru Rawabangke.

Pada awalnya penyebaran Islam di Jakarta mendapat tantangan keras, terutama dari bangsawan Pajajaran dan para resi. Menurut naskah kuno Carios Parahiyangan, penyebaran Islam di bumi Nusa Kalapa (sebutan Jakarta ketika itu) diwarnai dengan 15 peperangan. Peperangan di pihak Islam dipimpin oleh dato-dato, dan di pihak agama lokal, agama Buwun dan Sunda Wiwitan, dipimpin oleh Prabu Surawisesa, yang bertahta sejak 1521, yang dibantu para resi.

Bentuk perlawanan para resi terhadap Islam ketika itu adalah fisik melalui peperangan, atau mengadu ilmu. Karena itulah saat itu penyebar Islam umumnya memiliki ‘ilmu’ yang dinamakan elmu penemu jampe pemake. Dato-dato umumnya menganut tarekat. Karena itulah banyak resi yang akhirnya takluk dan masuk Islam. Ridwan mencontohkan rersi Balung Tunggal, yang dimakamkan di Bale Kambang (Condet, Kramatjati, Jakarta Timur).

Prabu Surawisesa sendiri akhirnya masuk Islam dan menikah dengan Kiranawati. Kiranawati wafat tahun 1579, dimakamkan di Ratu Jaya, Depok. Sesudah masuk Islam, Surawisesa dikenal sebagai Sanghyang. Ia dimakamkan di Sodong, di luar komplek Jatinegara Kaum. Ajaran tarekat dato-dato kemudian menjadi ‘isi’ aliran maen pukulan syahbandar yang dibangun oleh Wa Item. Wa Item adalah syahbandar pelabuhan Sunda Kalapa yang tewas ketika terjadi penyerbuan oleh pasukan luar yang dipimpin Falatehan (1527).

Selain itu juga ada perlawanan intelektual yang berbasis di Desa Pager Resi Cibinong, dipimpin Buyut Nyai Dawit yang menulis syair perlawanan berjudul Sanghyang Sikshakanda Ng Kareyan (1518). Sementara, di Lemah Abang, Kabupaten Bekasi, terdapat seorang resi yang melakukan perlawanan terhadap Islam melalui ajaran-ajarannya yang menyimpang. Resi ini menyebut dirinya sebagai Syekh Lemah Abang, atau Syekh Siti Jenar. Tantangan yang demikian berat mendorong tumbuhnya tradisi intelektual Betawi.

Seperti dituturkan Ridwan Saidi, intelektualitas Islam yang bersinar di masyarakat Betawi bermula pada abad ke-19 dengan tokoh-tokoh Guru Safiyan atau Guru Cit, pelanjut kakeknya yang mendirikan Langgar Tinggi di Pecenongan, Jakarta Pusat.

Pada pertengahan abad ke-19 hingga abad ke-20 terdapat sejumlah sentra intelektual Islam di Betawi. Seperti sentra Pekojan, Jakarta Barat, yang banyak menghasilkan intelektual Islam. Di sini lahir Syekh Djuned Al-Betawi yang kemudian menjadi mukimin di Mekah. Di sini juga lahir Habib Usman Bin Yahya, yang mengarang puluhan kitab dan pernah menjadi mufti Betawi.

Kemudian, sentra Mester (Jatinegara), dengan tokoh Guru Mujitaba, yang mempunyai istri di Bukit Duri. Karena itulah ia secara teratur pulang ke Betawi. Guru Mujitaba selalu membawakitab-kitab terbitan Timur Tengah bila ke Betawi. Dia punya hubungan dengan Guru Marzuki Cipinang, yang melahirkan sejumlah ulama terkemuka, seperti KH Nur Ali, KH Abdullah Syafi’ie, dan KH Tohir Rohili.

Juga, sentra Tanah Abang, yang dipimpin oleh Al-Misri. Salah seorang cucunya adalah Habib Usman, yang mendirikan percetakan 1900. Sebelumnya, Habib Usman hanya menempelkan lembar demi lembar tulisannya pada dinding Masjid Petamburan. Lembaran itu setiap hari digantinya sehingga selesai sebuah karangan. Jamaah membacanya secara bergiliran di masjid tersebut sambil berdiri.

REPUBLIKA – Ahad, 25 November 2007

Jalan Veteran (Rijswijk) tempat Istana Negara berada di masa kolonial merupakan kawasan elite. Di seberang Jl Veteran yang dibelah dengan Kali Ciliwung terdapat Jl Juanda (Noordwijk). Di ujung kedua jalan tersebut terdapat kawasan Harmoni. Di ketiga tempat tersebut pada masa kolonial terdapat belasan hotel. Salah satunya adalah Hotel Wisse di Rijswijk seperti terlihat dalam foto. Foto yang diabadikan sekitar 1870-an terlihat satu keluarga tamu tengah meninggalkan hotel menggunakan delman, angkutan utama kala itu. Terlihat beberapa pegawai hotel yang berpakaian putih-putih dengan peci (semacam helm) warna yang sama.

Di samping kanan, terlihat beberapa kereta, satu di antaranya ditarik dua ekor kuda yang siap untuk membawa para tamu. Ketika itu, Batavia belum memiliki mobil. Di samping Hotel Wisse, di Rijswijk terdapat sejumlah hotel lainnya, seperti Hotel Cavadino di sudut Jl Veteran dan Jl Veteran I (kala itu Citadelweg), Java Hotel yang kini menjadi bagian belakang Markas Besar Angkatan Darat, Hotel Ernst di Noordwijk (Juanda), Hotel des Indes di Harmoni (kini Jl Gajah Mada).

Hotel Wisse diperkirakan letaknya di bagian belakang dari Departemen Dalam Negeri. Di Rijswijk bersebelahan Istana Merdeka, juga terdapat Hotel der Nederlanden yang kini menjadi gedung Bina Graha. Di samping kiri gedung Harmoni, terdapat sebuah hotel mewah milik keturunan Arab dari keluarga Sungkar. Sedangkan di ujung Jl Juanda dari arah Jl Hayam Wuruk terdapat Hotel Gayatri, juga milik seorang Arab.

Pada akhir abad ke-19 ketika negeri Belanda dikuasai kaum liberal (kapitalis), makin banyak warga Belanda dan Eropa berdatangan ke Batavia untuk menanamkan modalnya di bidang perkebunan. Kalau sebelumnya pusat pemerintahan di kawasan Jakarta Kota, kini beralih ke Weltevreden (Daerah Lebih Nyaman).

Boleh dikata Batavia mengalami transfusi cukup besar dari para pendatang Eropa, yang menanamkan modal dan usahanya. Rijswijk dan Noordwijk pun dijadikan sebagai kawasan Eropa. Warga Prancis banyak berdiam di sekitar Harmoni dan Inggris di Pegangsaan. Sementara berbagai tempat hiburan, seperti bioskop, teater, dan gedung pertemuan bermunculan. Semua dengan ciri-ciri Eropa yang modern. Kala itu, pendatang-pendatang Inggris dari Singapura menganggap Batavia-Weltevreden cukup baik jika dibandingkan koloninya, Singapura.

REPUBLIKA – Sabtu, 10 Oktober 2009

Hukuman Mati di Betawi

Adanya hukuman mati di Indonesia lebih dipertegas lagi dengan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menyatakan tidak bertentangan dengan UUD 45. Khususnya terhadap pelaku kejahatan narkotika, sebanyak 62 orang telah divonis hukuman mati. Belum lagi terhadap kasus terorisme dan berbagai kejahatan lainnya.

Sayangnya, banyak koruptor yang jelas-jelas menilep uang rakyat se-abrek-abrek tidak mendapat hukuman keras. Bahkan, seorang yang dituduh melakukan pembalakan hutan di Sumut divonis bebas oleh majelis hakim, sementara maling ayam dihukum berat. Hukuman mati bukan hal baru bagi Indonesia. Sejak masa kompeni empat abad lalu hukuman ini telah melayangkan banyak nyawa. Bahkan jauh sebelumnya, di masa-masa kerajaan, hukuman mati telah dilaksanakan.

Tapi, siapa yang mulai dihukum mati pada zaman VOC? Yang jelas gubernur jenderal JP Coen pernah memancung seorang calon perwira muda VOC bernama Pieter Contenhoef di alun-alun Balai Kota (Stadhuis), kini Museum Sejarah Jakarta.

Pasalnya, pemuda berusia 17 tahun itu tertangkap basah saat ‘bermesrahan’ dengan Sara, gadis berusia 13 tahun yang dititipkan di rumah Coen. Sara sendiri, didera dengan badan setengah telanjang di pintu masuk Balai Kota. Sara adalah puteri Jacquees Speex dari hasil kumpul kebonya dengan wanita Jepang.

Pada 29 Juli 1676 di tempat yang sama dilaksanakan hukuman terhadap empat orang pelaut karena membunuh orang Cina. Kemudian, hampir dalam waktu bersamaan enam budak belian dipatahkan tubuhnya dengan roda karena dituduh mencekik majikannya pada malam hari.

Pada masa kompeni hukuman bagi ‘penjahat’ memang berat. Pelaksanaan hukuman mati pada tiang gantungan, dengan pedang atau guillotine primitif, dilaksanakan di depan serambi Balai Kota pada hari-hari tertentu setiap bulan. Seorang Mestizo, putra seorang ibu pribumi dan ayah berkulit putih, digantung hanya karena mencuri. Sementara delapan pelaut dicap dengan lambang VOC yang panas dan membara, karena disersi dan pencurian.

Prajurit VOC wajib memiliki disiplin yang tinggi. Mereka yang melalaikan tugas tidak ampun lagi akan mendapatkan hukuman berat. Pernah dua tentara Belanda digantung karena selama dua malam meninggalkan pos mereka. Perzinahan, apalagi perbuatan serong, mendapat hukuman berat. Ini dialami oleh seorang wanita Belanda, istri seorang guru, dikalungi besi dan kemudian ditahan dalam penjara wanita selama 12 tahun karena beberapa kali melakukan perselingkuhan.

Kalau sekarang ini eksekusi dengan tembak sampai mati tidak akan dilakukan di muka umum, dulu saat guilletin masih berlaku, masyarakat diminta untuk mendatangi tempat eksekusi. Menyaksikan bagaimana kepala terpisah dari badan. Untung Suropati lolos dari eksekusi karena dibantu oleh Suzanna, puteri majikannya yang menaruh hati pada budak dari Bali ini. Malah Untung berhasil membunuh Kapten Tack, ketika hendak menumpas pemberontakan yang dipimpinnya.

Prasasti Kapten Tack dapat kita saksikan di Museum Prasasti di Jl Tanah Abang I, Jakarta Pusat. Pieter Elberveld dan beberapa orang pengikutnya yang dituduh hendak melakukan pemberontakan menjelang malam tahun baru 1722 juga dieksekusi secara kejam. Badannya dirobek jadi empat bagian kemudian dilempar keluar kota untuk santapan burung. Kita juga dapat menjumpai prasastinya di Museum Prasasti.

Oey Tambahsia, yang dijuluki playboy Betawi, pada abad ke-19 juga tewas di tiang gantungan. Dia tidak pernah puas terhadap wanita, selalu mengejar wanita tidak peduli anak dan istri orang. Padahal, ia masih remaja. Termasuk melakukan pembunuhan terhadap sejumlah wanita dan pesaing bisnisnya. Oey menaiki tiang gantungan dengan tenang dan wajah berseri dalam usia 31 tahun. Kepada sang algojo dia berkata: ”Dikantongku ada sejumlah uang. Ambillah asal kau tidak terlalu kejam menghukumku.”

Pada 1963, Bung Karno menandatangi hukuman mati terhadap pemimpin DI/TII Kartosuwirjo yang melakukan pemberontakan di Jawa Barat. Menurut keterangan, sebelum menandatanganinya, Bung Karno terlebih dulu shalat Magrib dan berdoa. Eksekusi itu kemudian dilakukan di Pulau Onrust (Kepulauan Seribu).

Penjahat kelas kakap yang dijatuhi hukuman mati pada masa Bung Karno adalah Kusni Kasdut. Dia merampok di tempat perhiasan emas di Museum Nasional, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Ketika peristiwa kejahatan ini terjadi, Monas dengan menaranya yang menjulang sedang dibangun. Hingga ada yang secara iseng mengusulkan, penjahat kelas kakap sebaiknya dihukum dengan melemparnya dari menara Monas.

Dalam peristiwa Cikini usaha pembunuhan terhadap Bung Karno para pelakunya juga dituntut hukuman mati. Mereka adalah Saadon, Tasrif dan Yusuf Ismail. Saat ini, dalam kasus terorisme, tiga orang divonis mati, yakni Imam Samudera, Amrozi dan Ali Gufran. Sejauh ini mereka menolak untuk meminta grasi kepada presiden. Dalam kasus kejahatan narkotika, PN Tangerang perlu diacungi jempol. Merekalah yang paling getol menuntut hukuman mati terhadap bandar dan penjahat pengedar narkoba.

Dari 62 kejahatan narkoba yang di vonis mati, 21 orang divonis oleh PN Tangerang. Di antaranya enam orang wanita. Diantara mereka terdapat warganegara Nigeria, Thailand, Angola, Zimbabwe, Malawi, Pakistan dan Belanda.

REPUBLIKA – Ahad, 18 November 2007

Gang Secretarie (kini Jalan Veteran III), Jakarta Pusat, awalnya merupakan tempat sekretariat yang melayani kegiatan gubernur jenderal Hindia Belanda, seperti layaknya Sekretariat Negara sekarang. Gedung tempat melayani kepentingan pemerintahan kolonial (tidak tampak dalam foto), terletak di bagian depan sebelah kanan. Gedung ini kemudian menjadi Hotel der Nederlanden (1846), sebuah hotel megah kedua setelah Des Indes Hotel. Sebelumnya (1840), bernama Hotel Royale. Setelah kemerdekaan (1950), karena berbau kolonial namanya diubah menjadi Hotel Dharma Nirmala.

Presiden Soekarno yang berdiam di Istana (sebelah hotel tersebut), untuk kepentingan keamanan kemudian menjadikannya sebagai markas Tjakrabirawa, pasukan khusus pengawal presiden dan keluarganya. Pada 1969, ketika pasukan pengawal khusus Tjakrabirawa dibubarkan Presiden Soeharto, gedung itu dijadikan sebagai kantor Bina Graha, salah satu tempat kerja kepresidenan sehari-hari.

Menurut sejarawan Belanda awal abad ke-20, de Haan, keberadaan jalan ini dimulai ketika pada tahun 1794, seorang tuan tanah kaya raya, Pieter Tency, pada 1794 membangun gedung mewah di petak tanah yang memanjang dari Jalan Veteran sampai Medan Merdeka Utara. Mencakup tanah yang kini berdiri Gedung Harmoni (kini bagian dari Setneg setelah dibongkar), Istana Negara, dan Istana Merdeka.

Dalam foto, terlihat jalan-jalan yang belum beraspal berdiri penerangan yang kala itu masih gas dan hanya dipasang sejak sore hari. Gang Secretarie (masyarakat seketre), merupakan daerah elite yang disukai karena di kiri kanan dipenuhi pepohonan. Kemudian, seluruh rumah telah dirubuhkan dan daerah ini merupakan bagian dari Istana Kepresidenan. Di tempat ini, terletak Gedung DPA (Dewan Pertimbangan Agung), badan negara tertinggi yang kini sudah tidak berfungsi lagi. Di ujung Gang Secretarie, berhadapan dengan lapangan Monas, terdapat gedung MA (Mahkamah Agung).

Sampai awal 1960, di Jalan Veteran III masih terdapat beberapa perusahaan dan pertokoan, sebelum dijadikan tempat kegiatan kepresidenan. Berseberangan dengan Bina Graha, terdapat Gedung American Motion Picture Association of Importers (Asosiasi para importir film AS), yang memasok film-film dari negara Uncle Sam ke Indonesia. Ketika kelompok kiri melakukan aksi boikot terhadap film-film AS dan Barat, pada Maret 1965 gedung ini dibakar. Di tempat ini, kemudian kembali dibangun Sekretariat Negara.

REPUBLIKA – Sabtu, 03 Oktober 2009

Pamor Arab Singapura

Ketika berada di Kampung Glam, Singapura, saya masih merasakan suasana Timur Tengah. Menjelajahi jalan-jalan berapit pohon palem di Bussorah Street, Arab Street dan Muscat Street, kita akan temukan toko-toko, kafe dan pusat jajanan, yang menjual berbagai produk, mulai dari produk khas Bali, batik pekalongan, karpet aneka warna, sampai nasi briyani dengan gulai kambingnya khas Timur Tengah.

Pada malam hari, di kawasan Kampung Glam termasuk Haji Lane kita dapat berjingkrak-jingkrak mengikuti irama zapin yang penggemarnya bukan hanya keturunan Arab, tapi juga India. Seperti juga yang sudah menjadi trend di rumah-rumah makan Timur Tengah di Jakarta, di Kampung Glam kita akan mendapati masyarakat yang tengah mengisap shisha (pipa rokok beraroma Timur Tengah).

Komunitas Muslim di Singapura, termasuk keturunan Arab, menikmati gaya hidup urban yang modern sambil tetap menjalankan kewajiban agama. Islam dianut secara luas oleh setidaknya 14 persen dari populasi total penduduk Singapura atau hampir setengah juta jiwa. Di Singapura terdapat 59 masjid banyak diantaranya berdiri di pusat perdagangan yang dirawat secara bersih, dengan tempat wudhu dan toilet seperti di hotel berbintang. Diantara masjid-masjid tersebut dibangun oleh keturunan Arab, yang menurut salah seorang di antara mereka jumlahnya di Singapura sekitar 10 ribu jiwa.

Seperti juga di Indonesia, keturunan Arab di Singapura mulai berdatangan pada abad 18 dan 19. Raffles yang membangun Temasek menjadi Singapura mewujudkan keinginannya untuk mendatangkan pedagang Arab agar turut berkecimpung di bidang bisnis. Seperti juga di Indonesia, mayoritas pionir Arab yang datang ke Singapura berasal dari Hadramaut (Yaman Selatan).

Di Singapura banyak juga orang Arab Singapura yang berasal dari Indonesia, mengingat Raffles baru membangun kota singa ini pada tahun 1819 setelah berkuasa di Indonesia, terutama dari Jawa dan Sumatera. Diantara mereka yang terkenal adalah kelompok Aljunaid, Alsagoff dan Alkaff.

Ketiga klan itu merupakan pedagang kaya raya di Singapura, memiliki tanah luas dan perumahan di banyak tempat. Dalam usaha dagang mereka sampai hampir ke seluruh Nusantara. Imperium Alsagoff bahkan memiliki armada kapal sendiri (1871). Pada 1874, mereka telah memiliki empat buah kapal uap, untuk mengangkut 3.476 jamaah haji dari seluruh kepulauan Indonesia dan semenanjung Malaysia.

Kala itu di Singapura ada banyak perwakilan syikh dari Mekkah. Malah beberapa haji yang tidak bisa pulang ke Indonesia karena kehabisan biaya, oleh Alsagoff dipekerjakan di perkebunan mereka di Pulau Kukup. Alsagoff juga mempunyai rumah mewah yang diberi nama Constantinopel Estate. Karena, salah seorang keluarga Sagoff, Syed Ahmad, merupakan konsul kehormatan Turki di Singapura.

Pemerintah Hindia Belanda pernah memprotes dan menuduhnya mengeksploitir orang-orang Indonesia yang tidak punya uang setelah melakukan rukun Islam kelima dan mempekerjakan mereka sebagai kuli kontrak. Salah seorang keluarga Alsagoff, Syed Ibrahim, pernah menjadi konsul Arab Saudi di Singapura. Mereka membangun Madrasah Alsagoff, yang sampai kini masih berdiri di Singapura.

Salah satu keluarga Alsagoff lainnya, Syed Ahmad bin Muhammad, kawin dengan putri bangsawan Bugis yang kaya raya, Hajjah Fatimah. Mereka dikarunia putra bernama Muhammad yang dipanggil Nungcik. Di Kampung Glam terdapat masjid Hajjah Fatimah yang dibangun wanita keturunan Bugis itu. Pamor keturunan Arab ketika itu adalah rumah dan tanah di sepanjang Arab Street kepunyaan Syarifah Badriah, putri paling tua Syed Muhammad Alsagoff.

Di Singapura, imperium Alkaff juga mempunyai nama terhormat. Begitu juga di Jakarta. Di Kampung Kwitang, Jakarta Pusat, tepatnya di Jl Kwitang 21, di antara deretan toko buku Gunung Agung terdapat sebuah rumah besar yang sampai awal 1960-an masih ditempati keluarga Alkaff. Keluarga ini mempunyai puluhan, bahkan ratusan rumah sewa, di Kampung Kwitang. Di Singapura, Alkaff juga memiliki tanah dan rumah mewah, yang kini berubah fungsi menjadi tempat rekreasi, restoran dan pertamanan.

Pionir pertama keluarga Alkaff yang datang ke Singapura adalah Muhammad bin Abdurahman Alkaff dari Jawa. Setelah meninggal dunia, adiknya, Shaikh Alkaff, mengambil alih usahanya. Mereka bukan hanya memiliki tanah dan perumahan di Jakarta dan Singapura, tapi juga di Hadramaut. Tanah-tanah Alkaff yang luas di Singapura itu dibeli paksa oleh PM Lee Kuan Yew dengan harga sangat murah.

Sedangkan kediaman Alkaff yang mewah untuk ukuran kala itu diambil alih oleh ABRI pada saat terjadi konfrontasi RI dengan Malaysia. Karena, keluarga ini warga Singapura yang kala itu masih menjadi bagian dari Malaysia. Seperti juga keluarga Aljunaid dan Alsagoff, keluarga Alkaff juga membangun Masjid Alkaff di Kampung Melayu.

Di samping madrasah Alsagoff, di Singapura juga terdapat Madrasah Aljunaid yang merupakan salah satu kebanggaan umat Islam di Singapura. Madrasah ini berdekatan dengan kawasan Muslim Kampung Glam. Lulusan madrasah ini banyak yang ditampung di Universitas Al-Azhar, Kairo. Madrasah ini memiliki 1.200 murid dari TK sampai SLTA. Di madrasah ini pemerintah Singapura yang sekuler mengizinkan para siswinya untuk berjilbab, dan prianya berkopiah hitam.

Setidaknya, Madrasah Aljunaid merupakan salah satu peninggalan ketika keturunan Arab masih menunjukkan pamornya di Singapura. Setelah perang dunia II (1942-1945) kejayaan bisnis dan ekonomi keturunan Arab dan juga India Muslim menurun di Singapura. Tapi tempat peribadatan dan pendidikan Islam masih tetap bertahan di tengah modernisasi Singapura yang sekuler.

REPUBLIKA – Ahad, 11 November 2007

Inilah bangunan lama yang terdiri atas kantor, toko, dan gudang yang masih dapat kita jumpai di sepanjang Kali Besar, Jakarta Barat. Dalam bahasa Belanda, bangunan itu disebut de Groote Rivier . Bangunan ini dilestarikan oleh Pemda DKI Jakarta yang tengah bersemangat meningkatkan arus wisatawan asing ke Jakarta. Sebelumnya, daerah yang pada abad ke-17 sampai 19 merupakan pusat kota Batavia Centrum ini menjadi tempat hunian warga Belanda. Di kawasan ini, mereka tinggal di tepi Ciliwung yang kala itu masih dapat dilayari kapal-kapal dagang.

Pada akhir abad ke-18 (1799), VOC atawa kompeni tamat riwayatnya akibat korupsi besar-besaran. VOC kemudian digantikan NHM (Nederlandse Handels Maatchappij). Perubahan dari pemerintahan kompeni ke pemerintahan kolonial sekonyong meningkatkan imigrasi spontan dari negeri Belanda. Banyak di antara mereka adalah pemilik modal yang membuka orderneming di pegunungan dan daerah perkebunan. Sebagai kantor pusatnya, mereka membuka kantor dan gedung di Kali Besar seperti yang terlihat dalam deretan foto ini.

Di antara gedung-gedung itu adalah Jacobson Van den Berg, Chatered Bank, dan Exim Bank. Mereka membangunnya pada abad ke-19 seperti terlihat dalam foto. Warga Eropa yang semula tinggal di Kali Besar kala itu sudah hengkang ke selatan yang mereka namakan Weltevreden yang lebih sehat dan sejuk udaranya, begitu bergairahnya para imigran Eropa datang ke Batavia. Kota yang pada awal abad ke-20 berpenduduk setengah juta jiwa, 50 ribu di antaranya warga Eropa dan 200 ribu orang Indonesia serta mencapai puncak kekuasaan politik dan kemakmuran ekonominya.

Selama perang dunia pertama, Batavia mengekspor bahan-bahan mentah yang sangat menguntungkan. Di zaman malaise (resesi ekonomi) tahun 1929-1933, ketika nilai ekspor menurun menjadi separuh, batas keuntungan masih demikian luasnya sehingga mereka yang berada dan kaya tidak mengalami kekurangan apa-apa.

Sebelumnya, ketika Pelabuhan Tanjung Priok dibuka (1883) menggantikan Pelabuhan Sunda Kelapa yang telah dangkal, banyak pemilik gedung di Kali Besar khawatir tempat usahanya akan merosot tersaingi Tanjung Priok. Tapi, dengan dibangunnya jalan kereta api dan Tanjung Priok kala itu merupakan daerah endemik malaria, kekhawatiran itu tidak terjadi. Hingga saat ini, Kali Besar dan sekitarnya hingga kawasan perdagangan Glodok masih ramai didatangi para pengunjung yang datang, bukan hanya dari Jakarta, tapi juga berbagai daerah di nusantara. Mereka membeli barang-barang yang banyak dijual secara grosir.

REPUBLIKA – Sabtu, 26 September 2009